Sepuluh Kiat Meraih Ridha terhadap Ketetapan Allah

Kita sering berlayar ke utara, tetapi angin justru bertiup ke selatan. Kita merencanakan satu hal, tetapi yang terjadi adalah hal yang lain. Begitulah hidup. Tidak semua kejadian sesuai dengan kehendak kita, dan itu sudah sunnatullah, konsekuensi dari dunia yang memang diciptakan sebagai tempat ujian. Ujian, pada hakikatnya, adalah hal-hal yang tidak sesuai dengan hasrat dan keinginan kita.

Dalam kajiannya, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah memulai dengan menjelaskan tingkatan sikap manusia ketika menghadapi ketetapan yang tidak ia sukai. Mari kita pahami tingkatan itu, lalu menelaah sepuluh kiat yang beliau sampaikan agar hati kita lebih mudah merasa ridha.

Tiga Tingkatan Menyikapi Musibah

Tingkatan pertama adalah jaza', yaitu tidak sabar. Ini sikap tercela dan berdosa, ketika seseorang meluapkan protes terhadap keputusan Allah lewat ucapan atau perbuatan. Rasulullah ï·º bersabda bahwa bukan termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan jahiliah (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu). Orang yang bersikap demikian tidak memperoleh pengurangan dosa maupun pengangkatan derajat dari musibahnya. Keadaannya justru semakin buruk. Islam tidak mengajarkan meratap dan meraung-raung, apalagi menjadikannya kebanggaan. Wanita yang meratapi orang yang meninggal dan tidak bertobat sebelum wafat diancam dengan siksa (HR. Muslim).

Tingkatan kedua adalah sabar. Secara bahasa, sabar berasal dari kata al-habs, yaitu menahan. Hati boleh bergejolak, tetapi ia menahan lisannya dari berteriak dan menahan tangannya dari merobek, membanting, atau melempar. Di situlah pahalanya, karena ia menahan jiwanya yang ingin menunjukkan ketidakpuasan. Karena itu, Al-Qur'an menyebut sabar di lebih dari sembilan puluh tempat.

Tingkatan ketiga adalah ridha. Ini lebih tinggi daripada sabar. Orang yang sabar mungkin masih menahan-nahan perasaan, sedangkan orang yang ridha menerima ketetapan itu dengan lapang. Maka di antara doa Nabi ï·º adalah memohon ridha setelah keputusan Allah turun, "Aku memohon kepada-Mu keridhaan setelah ketetapan-Mu" (HR. An-Nasa'i dan Ahmad, dari 'Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu). Di atasnya masih ada tingkatan yang lebih sulit lagi, yaitu syukur atas musibah. Yang terpenting, kita jangan sampai jatuh ke tingkat jaza'. Berikut sepuluh kiat yang membantu kita naik ke tingkat ridha.

Kiat 1: Yakin bahwa Semuanya Sudah Takdir Allah

Ketika sesuatu yang tidak kita sukai menimpa, ucapkan: ini takdir Allah. Kalimat ini sangat kuat, karena artinya kita tidak mungkin lari darinya. Allah berfirman, "Katakanlah, tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami" (QS. At-Taubah: 51). Rasulullah ï·º berwasiat kepada Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan meleset tidak akan menimpamu (HR. At-Tirmidzi). Allah mencatat takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi (HR. Muslim, dari 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma).

Artinya, sakit kita, kerugian kita, kecelakaan kita, bahkan perceraian, semuanya telah tercatat. Tentu ada sebab-sebabnya, dan kita tetap diperintahkan berikhtiar, merencanakan, dan berusaha. Tetapi seluruhnya berada dalam kekuasaan Allah. Dengan meyakini ini, beban terasa ringan, sebab kita tahu bahwa yang menakdirkannya adalah Rabb yang Maha Luas ilmu-Nya, yang paling mengetahui kemaslahatan kita, dan yang kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang ibu.

Allah berfirman, "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah; barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya" (QS. At-Taghabun: 11). 'Alqamah rahimahullah menafsirkan bahwa ini tentang orang yang ditimpa musibah lalu tahu bahwa musibah itu datang dari Allah, sehingga ia pasrah. Maka orang yang sulit ridha terhadap takdir biasanya kurang beriman kepada takdir. Beliau mencontohkan dengan ringan, bahkan omelan yang kita terima di rumah pun sudah tercatat jauh sebelum langit dan bumi diciptakan. Kalimat sederhana yang sering diucapkan orang tua kita, "Sudah takdir, mau diapakan lagi," adalah kalimat yang mengandung ilmu yang dalam.

Kiat 2: Jatah Musibah Kita Terus Berkurang

Allah telah menetapkan berapa banyak kebahagiaan dan berapa banyak musibah yang akan kita alami. Kita tidak tahu angkanya. Namun setiap kali musibah menimpa, berarti jatahnya berkurang. Bahkan ketika musibah datang bertubi-tubi, itu pertanda jatahnya sedang "dicicil" oleh Allah. Ini adalah cara pandang positif yang dianjurkan Ustadz Firanda, bukan dalil yang pasti, sebagai pembangkit semangat: tadinya seratus, kini tinggal sekian, dan semuanya akan lewat.

Kiat 3: Musibah adalah Cara Cepat Menghapus Dosa

Rasulullah ï·º bersabda bahwa tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, sakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosanya karenanya (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain, musibah terus menimpa seorang mukmin hingga ia berjalan di bumi tanpa dosa (HR. At-Tirmidzi).

Ketika Nabi ï·º menjenguk seorang wanita yang sedang demam lalu mencela demamnya, beliau melarangnya dan bersabda bahwa demam menghilangkan dosa anak Adam sebagaimana alat pandai besi menghilangkan karat (HR. Muslim). Jika demam saja demikian, bagaimana dengan sakit gigi, atau luka batin yang lebih pedih lagi?

Kita semua punya dosa, bahkan setiap hari. Mungkin kita sudah beristigfar di sepertiga malam, tetapi kualitasnya kurang, atau kita mengulang dosa yang sama, atau ada dosa lama yang sudah kita lupakan. Allah punya cara menghapusnya dengan cepat, yaitu melalui musibah.

Kiat 4: Musibah Tanda Allah Mencintai Kita

Rasulullah ï·º bersabda, "Barang siapa dikehendaki Allah kebaikan, Dia menimpakan musibah kepadanya" (HR. Al-Bukhari). Dalam hadits lain, "Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka" (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Ketika ditanya siapa yang paling berat ujiannya, beliau menjawab para nabi, kemudian yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Seseorang diuji menurut kadar agamanya.

Jika kita merenungkan perjalanan hidup Nabi ï·º, beliaulah orang yang paling banyak diuji. Beliau lahir sebagai yatim, lalu ibunda wafat, dirawat kakek dan paman yang hidup sederhana, dan sejak kecil bekerja menggembala kambing. Beliau sangat mencintai Khadijah radhiyallahu 'anha, dan Khadijah pun wafat. Anak-anak beliau wafat semua semasa hidup beliau, kecuali Fatimah yang menyusul enam bulan setelah beliau. Beliau terusir dari kota Mekah yang dicintainya, dimusuhi kerabat sendiri, berulang kali hendak dibunuh, dan dituduh dengan tuduhan yang bukan-bukan. Saat beliau sujud, kotoran diletakkan di atas punggung beliau, dan putri beliau Fatimah menyaksikannya (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Bila beliau sakit, demamnya dua kali lipat dari kita, dan beliau bersabda bahwa pahalanya pun dua kali lipat (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dikisahkan pula seorang wanita yang meratapi anaknya di kuburan. Nabi ï·º menasihatinya agar bertakwa dan bersabar, tetapi ia menjawab bahwa beliau tidak merasakan musibah yang ia alami. Setelah diberi tahu bahwa yang menasihatinya adalah Nabi ï·º, ia datang meminta maaf, dan beliau bersabda bahwa sabar itu pada benturan pertama (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ibadah seperti salat, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah menaikkan derajat kita secara perlahan. Musibah, jika disikapi dengan sabar, menaikkannya lebih cepat. Dalam hadits disebutkan bahwa ada hamba yang telah ditetapkan kedudukan tinggi untuknya di surga tetapi amalnya belum mencukupi, maka Allah mengujinya hingga ia sampai di kedudukan itu (HR. Abu Dawud dan Ahmad). Maka berbaik sangkalah kepada Allah ketika diuji: semoga ini tanda cinta-Nya, penghapus dosaku, dan pengangkat derajatku.

Kiat 5: Musibah Adalah Fenomena Kehidupan, Seperti Cuaca

Musibah itu seperti cuaca: ada panas, dingin, dan hujan. Kita tidak mengamuk ketika hujan turun, karena kita tahu itu fenomena alam yang tak bisa dihindari. Orang-orang yang tinggal di negeri bermusim dingin ekstrem tampak biasa saja menghadapi suhu di bawah nol derajat karena mereka sudah menyiapkan diri. Begitu pula kemacetan di kota besar. Penduduknya relatif tenang karena sudah tahu tabiat kotanya, sedangkan pendatang baru mudah marah.

Adakah orang yang hidup tanpa musibah? Raja pun pernah sakit, presiden pun punya masalah di rumah. Maka musibah tak perlu dilihat sebagai kejutan, melainkan salah satu pernak-pernik kehidupan. Dalam sebuah syair yang dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi'i, kita diajak menenangkan jiwa ketika takdir telah ditetapkan, karena tak ada kesedihan maupun kegembiraan yang abadi. Tidak selalu mendung, dan tidak selalu hujan. Dengan cara pandang ini, hati kita lebih mudah ridha.

Kiat 6: Bersyukur karena Musibah Ini Masih Mampu Kita Hadapi

Seandainya Allah memberi musibah lain, belum tentu kita sanggup menghadapinya. Karena itu ucapkan alhamdulillah: musibah ini terasa berat, kadang membuat kita menangis, sedih, dan pusing, tetapi kita masih bisa menjalaninya. Sebuah ujian yang Allah pilihkan sesuai kapasitas kita menunjukkan bahwa Rabb kita Maha Penyayang dan mengetahui batas kemampuan kita.

Ustadz Firanda berbagi pengalaman ketika pernah mengalami luka yang harus dibuka dan diobati setiap pekan. Terasa menyiksa, tetapi beliau lalu merenungkan saudara-saudara kita yang terluka akibat perang dan dirawat dengan keterbatasan. Ada pula keluarga yang dulu berlebaran bersama, kini tercerai-berai di negeri yang berbeda. Kita yang menghadapi musibah yang lebih ringan sepantasnya bersyukur.

Kiat 7: Bisa Jadi Musibah Menghindarkan Kita dari Musibah yang Lebih Besar, dan Allah Menyiapkan Nikmat di Baliknya

Dikisahkan tentang seseorang yang kakinya sakit sehingga tidak dapat ditunjuk sebagai panglima pasukan. Ia bersedih. Belakangan ia tahu bahwa pasukan itu dikirim untuk menyerang Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma, cucu Rasulullah ï·º. Saat itulah ia bersyukur, karena seandainya ia menjadi panglima, ia bisa ikut menanggung dosa besar. Ustadz Firanda memaparkannya sebagai ilustrasi bahwa musibah kadang menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk.

Banyak contoh serupa dalam keseharian: tertinggal pesawat yang kemudian mengalami kecelakaan, atau lamaran yang ditolak padahal pernikahan itu ternyata tidak cocok bagi kita. Tidak semua hikmah dibukakan Allah. Namun jika dari dua puluh musibah Allah menampakkan hikmah dua saja, kita bisa menganalogikan yang lain dan berbaik sangka kepada-Nya.

Bahkan lebih dari itu, di balik musibah Allah bisa menyiapkan nikmat. Nabi Yusuf 'alaihissalam dilempar ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, lalu dipenjara. Dari rangkaian musibah itulah Allah mengantarkannya menjadi penguasa Mesir. Hijrahnya Nabi ï·º dari Mekah juga bermula dari pengusiran, tetapi dari sanalah lahir negara Islam di Madinah.

Kiat 8: Musibah Menyempurnakan Ibadah Kita

Sebagian ulama menjelaskan bahwa Allah memberi musibah agar ibadah kita lengkap. Iman itu separuhnya sabar dan separuhnya syukur, dan Allah menyebut bahwa pada yang demikian terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang banyak bersabar dan bersyukur (QS. Ibrahim: 5). Jika seseorang hanya menerima nikmat tanpa pernah diuji, ia hanya mengalami ibadah syukur, sementara ibadah sabar tak pernah ia rasakan.

Ibadah orang yang ditimpa musibah, seperti merendahkan diri, bersandar sepenuhnya kepada Allah, dan menangis di hadapan-Nya, tidak mudah dirasakan oleh orang yang selalu berlimpah nikmat. Maka ada saatnya kita beribadah dengan syukur, dan ada saatnya dengan sabar. Dengan keduanya, iman kita menjadi sempurna.

Kiat 9: Musibah adalah Obat bagi Penyakit Hati

Orang yang tidak pernah ditimpa musibah mudah terkena ujub, kesombongan, dan lupa diri. Lihatlah Firaun, yang menjadi sombong dan mengaku Tuhan karena berkuasa sangat lama tanpa pernah merasakan kegagalan. Seorang pedagang yang selalu untung bisa lupa diri, padahal neraka adalah seburuk-buruk tempat bagi orang yang sombong (QS. Az-Zumar: 72).

Maka kegagalan dan kerugian yang sesekali Allah berikan adalah obat agar kita tidak lupa daratan dan tidak terkena penyakit Qarun dan Firaun. Bisa jadi, seandainya kita tidak pernah diuji, entah seperti apa jadinya hati kita.

Kiat 10: Semakin Pilu, Semakin Besar Pahala

Setiap rasa pilu yang kita tahan akan berubah menjadi nikmat di akhirat. Semakin berat ujian dan semakin pedih rasanya, semakin besar pahalanya. Nabi ï·º bersabda bahwa besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian (HR. At-Tirmidzi, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu). Pahala itu mulai dirasakan sejak di alam barzah. Orang yang kehilangan banyak hal di dunia tidak sama dengan yang tidak, begitu pula nikmat yang kelak diterimanya.

Dan inilah hakikat dunia, sebagaimana disampaikan Jibril 'alaihissalam kepada Nabi ï·º: hiduplah sesukamu karena engkau akan meninggal, cintailah siapa yang engkau kehendaki karena engkau akan berpisah darinya (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Kepedihan perpisahan adalah bagian dari kehidupan, dan Allah menjanjikan balasan yang besar bagi mereka yang bersabar.

Kesimpulan

Ketika musibah datang, kita punya banyak bekal untuk menenangkan hati. Kita yakin semuanya takdir dan tak akan meleset, bahwa musibah menghapus dosa, mengangkat derajat, dan menjadi tanda cinta Allah. Kita juga bisa melihatnya sebagai fenomena kehidupan, bersyukur karena masih mampu menghadapinya, berbaik sangka bahwa ia menyelamatkan kita dari yang lebih besar, menyempurnakan ibadah, menyembuhkan penyakit hati, dan melipatgandakan pahala.

Jangan sampai kita jatuh pada tingkat jaza', meronta-ronta dan memprotes. Minimal bersabarlah, lebih baik lagi ridha, dan alangkah indahnya jika sampai bersyukur. Karena di balik setiap musibah, tersimpan banyak kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersabar, ridha dengan ketetapan-Nya, dan pandai bersyukur. Amin ya Rabbal 'alamin.


Artikel ini disusun dari kajian "10 Kiat-Kiat Ridho terhadap Keputusan Allah" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.



Posting Komentar

0 Komentar