December 12, 2012

Penguatan Insfrastruktur Iptek untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Peran teknologi dan inovasi memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB). Pada tren pertumbuhan ekonomi negara-negara maju dapat dilihat hubungan bahwa semakin tinggi teknologi yang diterapkan maka semakin besar kontribusi sektor tersebut terhadap PDB. Sementara di Indonesia, kontribusi teknologi dan inovasi dalam proses produksi belum menggembirakan karena pertumbuhan masih cenderung bersandar pada eksploitasi sumber  daya alam mengandalkan faktor produksi konvesional land (tanah), labor (tenaga kerja) dan capital (modal). Untuk mengatasi rendahnya kontribusi teknologi dan inovasi tersebut, maka diperlukan penguatan infrastruktur kelembagaan dan jaringan iptek   sebagai dasar penyusunan agenda penelitian dan perekayasaan.

Hal itu dikemukakan Menristek, Gusti Muhammad Hatta saat memberikan pengarahan di depan peserta Dialog Nasional “Penguatan Infrastruktur Riset dan Pengembangan untuk Menunjang Kualitas dan Kemandirian Pertumbuhan Ekonomi Nasional” yang diselenggarakan di Auditorium BPPT, pada Rabu 12 Desember 2012. Acara tersebut merupakan rangkaian Sidang Paripurna III Dewan Riset Nasional (DRN) tahun 2012.              

Pada kesempatan tersebut, Menristek juga mengemukakan permasalahan yang tidak kalah penting dalam proses pembangunan Iptek adalah lemahnya infrastruktur keuangan penelitian dan perekayasaan. Menurut Menristek, perlu dilakukan terobosan untuk memperkuat infrastruktur keuangan dua sektor tersebut. “Dibidang infrastruktur keuangan penelitian lebih ditujukan untuk peningkatan nilai tambah pada proses penerapan dan pengembangan iptek sistem produksi. Sedangkan dibidang infrastruktur keuangan perekayasaan lebih ditujukan untuk peningkatan nilai tambah dalam rangka oprimalisasi serta efisiensi pada proses produksi”, ujar Menristek.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Armida S. Alisjahbana yang hadir sebagai keynote speaker pada dialog tersebut menyampaikan bahwa empat pilar Knowlege-based Economy yaitu pendidikan, infrastruktur, sistem inovasi nasional dan kebijakan ekonomi belum terintegrasi di Indonesia. Oleh karena itu, menurut Armida, untuk mempercepat pembangunan Iptek, maka keempat pilar ini harus tersinergi. “Bappenas bersama Kemenristek dan juga KIN akan berupaya mengintegrasikan keempat pilar ini”, ujar Armida.

Selain Kepala Bappenas, turut tampil sebagai pembicara Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim. Peserta yang hadir merupakan para anggota DRN, DRD, Badan Litbang Kementerian, Perguruan Tinggi, serta para peneliti dan perekayasa.  (munawir)

December 10, 2012

1001 Manfaat Nuklir

Pemanfaatan teknologi nuklir tidak hanya terbatas untuk pembangkit listrik yang saat ini sudah digunakan lebih dari 30 negara di dunia. Namun nuklir juga bermanafaat untuk bidang lain misalnya kesehatan dan pangan. Dalam bidang kesehatan, radiasi dan zat radioaktif dapat digunakan untuk tujuan dan terapi suatu penyakit. Sedangkan dalam bidang pangan, radiasi nuklir dapat digunakan untuk mengetahui komposisi zat yang dibutuhkan oleh suatu tanaman. Bahkan dengan teknik mutasi, radiasi dapat digunakan untuk memperbaiki sifat tanaman, misalnya tingkat produktivitas, daya tumbuh, ketahanan hama dan penyakit, serta umur tanaman sehingga diperoleh varietas tanaman yang bersifat unggul.

Hal itu dijelaskan Hotmatua Daulay, Asdep Jaringan Iptek Pusat dan Daerah Kementerian Ristek, di depan para guru IPA tingkat SMP, SMA, SMK dan sederajat se-Balikpapan yang hadir pada kegiatan Sosialisasi Pengembangan  dan Pemanfaatan Iptek Nuklir untuk Kesejahteraan. Kegiatan yang diselenggarakan pada Senin,10 Desember 2012 di Hotel Le Grandeur Balikpapan tersebut terlaksana atas kerjasama Kementerian Ristek dengan Dinas Pendidikan Kota Balikpapan. Pada akhir sambutannya, Hotmatua memberikan contoh pemanfaatan nuklir sehari-hari di bidang pangan. "Buah-buahan yang kita konsumsi, ada yang telah melalui proses radiasi gamma yg membunuh mikroba sehingga buah-buahan tersebut lebih awet", ujar Hotmatua.

Totok Ismawanto, Kepala Seksi Kurikulum yg mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kota Balikpapan dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat memberikan wawasan pemanfaatan iptek nuklir, termasuk PLTN, sehingga peserta dapat mendesiminasikan wawasan dan pengalaman tersebut lebih lanjut kepada anak didik, para guru yang lain dan juga masyarakat umum. Hal ini bermuara pada upaya peningkatan mutu pendidikan di kota Balikpapan dalam bidang akademis maupun non akademis.   "Jika pengalaman dalam kegiatan ini dapat diaplikasikan dalam membimbing penyusunan karya ilmiah para siswa, tentu nilai positif dalam kegiatan ini akan semakin nyata", ujar Totok.

Para peserta mendapatkan pemaparan yang menarik  tentang teknologi nuklir dan aplikasinya dari Dimas Irawan, komunikator nuklir dari Pusat Diseminasi Iptek Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Sedangkan Suparman dari Pusat Pengembangan Energi Nuklir BATAN memaparkan tentang manfaat aplikasi teknologi nuklir untuk menjawab kebutuhan energi dunia.(munawir)

September 6, 2012

Ikut Diklatpim IV

Setelah beberapa kali mengelak dengan alasan banyak kerjaan dan kuliah, kali ini saya ga bisa nolak lagi panggilan untuk mengikuti Diklatpim IV di Pusbangtendik Cinangka, Depok. Diklat ini akan saya jalani selama kurang lebih 40 hari, mulai 3 September sampai tanggal 14 Oktober nanti. Akibatnya, Uqi, Lana dan Umminya harus kembali 'mengungsi' ke Makassar dan akan saya jemput kembali pasca Diklat ini.

Ga enaknya, hari pertama diklat bertepatan dengan hari pertama kuliah Semester 3 di Pasca Sarjana UI. Mau ngga mau selama diklat harus pinter bagi-bagi waktu antara diklat dan kuliah. Kalau tidak ada materi diklat di malam hari, saya diizinkan untuk pergi kuliah. Tentu saja harus menempuh perjalanan jauh dari Cinangka sampai Cikini.

Tapi ga nyesel juga sih ikut diklatpim sekarang, ternyata ada hikmahnya. Diklatpim angkatanku yg terakhir mengadopsi kurikulum lama yg disusun tahun 2001 silam. Tahun depan diklatpim akan menggunakan kurikulum baru yg denger-denger sih metodenya lebih berat dan durasinya jauh lebih lama. Alhamdulilllah lagi, dapat teman sekelas yg rame dan lucu-lucu. Peserta diklat tidak didominasi peserta dari Pulau Jawa saja, namun cukup komplit mulai dari Aceh, Medan, Riau, Palembang, Banjarmasin, Palangkaraya, Makassar, Denpasar, Ambon, Kupang bahkan Jayapura. Tidak hanya itu, beberapa "tokoh nasional" juga ada di kelas ini. Ada pak Sutarlan dari ISI Jogjakarta mirip pak SBY, ada pak Andi Ikhsan dari UNM Makassar yg mirip pak Andi Mallarangeng dan ada pak Man dari Undana Kupang yg mirip pak Timur Pradopo. Rata-rata teman sekelas jauh lebih senior dibanding saya, tp mungkin mereka ga nyadar kalau saya yg paling muda di kelas dan masih berusia di bawah 30 tahun.

Bisa dibilang semua aktivitas selama diklat sudah terjadwal dengan ketat. Mulai dari Senam Pagi jam 5.30, jadwal makan, jadwal sholat, dan jadwal materi. Karena hidup teratur disini, saya niatkan selama diklat pengen nurunin berat badan, setidaknya turun ke 75 KG. lebih rendah dari itu lebih bagus. Mudah-mudahan dengan olahraga senam aerobik rutin tiap pagi dan makan yg lebih teratur asupan nutrisinya, dietku akan berhasil. Aamiin.

August 14, 2012

Sambutan Bapak BJ Habibie pada Peringatan Hakteknas 17

Presidential - Innovation Lecture
Bacharudin Jusuf Habibie
Pada Acara
HARI KEBANGKITAN TEKNOLOGI NASIONAL 2012
Bandung, 10 Agustus 2012

Reaktualisasi Peran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
dalam Membangun Kemandirian Bangsa


Ysh. Gubernur/Kepala Daerah Propinsi Jawa Barat,
Ysh. Para Pejabat Kementerian Riset Dan Teknologi,
Ysh. Muspida dan Pejabat tingkat Propinsi Jawa Barat,
Bapak‐bapak dan Ibu‐ibu para peneliti, penggiat dan pemerhati Iptek
yang saya cintai,
Hadirin yang terhormat,
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua.


HAKTEKNAS DAN N‐250
Hari ini tanggal 10 Agustus 2012, 17 tahun lalu, tepatnya 10 Agustus 1995, dalam rangka peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia, bangsa kita telah menggoreskan pena sejarahnya dengan terbang perdana pesawat terbang canggih N‐250. Pesawat turboprop tercanggih ‐‐ hasil disain dan rancang bangun putra‐putri bangsa sendiri ‐‐ mengudara di atas kota Bandung dalam cuaca yang amat cerah, seolah melambangkan cerahnya masa depan bangsa karena telah mampu menunjukkan kepada dunia kemampuannya dalam penguasaan sain dan teknologi secanggih apapun oleh generasi penerus bangsa.

Bandung memang mempunyai arti dan peran yang khusus bagi bangsa Indonesia. Bukan saja sebagai kota pendidikan, kota pariwisata atau kota perjuangan, namun Bandung juga kota yang menampung dan membina pusat‐pusat keunggulan Iptek, sebagai penggerak utama proses nilai tambah industri yang memanfaatkan teknologi tinggi (high tech).

Kita mengenang peristiwa terbang perdana pesawat N250 itu sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS), yang dalam pandangan saya merupakan salah satu dari lima “Tonggak Sejarah” bangsa Indonesia, yaitu:

Pertama : Berdirinya Budi Utomo, 20 Mei 1908 (Hari Kebangkitan Nasional – 20 Mei);
Kedua : Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 (Hari Sumpah Pemuda – 28 Oktober);
Ketiga : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 (Hari Proklamasi Kemerdekaan ‐ 17 Agustus);
Keempat : Terbang perdananya pesawat paling canggih Turboprop N250 (Hari Kebangkitan Teknologi Nasional – 10 Agustus);
Kelima : Diperolehnya “Kebebasan”, dengan dimulainya kebangkitan demokrasi pada tanggal 21 Mei 1998.

Pada tahun 1985, sepuluh tahun sebelum terbang perdananya, telah dimulai riset dan pengembangan pesawat N250. Semua hasil penelitian dari pusat‐pusat keunggulan penelitian di Eropa dan Amerika Utara dalam bidang ilmu dirgantara, ilmu aerodinamik, ilmu aeroelastik, ilmu konstruksi ringan, ilmu rekayasa, ilmu propulsi, ilmu elektronik, ilmu avionik, ilmu produksi, ilmu pengendalian mutu (quality control) dsb, telah dikembangkan dan diterapkan di industri IPTN, di Puspitek, di BPPT dan di ITB.

Dengan terbangnya N250 pada kecepatan tinggi dalam daerah “subsonik” dan stabiltas terbang dikendalikan secara elektronik dengan memanfaatkan teknologi “fly by wire”, adalah prestasi nyata bangsa Indonesia dalam teknologi dirgantara. Dalam sejarah dunia penerbangan sipil, pesawat N250 adalah pesawat turboprop yang pertama dikendalikan dengan teknologi fly by wire.

Dalam sejarah dunia dirgantara sipil, pesawat Jet AIRBUS A300 adalah yang pertama kali menggunakan teknologi fly by wire, namun AIRBUS 300 ini terbang dalam daerah “transsonic” dengan kecepatan tinggi, sebagaimana kemudian juga Boeing‐777. Fakta sejarah mencatat bahwa urutan pesawat penumpang sipil yang menerapkan teknologi canggih untuk pengendalian dan pengawasan terbang dengan “fly by wire” adalah sebagai berikut:

1. A‐300 hasil rekayasa dan produksi Airbus Industri (Eropa)
2. N‐250 hasil rekayasa dan produksi Industrie Pesawat Terbang Nusantara IPTN, sekarang bernama PT. Dirgantara Indonesia (Indonesia)
3. BOEING 777 hasil rekayasa dan produksi BOEING (USA)

Fakta sejarah dunia dirgantara juga mencatat bahwa 9 bulan sebelum N250 melaksanakan terbang perdananya, pada hari Rabu tanggal 7 December 1994 di Montreal Canada, kepada tokoh yang dianggap paling berjasa dalam industri dirgantara sipil dunia diberikan medali emas “Edward Warner Award ‐ 50 Tahun ICAO”. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka memperingati 50 tahun berdirinya
“International Civil Aviation Organisation atau ICAO”, yang didirikan pada hari Kamis tanggal 7 Desember 1944 di Chicago – USA oleh Edward Warner bersama beberapa tokoh industri dirgantara yang lain. ICAO didirikan dengan tujuan membina perkembangan Industri dirgantara sipil di dunia. Upacara penghargaan tersebut dihadiri oleh para Menteri Perhubungan Negara yang anggota Perserikatan Bangsa Bangsa.

Dalam upacara yang sangat meriah, khidmat dan mengesankan tersebut, Sekretaris Jenderal ICAO Philippe Rochat yang didampingi oleh Sekretaris Jenderal PBB Boutros Boutros‐Ghali, menyerahkan medali emas “Edward Warner Award 50 Tahun ICAO” oleh kepada putra indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Bukankah kedua Fakta Sejarah Dirgantara ini telah membuktikan bahwa kualitas SDM Indonesia sama dengan kualitas SDM di Amerika, Eropa, Jepang dan China?


Dengan peristiwa tersebut kita dapat membuktikan kepada generasi penerus Indonesia serta masyarakat dunia, bahwa bangsa Indonesiamemiliki kemampuan dan kualitas yang sama dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) secanggih apapun yang sekaligus dilengkapi dengan kokohnya iman dan taqwa (Imtaq). Peningkatan jumlah dan kualitas manusia Indonesia yang terdidik tersebut juga melahirkan kesadaran akan peran dan tanggung jawab mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di kalangan generasi muda.


Para hadirin yang berbahagia Bukan hanya Pesawat Terbang N250 yang dipersembahkan oleh Generasi Penerus sebagai hadiah Ulang Tahun Kemerdekaan ke‐50 kepada Bangsa Indonesia 17 tahun yang lalu, tetapi mereka juga menyerahkan Kapal untuk 500 Penumpang dan Kereta Api Cepat, yang semuanya dirancang bangun oleh Generasi Penerus. Hal yang sekarang patut kita tanyakan adalah:

  • Hadiah HUT Kemerdekaan ke 67 apa yang dapat kita persembahkan pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, 17 Tahun setelah prestasi yang membanggakan itu?
  • Bagaimana keadaan Industri Strategis yang telah menghasilkan produk andalan yang membanggakan 17 Tahun yang lalu?
  • Bagaimanakah keadaan industri Dirgantara dan Industri penunjangnya sekarang?
  • Bagaimana perkembangan pusat keunggulan Ilmu Aerodinamik, Gadynamik, Getaran (LAGG), Ilmu Konstruksi Ringan (LUK), Elektronik (LEN) dsb. yang telah dimulai puluhan tahun yang lalu?
  • Bagaimana keadaan pendidikan SDM yang mampu menguasai teknologi secanggih apapun?
  • Masih banyak pertanyaan yang patut kita berikan dan jawab!
Pertanyaan tersebut di atas dapat dijawab dengan mengkaji fakta dan kecenderungan sebagai berikut:

  • Produk pesawat terbang, produk kapal laut dan produk kerata api ‐‐ yang pernah kita rancang‐bangun ‐‐ dalam “eufori reformasi” telah kita hentikan pembinaannya atau bahkan sedang dalam “proses penutupan”. Misalnya PT. DI yang dahulu memiliki sekitar 16.000 karyawan, sekarang tinggal kurang‐lebih 3.000 karyawan, yang dalam 3 sampai 4 tahun mendatang dipensiun karena tidak ada kaderisasi dalam segala tingkat.
  • Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) yang mengkoordinir 10 Perusahaan yang pada tahun 1998 memiliki kinerja turn‐over sekitar 10 Milliard US$ dengan 48.000 orang karyawan, kemudian dalam “eufori reformasi” dibubarkan! Pembinaan Industri Dirgantara, Industri Kapal, Industri Kereta Api, Industri Mesin, Industri Elektronik‐Komunikasi dan Industri Senjata, dsb. tidak lagi mendapat perhatian dan pembinaan!
  • KEPPRES No. 1 tahun 1980 tentang ketentuan penggunaan produk pesawat buatan dalam negeri dihapus dan PTDI tidak lagi didukung secara finansial maupun kebijakan industri pendukung lain.
  • PTDI berupaya untuk tetap bertahan hidup (survive) dengan berkonsentrasi kepada penjualan produk yang ada a.l. CN235 dan pesawat lisensi NC212 dan helikopter.
  • Di lain pihak, biaya pengembangan pesawat – termasuk pendidikan SDM terampil ‐‐ dianggap hutang kepada Pemerintah, yang mengakibatkan pembukuan PTDI buruk di mata perbankan sehingga menyulitkan industri untuk dapat beroperasi dan tidak memungkinkan industri berinvestasi.
  • PTDI melakukan diversifikasi usaha di berbagai bidang a.l., jasa aerostructure, engineering service dan maintenance‐repair‐overhaul dan tidak lagi menitikberatkan pada rancang bangun dan produksi.
  • Dengan terpuruknya program pengembangan dalam negeri, banyak design engineers yang memilih pergi ke luar negeri (a.l. Amerika, Eropa) untuk bekerja di industri pesawat terbang lain. Sebagian besar dalam beberapa tahun pulang, setelah negara setempat mendahulukan pekerja lokal dibandingkan dengan pekerja asing (kasus: Embraer).
  • Dengan berjalannya waktu, tanpa program pengembangan, PTDI tidak dapat melakukan pergantian/regenerasi karyawan engineering, yang pada gilirannya mengancam kapabilitas dan kompetensi PTDI sebagai produsen pesawat.
  • Apa yang dialami oleh PT. Dirgantara, dialami pula oleh semua perusahaan yang dahulu dikoordinir oleh Badan Pengelolah Industri Strategis, BPIS.
  • Segala investasi yang dilaksanakan pada perkembangan dan pendidikan SDM yang trampil tanpa kita sadari telah “dihancurkan” secara sistimatik dan statusnya kembali seperti kemampuan bangsa Indonesia 60 tahun yang lalu!
  • Prasarana dan sarana pengembangan SDM di Industri, di PUSPITEK, di Perguruan Tinggi (ITB, ITS, UI, UGM, dsb.) serta di pusat‐pusat keunggulan yang dikoordinasikan oleh Menteri Riset dan Teknologi dialihkan ke bidang lain atau dihentikan, sehingga teknologi ‐‐ untuk meningkatkan “nilai tambah” suatu produk secanggih apapun ‐‐ yang dibutuhkan oleh pasar domestik dikurangi dan bahkan dihentikan pembinaannya dan diserahkan kepada karya SDM bangsa lain dengan membuka pintu selebar‐lebarnya untuk impor!
  • Pasar Domestik yang begitu besar di bidang transportasi, komunikasi, kesehatan dsb. “diserahkan” kepada produk dimpor yang mengandung jutaan “jam kerja” untuk penelitian, pengembangan dan produksi produk yang kita butuhkan.
  • Produk yang dibutuhkan itu harus kita biayai dengan pendapatan hasil ekspor sumber daya alam terbaharukan dan tidak terbaharukan, energi, agro industri, pariwisata, dsb. Ternyata potensi ekspor kita ini tidak dapat menyediakan jam kerja yang dibutuhkan sehingga SDM di desa harus ke kota untuk mencari lapangan kerja atau ke luar negeri sebagai TKI dan TKW. Akibatnya, proses pembudayaan dalam rumah tangga terganggu dsb. dsb. Proses pembudayaan (“Opvoeding, Erszeihung, Upbringing”) harus disempurnakan dengan proses pendidikan dan sebaliknya, karena hanya dengan demikian sajalah produktivitas SDM dapat terus ditingkatkan melalui pendidikan dan pembudayaan sesuai kebutuhan pasar.
  • Pertumbuhan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi seharusnya dipelihara setinggi mungkin untuk dapat meningkatan “pendapatan bruto masyarakat” atau peningkatan “kekayaan national” atau “national wealth”. Namun pemerataan pemberian kesempatan berkembang, pemerataan pendidikan‐pembudaaan dan pemerataan pendapatanlah yang pada akhirnya menentukan kualitas kehidupan, kualitas kesejahteraan dan kualitas ketentraman yang menjadi sasaran tiap masyarakat.
  • Bukankah jam kerja yang terselubung pada tiap produk yang kita beli itu pada akhirnya menentukan tersedianya lapangan kerja atau mekanisme proses pemerataan dalam arti yang luas itu?
  • Kita harus pandai memproduksi barang apa saja yang dibutuhkan di pasar nasional dan memberi insentip kepada siapa saja, yang memproduksi di dalam negeri, menyediakan jam kerja dan akhirnya lapangan kerja.
  • Potensi pasar nasional domestik kita sangat besar. Misalnya, pertumbuhan penumpang pesawat terbang sejak 10 tahun meningkat sangat tinggi, sekitar 10% ‐ 20% rata2 tiap tahun. Produksi pesawat terbang turboprop N250 untuk 70 penumpang ‐‐ yang sesuai rencana pada tahun 2000 sudah mendapat sertifikasi FAA ‐‐ dan Pesawat Jet N2130 untuk 130 penumpang – yang sesuai rencana akan mendapat sertfikasi FAA pada tahun 2004 – adalah jawaban kita untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kedua produk yang dirancang bangun oleh putra‐putri generasi penerus ini yang mengandung jutaan jam kerja, bahkan harus dihentikan.
MENGAPA? ? ?

  • Demikian pula dengan produksi kapal Caraka Jaya, Palwobuwono dan kapal Container yang harus dihentikan. Produksi kerata api harus pula dihentikan.
  • Walaupun pasar domestik nasional begitu besar, namun sepeda motor, telpon genggam dsb. ‐‐ yang semuanya mengandung jam kerja yang sangat dibutuhkan ‐‐ nyatanya barang‐barang tersebut tidak diproduksi di dalam negeri. 
MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA?

  • Memang kesejahteraan meningkat, golongan menegah meningkat dan pertumbuhan meningkat pula, namun proses pemerataan belum berjalan sesuai kebutuhan dan kemampuan kita.
  • Ini hanya mungkin jikalau jam kerja yang terkandung dalam semua produk yang dibutuhkan itu secara nyata diberikan kepada masyarakat madani Indonesia. Oleh karena itu pada kesempatan untuk berbicara di hadapan para peserta Sidang Paripurna MPR tanggal 1 Juni Tahun 2011, saya garis bawahi pentingnya kita menjadikan NERACA JAM KERJA sebagai Indikator Makro Ekonomi disamping NERACA PERDAGANGAN dan NERACA PEMBAYARAN.

Para hadirin yang berbahagia

Pada peringaran HAKTEKNAS tahun 2012 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi peran Iptek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka meningkatkan daya saing dan produktivitas nasional, serta untuk menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, dan hal tersebut akan mensyaratkan solusi yang tepat, terencana dan terarah.

Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk‐produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus "membeli jam kerja" bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo‐colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu "VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru". (Hal tersebut telah saya sampaikan pada Pidato Peringatan Kelahiran Pancasila di hadapan Sidang Pleno MPR RI tanggal 1 Juni 2011 yang lalu).

Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus kampus serta di lembaga‐lembaga kajian dan penelitian lain untuk secara serius merumuskan implementasi peran iptek dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan.

Terkait dengan hal tersebut, saya sangat menghargai upaya Pemerintah dalam membentuk Komite Inovasi Nasional (yang dikenal dengan KIN) dan Komite Ekonomi Nasional (yang dikenal dengan KEN) dengan tugas sebagai advisory council untuk mendorong inovasi di segala bidang dan mempercepat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Saya mengetahui bahwa KIN maupun KEN telah merumuskan berbagai strategi dan kebijakan dan agenda aksi, khususnya yang menyangkut perbaikan ekosistem inovasi dan pengembangan wahana transformasi industri. Apa yang ingin saya ingatkan ialah, jangan sampai berbagai konsep yang dirumuskan oleh KIN maupun KEN tersebut hanya berhenti ditingkat masukan kepada Presiden saja, ataupun di tingkat rencana pembangunan saja, namun perlu direalisasikan dalam kegiatan pembangunan nyata. Jangan kita merasa puas dengan wacana maupun berencana, namun ketahuilah bahwa rakyat menunggu aksi nyata dari kita semua, baik para penggiat teknologi, penggiat ekonomi, pemerintah maupun lembaga legislatif.

Saya juga menyarankan agar Pemerintah maupun Legislatif perlu lebih proaktip peduli dan bersungguh‐sungguh dalam pemanfaatan produk dalam negeri dan “perebutan jam kerja”. Kerjasama Pemerintah Daerah
dan Pusat bersama dengan wakil rakyat di lembaga Legeslatif Daerah dan Pusat perlu ditingkatkan konvergensinya ke arah lebih pro rakyat, lebih pro pertumbuhan dan lebih pro pemerataan.

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan pesan dan himbauan, hendaknya kita pandai‐pandai belajar dari sejarah. Janganlah kita berpendapat bahwa tiap pergantian kepemimpinan harus dengan serta‐merta disertai pergantian kebijakan, khususnya yang terkait dengan program penguasaan dan pernerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita mengetahui bahwa dalam penguasaan, pengembangan dan penerapan teknologi diperlukan keberlanjutan (continuity). Jangan sampai pengalaman pahit yang menimpa industri dirgantara dan industri strategis pada umumnya ‐‐ sebagaimana saya sampaikan di atas ‐‐ terulang lagi di masa depan! Jangan sampai karena eufori reformasi atau karena pertimbangan politis sesaat kita tega “menghabisi” karya nyata anak bangsa yang dengan penuh ketekunan dan semangat patriotisme tinggi yang didedikasikan bagi kejayaan masa depan Indonesia.

Para hadirin yang berbahagia

Kita dapat bersyukur bahwa bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang multi etnik dan sangat peka terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhana wata’alla. Oleh karena itu PANCASILA adalah falsafah hidup nyata bangsa ini yang dari masa ke masa selalu disesuaikan dengan kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dan peradaban yang dikembangkan dan diterapkan oleh kita bersama.

 Dapat kita catat, bahwa saat ini bangsa kita sudah keluar dari “eufori kebebasan” dan mulai kembali ke “kehidupan nyata” antara bangsabangsa dalam era globalisasi. Persaingan menjadi lebih ketat dan berat. Peran SDM lebih menentukan dan informasi sangat cepat mengalir. Kita menyadari bahwa tidak semua informasi menguntungkan peningkatan produktivitas dan daya saing SDM Indonesia. Budaya masyarakat lain dapat memasuki ruang hidup keluarga. Kita harus meningkatkan “Ketahanan Budaya” sendiri untuk mengamankan kualitas iman dan taqwa (Imtak) yang melengkapi pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang diberikan dalam sistem pendidikan dan pembudayaan kita, yang menentukan perilaku, produktivitas dan daya saing Generasi Penerus.

Kita sudah Merdeka 67 Tahun, sudah Melek Teknologi 17 Tahun, sudah Bebas 14 Tahun. Kita sadar akan keunggulan masyarakat madani yang pluralistik, sadar akan kekuatan lembaga penegak hukum (Yudikatif) dan informasi yang mengacu pada nilai‐nilai PANCASILA dan UUD‐45 yang terus disesuaikan dengan perkembangan pembangunan nasional, regional dan global.

Saya akhiri sambutan ini dengan ucapan:

  • REBUT KEMBALI JAM KERJA!
  • WUJUDKAN KEMBALI KARYA NYATA YANG PERNAH KITA MILIKI UNTUK PEMBANGUNAN PERADABAN INDONESIA!
  • BANGKITLAH, SADARLAH ATAS KEMAMPUANMU!


Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh
Bandung, 10 Augustus 2012

Bacharuddin Jusuf Habibie

versi PDF dapat diunduh di SINI

July 16, 2012

Menjawab Tantangan Pasar Domestik dengan Teknologi

Dalam masterplan Percepatan Perluasan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), terdapat 22 kegiatan ekonomi utama yang tersebar di seluruh nusantara dan merupakan potensi perekonomian nasional. Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi akan memberikan dukungan terhadap upaya pengelolaan 22 kegiatan ekonomi utama tersebut yang masih dominan berorientasi pada potensi sumber daya alam Indonesia. Diharapkan upaya ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku dan komponen impor.  Hal tersebut untuk menjawab salah satu tantangan teknologi yang harus berorientasi domestik.

Hal tersebut dikemukakan Deputi Menristek Bidang Kelembagaan Iptek, Benyamin Lakitan yang mewakili Menristek saat menyampaikan keynote speech pada Dialog Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Riset Nasional (DRN) dengan tema “Mainstreaming Iptek dalam Pembangunan Nasional” pada Senin, 16 Juli 2012 di auditorium BPPT. Lebih lanjut Benyamin Lakitan menyampaikan bahwa teknologi yang berorientasi domestik bukan hanya memaksimalkan upaya memanfaatkan sumber daya domestik, namun disisi lain juga adalah upaya pemenuhan atau permintaan pasar domestik dengan menggunakan pendekatatan demand-driven. “Ukuran pasar dan daya serap Indonesia sangat besar dan cenderung meningkat. Namun kapasitas pasar domestik tersebut saat ini belum menjadi sasaran utama bagi pengembangan teknologi yang harusnya sesuai dengan kebutuhan ekonomi dan menguasai pasar domestik”, ujar Benyamin.

Dialog nasional ini diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi tentang penguatan jaringan antara penyedia dengan pengguna teknologi, khususnya dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selama ini hasil penelitian, pengembangan dan rekayasa (litbangyasa) belum banyak dimanfaatkan oleh BUMN, padahal perusahaan BUMN dapat dijadikan sebagai “captive market” bagi produk-produk teknologi yang dihasilkan oleh lembaga litbang dan perguruan tinggi. Menurut Menteri BUMN, Dahlan Iskan yang turut hadir sebagai pembicara pada dialog tersebut, upaya mempererat linkage antara lembaga litbang dan BUMN sudah digalakkan misalnya pada bidang pangan. Menurut Dahlan Iskan, permintaan akan tepung terigu kian meningkat sementara gandum terus diimpor, sehingga Dahlan Iskan telah menginstruksikan kepada BUMN agar akhir tahun ini menanam lima belas ribu hektar tanaman sorgum dan harus terus meningkat supaya konsumsi terhadap tepung terigu impor bisa menurun. “Hasil riset sorgum dari para ahli kita sangat luar biasa. Kalau kita bisa memproduksi sorgum dua juta ton dalam setahun, sudah mengurangi 30 persen ketergantungan impor pada tepung terigu. Kita bisa menghemat banyak”, ujar Dahlan Iskan.

Dialog Nasional tersebut diselenggarakan dalam rangka Sidang Paripurna Dewan Riset Nasional II Tahun 2012. Selain dihadiri oleh 55 anggota DRN, dialog tersebut juga dihadiri oleh 200 peserta dari Dewan Riset Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota, Kabalitbang Kementerian, Kabalitbangda, Perguruan Tinggi, BUMN, pelaku usaha, dan para pejabat di lingkungan Kementerian Ristek, LPNK dan Kementerian terkait lainnya. (munawir)

July 5, 2012

Sinergi Menegristek dan Mendagri dalam Memperkuat SIDa

Kementerian Riset dan Teknologi adalah salah satu kementerian yang bertugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang riset, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam menjalankan tugas ini ditetapkan Visi pembangunan Iptek 2009 – 2014 yakni “Iptek Untuk Kesejahteraan dan Kemajuan Peradaban“. Dimana kemajuan Iptek nasional diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing produk industri, membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan profesionalisme individu, menyelesaikan permasalahan lingkungan dan akhirnya memajukan perekonomian bangsa. Untuk mencapai amanat itu, dua program utama Ristek adalah Penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas) dan Sistem Inovasi Daerah (SIDa).

Penguatan SIDa diharapkan dapat memfasilitasi dan menstimulasi pemerintah daerah agar mampu menumbuhkan sumber daya Iptek secara efektif dan efisien, serta mengembangkan sinerginya dengan faktor pasar, perkembangan sektor produksi, serta perkembangan iklim usaha yang kompetitif di daerahnya masing-masing, sehingga kemampuannya untuk melaksanakan proses pertambahan nilai dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan, sesuai dengan potensi dan karakteristiknya masing-masing. Melalui kebijakan penguatan sistem inovasi nasional, pemerintah pusat perlu menjamin agar setiap daerah memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses elemen-elemen kemampuan Iptek nasional bagi keperluan membangun daerahnya, meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta membentuk keunggulan untuk meningkatkan perdagangan dengan daerah-daerah lain, dan mempenetrasi pasar internasional.

Hal tersebut dikemukakan Menegristek, Gusti Muhammad Hatta pada jumpa pers yang menutup rangkaian penyelenggaraan Rakornas Penelitian dan Pengembangan Pemerintahan Dalam Negeri Tahun 2012, yang diselenggarakan di Hotel Clarion Makassar pada taggal 3-5 Juli 2012. Rakornas tahun ini mengangkat tema Pemantapan Kebijakan Dalam Penguatan Program Kelitbangan Untuk Meningkatkan Kualitas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Rakornas tersebut dihadiri sekitar 250 peserta dari Balitbangda dan Bappeda seluruh Indonesia.

Menegristek menambahkan bahwa pada tanggal 25 April 2012, Menegristek dan Mendagri telah menandatangani Peraturan Bersama tentang Penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) yang bertujuan untuk mengatur kebijakan penguatan, penataan unsur dan pengembangan SIDa secara terkoordinasi, agar dapat menjadi sebuah instrumen untuk memperkuat peran Iptek dalam sistem inovasi di daerah, yang merupakan pilar penting untuk membangun Sistem Inovasi Nasional (SINas) yang tangguh. “Peraturan Bersama tersebut juga mempertegas hubungan fungsional langsung antara Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BPPD) dengan Kementerian Riset dan Teknologi, sedangkan hubungan organisasi dan kelembagaan  Balitbangda dengan Kementerian Dalam Negeri”, Ujar Menegristek.

Sementara itu Mendagri, Gamawan Fauzi dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekjen Kementerian Dalam Negeri, Diah Anggraeni saat membuka Rakornas menyampaikan bahwa dengan adanya peraturan bersama ini maka pemerintah daerah harus membangun arah kebijakan pembangunan berbasis litbang."Kelembagaan Litbang perlu direvitalisasi dan direposisi. Kerjasama antara birokrasi dengan stakeholder perlu ditingkatkan agar hasil litbang dapat lebih optimal", ujar Sekjen Kemendagri.

Pada jumpa pers tersebut, Menegristek didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri, Muhammad Marwan; Kepala Balitbangda Sulsel, Idrus Hafied;  Deputi Menristek Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, Teguh Rahardjo dan Staf Khusus Menristek bidang Media dan Daerah, Gusti Nurpansyah. Pada kesempatan tersebut, Menristek juga melepas rombongan peserta Rakornas yang akan melakukan field trip ke Malino. (munawir)

Menegristek Perkenalkan Mobil Listrik ke Fajar Group

Di sela-sela kunjungan kerjanya ke Makassar, Menristek Gusti Muhammad Hatta berkunjung ke Fajar Media Group di Gedung Graha Pena Makassar, Kamis 5 Juli 2012. Pada kunjungannya tersebut, Menegristek mempresentasikan profil Mobil Listrik yang dibuat oleh para peneliti dari Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika, (Telimek) LIPI.

Menegristek menjelaskan bahwa penelitian mobil listrik di Indonesia telah dimulai sejak 15 tahun silam. Pada tahun 2018 nanti diharapkan produksi mobil listrik nasional secara massal sudah terwujud. Menurut Menristek, saat ini pengembangan mobil listrik lebih cepat dari yang diharapkan. “Peneliti dari LIPI sudah berhasil membuat prototipe mobil listrik bentuk bus, padahal dalam roadmap pengembangan mobil listrik, prototipe dijadwalkan selesai pada tahun depan”, ujar Menristek.

Menegristek berharap, mobil listrik ini nantinya akan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, karena sumber tenaga listrik dapat dihasilkan dari berbagai energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, bahkan arus laut. Selain itu mobil listrik ini juga terbukti ramah lingkungan dan lebih efisien. “Biaya operasional dan perawatan mobil listrik bisa menghembat biaya 50 hingga 70 persen”, papar Menristek.          

Dalam kunjungannya ke Fajar Media Group, Menegristek disambut oleh Direktur Utama Harian FAJAR, H Syamsu Nur beserta jajaran direksi FAJAR Group. Selain memperkenalkan mobil listrik, dalam kunjungannya ke FAJAR Group tersebut Menristek juga menjadi narasumber dialog tentang Rakornas Litbang Pemerintahan Dalam Negeri yang disiarkan secara live oleh Fajar TV.  (munawir)

June 14, 2012

Penguatan SIDa Melalui Pengembangan Klaster Berbasis Keunggulan Daerah

Pengembangan klaster di Indonesia merupakan suatu alternatif dalam pengembangan industri,  mengingat potensi sumberdaya alam melimpah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, baik yang terbarukan (hasil bumi) maupun yang tidak terbarukan (hasil tambang dan mineral).  Kekayaan tersebut harus dikelola seoptimal mungkin dengan meningkatkan industri pengolahan yang memberikan nilai tambah dan mengurangi ekspor bahan mentah.  Di sisi lain, jumlah penduduk yang besar dan kualitas yang terus membaik dengan daya beli yang terus meningkat merupakan pasar potensial dan potensi dayasaing yang luarbiasa.

Hal tersebut disampaikan Deputi Menristek Bidang Pendayagunaan Iptek, Idwan Suhardi yang mewakili Menegristek pada Dialog Klaster-Perguruan Tinggi dengan Gubernur Jateng dan Menegristek, di Ungaran, Jawa Tengah pada hari Kamis, 14 Juni 2012. Dialog ini diadakan oleh Balitbangda Jawa Tengah untuk memberikan motivasi  kepada pelaku klaster, juga untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan, serta mendapatkan masukan untuk pengembangan klaster di masa yang akan datang.

Pengembangan klaster ini memang menjadi salah satu fokus dari implementasi Sistem Inovasi Daerah (SIDa) di Jawa Tengah, selain pengembangan kabutapaten/kota inovatif dan desa inovatif.  Alasan pengembangan klaster tersebut dikarenakan klaster memiliki daya ungkit tinggi bagi pembangunan daerah dan mampu membantu UMKM dalam mencapai skala ekonomi. Pengembangan Klaster di Jawa Tengah juga mampu menciptakan lingkungan yang kreatif untuk mendorong tumbuhnya inovasi dan kerjasama serta mendorong sinergitas stakeholder dalam pendampingan klaster.

Di Provinsi Jawa Tengah sendiri terdapat 35 klaster berbasis produk unggulan daerah yang tersebar di masing-masing kabupaten dan kota, di antaranya, klaster Biofarmaka kabupaten Karanganyar, Gula Kelapa kabupaten Banyumas, Makanan Ringan kabupaten Magelang, Knalpot kabupaten Purbalingga, Ikan kota Pekalongan, Logam Tumang kabupaten Boyolali, Sapi Brangus kabupaten Sragen dan lain-lain. Untuk mengembangkan klaster-SIDa tersebut, Balitbangda Jawa Tengah bekerjasama dengan berbagai pihak, misalnya partisipasi pada Program Speklok dan Intermediary dari Kementerian Ristek, Program Inkubator dari BPPT dan link and match klaster dengan perguruan tinggi.

“Saya berharap Pengembangan klaster-SIDa di Jawa Tengah ini dapat dicontoh daerah lain”, ujar Idwan

Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo yang juga hadir pada dialog tersebut mengungkapkan bahwa potensi daerah Jawa Tengah sangat besar, mulai dari sumber daya alam di sektor pertanian, peternakan dan perikanan hingga jumlah penduduk yang mencapai 33 juta orang merupakan pasar yang sangat besar. Gubernur menekankan inovasi dan teknologi diperlukan untuk memberi sentuhan kepada produk-produk unggulan daerah, agar biayanya menjadi lebih rendah dan kualitasnya tinggi sehingga mampu memiliki daya saing dengan produk-produk impor. “yang perlu kita jaga sekarang adalah 3 K, yaitu Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas produk”, Ujar Bibit.

Terkait penguatan SIDa, Idwan Suhardi menyampaikan bahwa Pemerintah Pusat telah melakukan terobosan  melalui penandatanganan Peraturan Bersama antara Menteri  Negara Riset dan Teknologi dan Menteri Dalam Negeri tentang Penguatan Sistem Inovasi Daerah yang ditandatangani pada Tanggal 25 April 2012. Hal tersebut dipertegas pula oleh Kepala Balitbangda Jateng, Agus Suryono bahwa Peraturan Bersama tersebut mempertegas hubungan fungsional langsung antara Balitbangda dengan Kementerian Ristek, sedangkan hubungan organisasi dan kelembagaan  Balitbangda dengan Kementerian Dalam Negeri.“Bisa dikatakan, Balitbangda adalah perwakilan Kementerian Ristek di tingkat provinsi”, Ujar Agus Suryono.

Dialog ini dihadiri sekitar 300 peserta dari kalangan pelaku klaster, akademisi perguruan tinggi hingga praktisi perbankan dan kalangan pengusaha. Selain itu, beberapa bupati dan walikota di Provinsi Jawa Tengah juga turut menghadiri acara ini. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pameran produk unggulan dari masing-masing klaster. (munawir)

May 24, 2012

Penguatan Pembangunan Iptek Nasional melalui Sinergi Ristek-LPNK

Dalam upaya mengoptimalkan sumberdaya riset, memperkecil resiko kegagalan dan mempermudah proses mengalirnya hadil-hail riset ke industri, kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Riset dan Teknologi adalah dengan melakukan sinergi lintas lembaga dalam format konsorsium. Pada tahun anggaran 2011 dan 2012 telah dilaksanakan sinergi antara Kementerian Ristek, LPNK, Perguruan Tinggi dan BUMN dalam bentuk Konsorsium Riset/Pendayagunaan dengan prakarsa dan penggerak dari Kementerian Ristek.

Hal tersebut diutarakan Menteri Riset dan Teknologi dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Kepala BPPT, Marzan Aziz Iskandar pada pembukaan acara Rapat Koordinasi (Rakor) Perencanaan Ristek-LPNK dengan tema "Membangun Sinergi Riset Tahun Anggaran 2013". Rakor tersebut diselenggarakan di Auditorium BPPT pada tanggal 23 Mei 2012 dan dihadiri oleh para ketua LPNK Ristek beserta jajaran pejabat Eselon 1 dan 2 dari Kementerian Ristek dan LPNK. Lebih lanjut Menegristek dalam sambutannya berpesan agar sinergi program dan Kegiatan Ristek-LPNK dapat terus dilaksakanan serta dapat diarahkan untuk mewujudkan Visi dan Misi Kementerian Ristek dan LPNK Ristek, khususnya berkontribusi nyata dalam pelaksanaan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Salah satu upaya untuk mewujudkan sinergi tersebut adalah dengan penyelenggaraan rakor ini.

Sementara itu Sekretaris Kementerian Ristek, Mulyanto, dalam laporannya di hadapan peserta Rakor mengungkapkan masih terdapat beberapa program dan kegiatan Ristek dan LPNK yang memiliki lokus dan fokus yang sama, namun dikerjakan masing-masing terpisah. Melalui Program Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pemerintah menetapkan 6 koridor ekonomi, lokus dan fokus komoditasnya, sehingga terjadi proses sektorisasi di antara Ristek dan LPNK. Mulyanto Menambahkan, dalam forum sesmen-sestama Ristek LPNK dalam tiga bulan terakhir ini sudah ada titik temu pembagian peran Ristek LPNK. Misalnya untuk komoditas kakao yang dikembangkan BPPT di Koridor Sulawesi, LPNK lainnya mendukung sesuai dengan tupoksi dan kompetensi masing-masing. Pada akhirnya Kementerian Ristek sendiri akan berperan untuk mengarahkan program insentifnya untuk mendukung sinergi program bersama ini. "Mudah-mudahan dengan rakor ini, berbagai program di Kementerian Riset dan Teknologi dan LPNK semakin baik dan terlihat sinerginya, karena Ristek dan LPNK adalah satu kesatuan yang mempunyai tugas bersama untuk membangun iptek nasional", ujar Mulyanto menutup laporannya.

Rakor ini sendiri dibagi atas 4 Sidang Komisi, yaitu Komisi 1 yang membahas Komoditas, terkait dengan komoditas karet, kakao dan sagu. Komisi 2 membahas tentang Teknologi Transportasi, Komisi 3 membahas tentang Energi dan Komisi 4 membahas tentang SDM Iptek. Rakor diakhiri dengan pemaparan rumusan dari masing-masing sidang komisi untuk kemudian ditindaklanjuti oleh Ristek dan LPNK pada tahun anggaran 2013. (munawir).

May 12, 2012

Kadar Arsen dan Mercuri Teluk Buyat Aman

Kadar arsen dan mercuri dalam air laut di lokasi penempatan tailing di dasar laut teluk Buyat dinyatakan aman terhadap biota laut atau kesehatan manusia. Demikian disampaikan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti M Hatta saat membacakan sambutannya dalam presentasi publik hasil pemantauan lingkungan Teluk Buyat di Manado, Sabtu 12 mei 2012.

Menegristek selaku Koordinator pemantauan lingkungan Teluk Buyat menyatakan dari hasil pantauan tim Panel Ilmiah Independen (PII) kadar arsen dan merkuri tidak berbeda dengan konsentrasi pada lokasi rujukan dan berada dibawah baku mutu air laut Indonesia, yakni sesuai dengan Kepmen Lingkungan Hidup 51-2004.

"Secara singkat kualitas air laut di sepuluh titik sampel pada 2011 berada di bawah baku mutu dan tidak berdampak pada kesehatan. Kualitas air laut masih bagus jangan ragu makan ikannya," kata Gusti M Hatta saat memberikan sambutan.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup ini juga menyatakan tim PII juga menemukan bahwa kualitas air laut Teluk Buyat sekitar tempat pembuangan tailing masih memenuhi baku mutu air laut untuk biota laut yang ditetapkan pemerintah Indonesia dan juga kriteria internasional untuk biota laut dan kesehatan manusia.

Dalam kesempatan ini tim PII yang beranggotakan enam orang pakar memaparkan hasil analisis dan interpretasi data hasil pantauan tahun 2011. Tim PII yang berada dibawah koordinasi Menteri Negara Riset dan Teknologi ini setiap tahunnya mengembangkan metodologi pemantauan lingkungan, termasuk Jaminan Mutu/ Kendali Mutu yang memenuhi standar nasional dan internasional.

Keenam pakar yang terdiri dari Prof.Dr.Magdalena Irene Umboh (Universitas Negeri Manado), Prof.Dr.Ineke FM Rumengan (Universitas Sam Ratulangi), Prof.dr.Amin Subandrio Phd (UI), Thomas Sheperd,Phd (Sheperd Consulting AS) dan Keith William Bentley,PhD (Centre For Environmental Health, Australia) mempresentasikan hasil analisi mereka kepada publik.

Prof.Dr.Magdalena Irene Umboh dari Universitas Negeri Manado memaparkan stratifikasi kolom air laut yang menampilkan profil konduktifitas kolom air, suhu dan kedalaman, menunjukkan keadaan variabilitas alami relatif stabil, tidak berbeda dengan hasil yang dilaporkan pada tahun sebelumnya.

Secara umum, berdasarkan hasil pantauan lingkungan samapai tahun 2011 di wilayah Teluk Buyat, parameter kualitas lingkumngan memenuhi standar yang berlaku dan tidak memiliki dampak terhadap kesehatan manusia. Kualitas terumbu karang dan makrobenthos (biota yang hidupnya melekat pada, menancap, merayap, atau membuat liang didasar laut) meningkat dari tahun ke tahun.

Hadir dalam presentasi publik pemantauan Teluk Buyat antara lain Gubernur Provinsi Sulawesi Utara Sinyo H Sarundajang, Sesmenkokesra Indroyono Susilo, pejabat Kementerian Lingkungan Hidup, pejabat Kementerian Ristek, pengurus Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara, pejabat Pemprov dan undangan lainnya serta pakar yang tergabung dalam Panel Ilmiah Independen (PII). (munawir)

Menristek Resmikan Empat Laboratoritum di Universitas Hasanuddin

Dalam kunjungannya ke Makassar untuk menghadiri Rapat Koordinasi SDM dan Iptek Koridor IV Sulawesi pada hari Jumat, 11 Mei 2012, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta menyempatkan diri berkunjung ke Universitas Hasanuddin (UNHAS) untuk meninjau dan meresmikan empat fasilitas laboratorium baru di UNHAS. Laboratorium yang pertama diresmikan oleh Menristek pada kesempatan tersebut adalah Laboratorium Bayi Tabung “Hasanuddin Fertility Center” di Rumah Sakit Pendidikan UNHAS yang ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menristek.

Fasilitas Bayi Tabung tersebut merupakan yang pertama di Kawasan Timur Indonesia, menyusul enam belas fasilitas lainnya yang sudah beroperasi di daerah Jawa, Bali dan Sumatera.  Menurut Rektor UNHAS, Idrus Paturusi, yang mendampingi Menristek, fasilitas ini tidak hanya menarik minat masyarakat di kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan saja, namun banyak pasien dari luar daerah seperti Kalimantan yang datang berkunjung ke laboratorium bayi tabung ini. Menristek sendiri memberikan apresiasi atas kemajuan UNHAS dalam membangun infrastruktur yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Kemajuan UNHAS sangat luar biasa dan menjadi contoh yang baik bagi perguruan tinggi yang lain”, ujar Menristek.

Menristek pada kunjungannya tersebut juga meresmikan Laboratorium Bio Molekuler di RS Pendidikan UNHAS, Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Sains di Fakultas MIPA UNHAS dan Laboratorium Bioteknologi Terpadu di Fakultas Peternakan UNHAS. Menristek menutup kunjungan ke UNHAS dengan memberikan kuliah umum di depan civitas akademika UNHAS dan menanam pohon eboni di halaman Gedung Program Pascasarjana UNHAS. Turut hadir dalam kunjungan tersebut, Kepala BPPT,  Marzan Aziz Iskandar;  Kepala BATAN, Hudi Hastowo; Staf Ahli Menteri Bidang Pangan dan Pertanian, Masrizal; Staf Ahli Menteri Bidang Energi dan Material Maju, Agus Rusyana Hoetman; dan Staf Ahli Menristek Bidang Pertahanan dan Keamanan, Hari Purwanto. (munawir)

May 11, 2012

Menristek beri pengarahan peserta Rakor SDM Iptek Koridor Sulawesi

Di dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3EI) diperjelas bahwa Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK Nasional merupakan salah satu pilar dan strategi utama dari MP3EI. Hal ini telah memberikan posisi penting terhadap peran SDM dan Iptek dalam upaya mencapai Visi Indonesia 2025 yaitu “Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur”. Di samping itu, penguasaan iptek juga menjadi modal dasar untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat dalam pengembangan ekonomi sehingga dapat bersaing secara global. Penjabaran MP3EI lebih jauh tentang peran SDM dan Iptek bagi upaya menuju keunggulan kompetitif sangat diperlukan sebagai upaya perekonomian Indonesia yang berbasiskan inovasi (innovation-driven economy).

Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan tiga elemen utama yaitu mengembangkan potensi ekonomi wilayah di 6 Koridor Ekonomi; memperkuat konektivitas nasional; serta memperkuat kemampuan SDM dan Iptek nasional, dengan fokus utamanya peningkatan nilai tambah, mengintegrasikan pendekatan sektoral dan Regional; memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya dan mendorong Inovasi.

Hal tersebut disampaikan Menristek, Gusti Muhammad Hatta saat memberikan pengarahan di depan peserta Rapat Koordinasi SDM dan Iptek Koridor IV Sulawesi di Makassar, Jumat 11 Mei 2012. Rakor ini diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi bekerjasama dengan Balitbangda Provinsi Sulawesi Selatan yang bertujuan untuk mengkonsolidasikan aktor inovasi dari unsur akademisi/peneliti, dunia usaha/industri, masyarakat, legislator dan pemerintah dalam kerangka penguatan SDM dan Iptek di koridor ini.

Menristek menegaskan penyelenggaraan Rakor ini adalah momen yang tepat untuk mendiskusikan, mengkoordinasikan, dan mensinergikan kegiatan pengembangan inovasi antara pusat dan daerah serta antar daerah baik di dalam propinsi maupun antar propinsi dalam koridor Sulawesi. Menristek juga berharap Rakor ini dapat digunakan untuk memetakan potensi SDM dan Iptek di Koridor Sulawesi dan merencanakan rencana kerja kedepan hingga 2014 beserta langkah-langkah strategi pencapaian dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan pusat-pusat unggulan yang berbasis pada kemampuan sumber daya lokal. “Harapan saya, Rakor ini mampu merumuskan masterplan penguatan SDM dan Iptek yang terkait dengan pengembangan komoditas unggulan di Koridor Ekonomi Sulawesi”, Ujar Menristek

Potensi ekonomi melalui komoditas unggulan yang terdapat di Koridor Ekonomi Sulawesi menunjukkan perubahan positif yang perlu didukung lebih lanjut oleh berbagai pihak, khususnya pemerintah. Produk hasil pertanian koridor ini merupakan salah satu penunjang untuk ketahanan pangan nasional. Di samping itu, perkebunan, khususnya kakao sebagai unggulannya telah menunjukkan pertumbuhan luas lahan di atas 5% pertahunnya. Pertambahan ini memerlukan penanganan yang serius untuk meningkatkan produktivitasnya. Selanjutnya output hasil perikanan koridor ini yang sebesar 25% dari total output perikanan nasional menunjukkan posisi strategis koridor terhadap sektor perikanan nasional. Sektor pertambangan, khususnya nikel dan juga migas di Koridor Ekonomi Sulawesi memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Potensi tersebut, menurut Menristek, harus diberi sentuhan inovasi dan teknologi untuk memberi nilai tambah dan meningkatkan daya saing.

Dalam kunjungannya ke Makassar, selain memberi pengarahan di depan peserta Rakor, Menristek juga menyaksikan penandatanganan MoU tentang Pusat Riset Kakao dan Pusat Riset Rumput Laut, antara Gubernur Sulawesi Selatan, Rektor Universitas Hasanuddin (UNHAS), Balitbang Kementerian Pertanian, dan Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan. Menristek juga akan berkunjung ke UNHAS untuk memberikan kuliah umum dan meresmikan beberapa laboratorium di Rumah Sakit Pendidikan UNHAS, Fakultas Peternakan dan Fakultas MIPA. (munawir)

May 3, 2012

Program dan Kegiatan Kementerian Ristek tahun 2013 Mulai Disusun

Pembangunan iptek diakui belum menampilkan kinerja yang maksimal dalam proses pembangunan nasional secara keseluruhan. Oleh karena itu, pembangunan iptek harus berintegrasi dengan pembangunan nasional agar bernilai tambah dan berkesinambungan.  Kementerian Riset dan Teknologi harus berpartisipasi secara aktif dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), dengan membentuk Center of Excellence di masing-masing setiap koridor ekonomi melalui peningkatan SDM dan Iptek.

Hal tersebut disampaikan Mennegristek, Gusti Muhammad Hatta, saat memberikan arahan di depan peserta Workshop Perencanaan Kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2013 di Jakarta, pada hari Kamis, 3 Mei 2012. Pada kesempatan tersebut Mennegristek menekankan agar Rencana strategis dan Indikator Kinerja Utama (IKU) harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga relevan dan terukur.  Berbagai program dan kegiatan yang dirancang dalam mencapai sasaran IKU juga harus lugas dan efektif.  Mennegristek meminta pada peserta dalam menyusun Program dan Kegiatan 2013 agar mengacu kepada evaluasi program dan kegiatan tahun 2011 dan catur wulan pertama tahun 2013. “Workshop ini sangat strategis buat kita dengan harapan Program dan Kegiatan Tahun 2013 dapat dirancang dengan lebih baik sejak dini. Program dan Kegiatan yang sudah sukses pelaksanaannya tetap dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Sedangkan yang belum maksimal agar diperbaiki”, Ujar Mennegristek.

Sekretaris Kementerian Riset dan Teknologi, Mulyanto dalam laporannya menyampaikan bahwa pelaksanaan workshop ini bertujuan untuk membuka ruang kepada unit teknis dalam menyampaikan gagasan terkait kegiatan dan program yang lebih luas dan lebih dini. Menurut Sesmenristek, ada dua titik kritis di dalam perencanaan yang harus diselesaikan yaitu Tahapan perencanaan dalam mendesain target dan hasil, yang diturunkan dari tujuan dan sasaran strategis yang terdapat di dalam restra dan dievaluasi secara berkala.  Titik kritis yang kedua adalah Tahapan perencanaan kegiatan, dimana kegiatan harus dirancang agar sesuai dengan IKU. “Apabila kedua titik kritis tersebut tidak dapat diselesaikan, maka kinerja dan prestasi kementerian Ristek akan sulit untuk diukur”, ujar Mulyanto.

Workshop ini diselenggarakan selama dua hari (3-4 Mei 2012) dan diikuti oleh Seluruh Pejabat Eselon I, II, dan III di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi. Pada workshop ini dibahas berbagai materi, diantaranya Manajemen Kinerja dan Perumusan IKU, Manajemen Perencanaan Berbasis Kinerja, dan Penganggaran Berbasis Kinerja yang akan disampaikan narasumber dari Kementerian PAN dan RB, Kementerian PPN dan Kementerian Keuangan. Workshop juga dibagi ke dalam beberapa komisi teknis, yaitu Komisi Kebijakan, Komisi Insentif, Komisi Koordinasi, Komisi Tematik dan Komisi Program Nasional. (munawir)

April 25, 2012

Menristek-Mendagri Tandatangani Peraturan Bersama Penguatan SIDa

Sistem Inovasi Daerah (SIDa) merupakan salah satu program Kementerian Riset dan Teknologi untuk meningkatkan interaksi antara  aktor atau  unsur kelembagaan IPTEK khususnya untuk peningkatan rantai nilai teknologi dan daya saing daerah berbasis inovasi. Program ini bertujuan untuk meningkatkan diseminasi teknologi yang dihasilkan oleh lembaga litbang untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan  industri di suatu daerah. Diharapkan melalui pengembangan SIDa, daerah dapat mengembangkan potensinya dengan inovasi yang ada sehingga produk dan komoditasnya memiliki nilai tambah yang lebih berkualitas dan berdaya saing dan pada akhirnya mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk memperkuat Program SIDa ini, Kementerian Riset dan Teknologi bekerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri membuat Peraturan Bersama yang ditandatangani Menristek, Gusti Muhammad Hatta dan Mendagri, Gamawan Fauzi pada Peringatan Hari Otonomi Daerah XVI, pada hari Rabu 25 April 2012 di Hotel Borobudur Jakarta. Penandatangan Peraturan Bersama tersebut disaksikan langsung oleh Wakil Presiden RI, Budiono.

Menurut Mendagri, Penandatangangan Peraturan Bersama tersebut sangat strategis, karena banyak aspek penyelenggaraan daerah yang terkait inovasi namun belum diatur dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Disamping itu, banyak potensi dan produk daerah yang belum tersentuh oleh inovasi dan teknologi. “Peraturan Bersama ini sangat strategis dalam rangka meningkatkan daya saing daerah, sehingga produk-produk yang dihasilkan daerah kualitasnya makin baik dari waktu ke waktu”, Ujar Mendagri.

Sementara itu, Bagi Kementerian Ristek, Peraturan Bersama ini merupakan payung hukum untuk dapat bersinergi dengan pemerintah daerah baik dari segi subtansi maupun kelembagaan, terutama fungsi pembinaan terdapat unsur-unsur SIDa yang ada di daerah.

Pada Kesempatan tersebut, diumumkan juga Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota yang berprestasi berdasarkan hasil evaluasi atas kinerja pemerintahan daerah. Untuk kategori Provinsi, yang mendapatkan penghargaan adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Untuk Kategori Kabupaten terbaik yang masuk 10 besar adalah Sleman, Wonosobo, Boyolali, Karanganyar, Jombang, Luwu Utara, Kulon Proggo, Pacitan, Sukoharjo, dan Bogor. Adapun 10 besar kota yang berkinerja terbaik adalah Yogyakarta, Magelang, Tangerang, Semarang, Samarinda, Bogor, Sukabumi, Depok, Makassar, dan Cimahi. (munawir)

April 17, 2012

MIT Berbagi Pengalaman Tentang Entrepreneurship


Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) bersama dengan Business Innovation Center (BIC) dan CRDF Global menyelenggarakan Global Innovation through Science & Technology (GIST) Leadership Forum for Indonesia dengan tema "Building an Entrepreneurial Ecosystem at the MIT : Reflection for Indonesia”, pada Senin, 17 April 2012, bertempat di Ciputra World Jakarta Artpreneur Center.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Josep Hadzima, Senior Lecturer dari  MIT Entreprenurship Center Amerika Serikat mempresentasikan tentang lingkungan entrepreneurship di MIT berikut dampaknya terhadap perekonomian lokal, nasional dan bahkan global. Hadzima menjelaskan bahwa secara global, para alumni MIT telah membangun lebih dari 25.800 perusahaan yang apabila digabungkan, perusahaan tersebut menghasilkan pendapatan tahunan sekitar dua trilliun dolar AS, dan menyediakan lebih dari 3,3 juta lapangan pekerjaan di seluruh dunia. Bahkan seluruh perusahaan ini merupakan kekuatan ekonomi kesebelas di dunia bila diukur dengan Gross Domestic Products.

Kesuksesan tersebut, menurut Hadzima, tidak terjadi begitu saja, namun merupakan hasil dari sebuah lingkungan dan sistem yang kondusif dan didukung oleh infrastuktur seperti sistem kursus dan mentoring, jejaring, pemberian insentif dan hibah, dan inkubator. Peran Pemerintah tentu saja sangat penting dalam mendorong terciptanya lingkungan yang kondusif untuk entrepreneurship. “Pemerintah dapat turut berperan dengan menciptakan iklim ekonomi yang stabil, mengurangi hambatan-hambatan birokratis, menyediakan infrastruktur yang stabil dan memadai serta memberikan kemudahan untuk memulai usaha dengan  memberikan insentif modal awal”, ujar Hadzima.

Menteri Koperasi dan UKM, Syarifuddin Hasan, yang hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan Pemerintah memberi perhatian yang besar terhadap Entrepreneurship di Indonesia. Menurut Syarif, Entrepreneurship merupakan aspek penting yang dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. Menyusul Pusat Promosi UKM (Smesco) yang telah dibangun pemerintah, tahun depan Pemerintah akan membangun Enterpreneur Center, ujar Syarif.

Deputi Menristek bidang Pendayagunaan Iptek, Idwan Suhardi, yang hadir mewakili Menristek menyampaikan bahwa Kementerian Ristek sejak tahun lalu telah memulai Kompetisi Technopreneurship Pemuda untuk menumbuhkan semangat entrepreneurship di kalangan Pemuda. Melalaui program tahunan yang dilakukan dengan sinergi Bersama BIC dan UCEC tersebut, para pemuda mendapatkan pelatihan memulai usaha, hingga memasarkan produk dan bersaing di pasar. Dari program tersebut, telah lahir beberapa technopreneur handal diantaranya Hadi Apriliawan, mahasiswa Universitas Brawijaya yang menciptakan LABAN ELECTRIC, yaitu Alat Pasteurisasi Susu Kejut Listrik Tegangan Tinggi (Pulsed Electric Field) yang berhasil masuk 20 besar pada Business Plan Competition GIST. Lebih lanjut Idwan menyampaikan bahwa pada bulan Agustus mendatang, dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17, Kementerian Ristek akan menyelenggarakan Triple Helix Conference di Bandung yang akan dihadiri peserta dari berbagai negara. “Dari konferensi ini, kita akan belajar dari dunia tentang sinergi dan kolaborasi ABG (Academic, Business dan Government)”, ujar Idwan.

Kegiatan Leadership Forum ini dihadiri Ketua KIN, Prof. Zuhal; Pendiri UCEC, Ciputra; dan Ted Osius, Deputy Chief in Mission dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Kegiatan ini merupakan bagian dari GIST Startup Boot Camp & Journalism Workshop yang diselenggarakan selama tiga hari mulai 17-19 April 2012 di Jakarta. (munawir)

January 30, 2012

Cek Mata di JEC Menteng

Udah seminggu ini mata kiriku kabur, awalnya sering merasa silau bila ada cahaya yg masuk. Anehnya mata yang kanan tidak mengalami keluhan yang sama. Saya pikir gejala ini akan hilang seiring pulihnya demamku. Ternyata demam pulih, mata kiri masih tetap kabur. kerasa banget pas nonton tivi, subtitlenya udah ga bisa kebaca.

Awalnya saya berfikir ukuran silinder mata saya yg bertambah. Memang sejak empat tahun lalu saya harus memakai kacamata krn mata saya silinder namun masih dibawah satu, sehingga jarang make kacamata. namun rasanya aneh aja kalo penambahan kelainan silinder mata bisa drastis gini. Akhirnya hari ini kuputuskan untuk kontrol ke dokter mata. Kupilih Jakarta Eye Center untuk periksa mata karena dulunya almarhum abba juga pernah kontrol dan operasi mata di klinik ini, jadi udah ketahuanlah reputasinya. Antriannya lumayan panjang, saya kebagian diperiksa ama Dr. Elvioza. Sekarang saya masih menunggu giliran untuk diperiksa dokter, namun sebelumnya akan dilakukan pemeriksaan di BDR (basic diasnogtic room) dulu. Mudah-mudahan ga ada yg salah dengan mata ini.

Update :
Di BDR, mata dicek ukuran pake komputer, trus dicek tekanan mata jg pake alat yg nyemburin angin ke mata, trus diperiksa manual, diminta baca huruf dan angka yang ditampilkan di layar. Untuk huruf dan angka yang ukurannya kecil, saya sudah ga bisa baca lagi. Harus dibantu kacamata. Karena dokter yang mau meriksa itu Dr. Elvioza, kornea mata saya akan diperiksa sehingga harus ditetesin dulu pake pake tetes mata yg lumayan perih dan membuat mata kabur secara temporer untuk pandangan dekat selama kurang lebih tiga jam.

Di ruangan Dr. Elvioza, mata saya dicek lg dengan komputer, bedanya kali ini kedua mata diberi sinar yg lumayan bikin silau. Dokter kemudian ngabarin kalo ga ada masalah dgn mata saya, hanya ukuran silindernya yang memang nambah sehingga saya harus pake kacamata. Memang kacamata sudah lama ga saya pakai karena lensanya copot. Jarang kacamata saya yang bisa bertahan lama, beberapa bahkan patah di tangan Uqi.

Dokter memberi resep tetes mata yang bisa ditebus di apotik JEC. Untuk tetes mata yg dipakai 4 kali sehari selama sebulan harganya 80 ribu. Untuk biaya kontrol mana, saya ngeluarin duit Rp. 277.500 yg terdiri dari Biaya konsultasi, Rp. 52.500,- untuk autoref dan administrasi pasien baru, dan Rp. 15.000 untuk Tonometri non Contak. Total biayanya sama dengan yang disampaikan CS JEC yang saya hubungi melalui YM sebelum berangkat ke sana. Sedangkan untuk kacamata yang diresepin dokter, saya langsung mesen di optik JEC yang ada di lobby, kebetulan ada diskon 20 persen untuk framenya, jadi total untuk kacamata ditebus sekitar 990 ribuan. Mudah-mudahan kacamata yang sekarang bisa lebih awet dan ga dipatahin uqi lagi... hehehe