Meraih Husnul Khatimah: Bekal agar Hidup Kita Berakhir dengan Indah

Setiap orang beriman pasti mendambakan satu hal: kelak wafat dalam keadaan baik. Wajar, sebab kedudukan seseorang di akhirat sangat bergantung pada bagaimana lembaran hidupnya ditutup. Rasulullah ﷺ telah menegaskan bahwa amalan itu tergantung pada penutupnya (HR. Al-Bukhari). Seakan-akan keadaan seseorang di akhir hayatnya adalah kesimpulan dari seluruh lembaran hidup yang mendahuluinya. Jika lembarannya baik, ia akan wafat dengan husnul khatimah. Jika catatannya buruk, ia terancam wafat dengan su'ul khatimah.

Masalahnya, tak seorang pun dari kita tahu bagaimana akhir hidupnya. Dalam kajian ini, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengajak kita menengok bagaimana orang-orang saleh menyikapi kekhawatiran itu, lalu merinci langkah-langkah yang dapat kita tempuh agar Allah Subhanahu wa Ta'ala menutup usia kita dengan baik.

Orang Saleh Justru Paling Takut

Ada pelajaran penting dari sikap para salaf: semakin saleh seseorang, semakin besar rasa takutnya akan akhir hidupnya. Tidak ada satu pun yang merasa percaya diri dengan imannya.

Imam Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah pernah berkata, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, bahwa beliau bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Nabi ﷺ, dan semuanya khawatir kemunafikan menimpa diri mereka. Tidak ada yang merasa aman, karena tidak ada yang bisa menjamin keikhlasan dirinya, sementara fitnah dan godaan begitu banyak.

Lihatlah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu. Ia termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Rasulullah ﷺ bahkan mengabarkan bahwa beliau melihat sebuah istana di surga, lalu dikatakan bahwa istana itu milik Umar (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ketika Gunung Uhud berguncang di bawah Nabi ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum, beliau bersabda: "Tenanglah wahai Uhud, sesungguhnya di atasmu hanyalah seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid" (HR. Al-Bukhari). Umar sendiri berdoa agar dikaruniai mati syahid di Madinah, dan doa itu terkabul. Ia ditikam oleh Abu Lu'lu'ah Al-Majusi ketika sedang salat Subuh.

Namun, Umar tidak pernah merasa aman. Ia bertanya kepada Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu, sahabat yang dikenal menyimpan rahasia nama-nama orang munafik dari Nabi ﷺ: apakah namanya termasuk di antara mereka? Bahkan ketika sudah ditikam dan menjelang wafat, ada orang yang memuji-muji beliau, tetapi Umar menjawab dengan harapan agar ia bisa impas, selamat tanpa tambahan dosa maupun pahala.

Hal serupa dialami Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, sebagaimana dinukil Ibnu Rajab. Beliau sangat gelisah dengan amalan yang telah lalu dan menangis, khawatir tercatat di Lauhul Mahfuzh sebagai orang yang celaka. Beliau juga takut imannya dicabut ketika sakaratul maut.

Kita pun menyaksikan sendiri betapa akhir hidup memang tak bisa dijamin. Ada tokoh yang dahulu membela Islam dan membantah kaum ateis dengan karya-karyanya, tetapi di penghujung hayatnya berubah drastis hingga sebagian ulama menghukuminya murtad. Ada pula pendakwah di media sosial yang dahulu menjelaskan haramnya musik, lalu beberapa waktu kemudian terlihat berjoget-joget. Semoga Allah menjaga kita semua. Kita tidak tahu bagaimana kesudahan kita.

Bahkan para nabi pun berdoa tentang hal ini. Nabi Yusuf 'alaihissalam, setelah melewati perjalanan panjang yang berat, dari sumur, perbudakan, penjara, hingga puncak kekuasaan sebagai bendahara Mesir, tidak berdoa agar kekuasaannya langgeng, melainkan:


تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ 
"Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh." (QS. Yusuf: 101)

Demikian pula para ulul albab dalam doa mereka: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti" (QS. Ali 'Imran: 193). Dan para penyihir Firaun, di bawah ancaman dipotong tangan dan kaki secara bersilang lalu disalib, berdoa, "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam" (QS. Al-A'raf: 126).

Zaman kita lebih berat lagi. Menjaga pandangan, pendengaran, dan getaran hati agar tetap ikhlas, jauh dari riya dan sum'ah, bukan perkara mudah. Maka kita perlu bersungguh-sungguh.

Apa Itu Husnul Khatimah?

Secara bahasa, husnul khatimah berarti kesudahan yang indah. Seseorang dikatakan meraihnya jika ia wafat dalam keadaan beramal saleh, bukan dalam keadaan bermaksiat dan membangkang terhadap perintah Allah.

Rasulullah ﷺ mengisyaratkannya dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan "menggunakannya". Para sahabat bertanya, apa maksudnya? Beliau menjawab, Allah memberinya taufik untuk beramal saleh sebelum ia wafat (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad). Jadi menjelang ajal, Allah menggerakkan hatinya untuk beramal saleh, lalu ia wafat dalam amal tersebut.

Amal saleh itu luas bentuknya: sedang membaca Al-Qur'an, salat, berbakti kepada orang tua, menghadiri kajian, menyambung silaturahmi, membantu orang lain, bekerja mencari nafkah halal untuk anak istri, atau berzikir. Semua itu termasuk husnul khatimah bila ajal datang di dalamnya.

Sebaliknya, ada orang yang wafat dalam keadaan bunuh diri, berzina, mengonsumsi narkoba, berjudi, atau bertengkar dan meninggikan suara kepada orang tuanya. Ada pula yang wafat di atas panggung hiburan atau sedang berjoget. Ini bukan untuk menghakimi siapa pun yang telah wafat, karena urusan mereka kembali kepada Allah. Ini adalah cermin agar kita menjaga diri: jangan sampai ajal menjemput ketika kita sedang berada dalam kemaksiatan.

Kiat Pertama: Bertakwa kepada Allah

Inilah pesan yang setiap Jumat kita dengar dari khatib. Allah berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ 
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali 'Imran: 102)

Mengapa takwa menjadi kunci? Karena seseorang umumnya wafat di atas kebiasaannya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dengan menyebut bahwa Allah menjalankan sunnatullah: siapa yang hidup di atas suatu kebiasaan, ia akan wafat di atasnya, dan dibangkitkan di atasnya pula. Maka jika kebiasaan kita salat, istigfar, mengaji, dan membaca Al-Qur'an, kita berharap wafat dalam keadaan bertakwa. Namun jika kebiasaannya menonton sinetron atau drama, berjoget, berjudi, dan tak kunjung bertobat, bisa jadi ia wafat di atas kebiasaan itu.

Takwa berarti membangun pelindung antara kita dan azab Allah, yaitu dengan meninggalkan maksiat, besar maupun kecil. Seorang penyair mengingatkan agar kita meninggalkan dosa, yang kecil maupun yang besar, sebab itulah takwa. Jadilah seperti orang yang berjalan di tanah penuh duri: ia melangkah waspada, melihat dengan hati-hati, tidak sembarangan melihat, mendengar, dan berbicara. Jangan remehkan dosa kecil, karena gunung yang tinggi pun tersusun dari kerikil-kerikil kecil.

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menggambarkan perbedaan sikap orang beriman dan orang munafik terhadap dosa. Orang beriman memandang dosanya seperti seseorang yang duduk di bawah gunung dan khawatir gunung itu runtuh menimpanya. Ia takut wafat sebelum bertobat. Sedangkan orang munafik memandang dosanya bagaikan lalat yang lewat di depan hidungnya, cukup dikibaskan lalu dilupakan (HR. Al-Bukhari). Bukan berarti orang saleh tidak pernah berdosa; ia berdosa juga, tetapi ia gelisah dan segera bertobat, sedangkan hati yang meremehkan dosa telah terjangkit penyakit orang munafik.

Allah juga mengingatkan bahwa pakaian takwa itu lebih baik (QS. Al-A'raf: 26). Kita kerap sibuk memperhatikan pakaian lahiriah, tetapi lupa pada pakaian takwa yang seharusnya menutupi seluruh tubuh kita: pandangan, pendengaran, dan lisan. Perhatikan pula kebiasaan buruk yang mungkin kita pelihara: membangkang kepada suami, menonton drama, bersenandung dan bernyanyi sendiri, atau menonton konten yang tidak benar. Tinggalkan sebelum kebiasaan itu menjadi penutup hidup kita.

Kiat Kedua: Sering Mengingat Kematian

Rasulullah ﷺ menganjurkan kita memperbanyak mengingat "penghancur kelezatan", yaitu kematian (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa'i). Tentu bukan topik yang menyenangkan. Siapa yang betah bila sedang tertawa lalu ingat mati? Namun itulah resep paling tepat. Ketika ditanya siapa mukmin yang paling cerdas, beliau menjawab, "Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya setelah kematian. Mereka itulah orang-orang cerdas" (HR. Ibnu Majah).

Salah satu caranya adalah ziarah kubur. Ucapan yang diajarkan Nabi ﷺ saat berziarah, "Dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian" (HR. Muslim), hendaknya benar-benar kita resapi. Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan bahwa menghadiri sakaratul maut seseorang memang paling mengena, tetapi sulit dilakukan. Kuburan bisa dikunjungi kapan saja. Di sana kita melihat betapa banyak penghuninya dahulu berlomba membangun rumah, membeli mobil mewah, dan berbangga dengan harta, tetapi kini semuanya terbaring di bawah tanah. Kita pun akan seperti mereka.

Ustadz Firanda juga menyampaikan bahwa orang yang jarang ingat mati akan dihukum dengan tiga hal. Pertama, ia menunda-nunda tobat dengan alasan "nanti saja". Kedua, ia sulit qana'ah, selalu merasa kurang dan ingin hidup lama. Ketiga, ia malas beribadah: malas membaca Al-Qur'an, malas berbakti kepada orang tua, malas salat malam, malas salat rawatib. Kalau tanda-tanda itu ada pada kita, bisa jadi kita sedang lupa pada kematian. Padahal siapa yang tahu, ketika tidur malam ini ia masih akan bangun lagi? Sering ada kisah orang yang menunda tobat sampai besok, lalu tidak pernah bangun lagi.

Kiat Ketiga: Segera Bertobat, Jangan Menunda

Tobat adalah kewajiban yang harus disegerakan. Allah berfirman, "Bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu" (QS. Ali 'Imran: 133), dan dalam ayat lain, "Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu" (QS. Al-Hadid: 21). Imam An-Nawawi rahimahullah menegaskan bahwa bersegera bertobat dari dosa adalah kewajiban yang tidak boleh ditunda, dan orang yang menunda-nundanya berarti telah melakukan maksiat lain, yaitu maksiat menunda tobat.

Setan paling benci melihat orang yang bermaksiat puluhan tahun lalu bertobat di penghujung hayatnya. Seluruh proyeknya selama puluhan tahun runtuh dalam sekejap. Maka jangan ragu bertobat. Tak ada seorang pun yang luput dari dosa, tetapi kita memiliki senjata andalan, yaitu tobat. Menunda tobat justru menambah satu dosa tersendiri.

Kiat Keempat: Memperbanyak Amal yang Tersembunyi

Amal yang hanya diketahui Allah memiliki pengaruh besar dalam mendatangkan husnul khatimah. Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa seseorang bisa beramal dengan amalan penghuni surga hingga jaraknya dengan surga tinggal sehasta, tetapi catatan takdir mendahuluinya, sehingga ia mengakhiri hidup dengan amalan penghuni neraka lalu masuk neraka. Sebaliknya, ada yang beramal dengan amalan penghuni neraka hingga tinggal sehasta, lalu catatan takdir mendahuluinya, ia mengakhiri hidup dengan amalan penghuni surga, bertobat dan berhijrah, lalu masuk surga (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda bahwa seseorang melakukan amalan penghuni surga menurut pandangan manusia, padahal ia penghuni neraka. Sebaliknya, ada yang tampak berbuat maksiat di mata orang, padahal ia penghuni surga (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan bahwa kuncinya ada pada urusan batin yang tidak terlihat orang lain. Mungkin seseorang rajin bersedekah dan beramal, tetapi niatnya bukan karena Allah, atau hatinya dihinggapi ujub dan sombong. Penyakit hati yang tersembunyi itu akhirnya menjerumuskannya. Sebaliknya, ada yang tampak malas-malasan tetapi memiliki hati yang lembut, ikhlas, dan tulus, hingga Allah memberinya taufik beramal saleh di akhir hidup. Karena itu, sebagaimana kita punya dosa yang tidak diketahui orang lain, hendaknya kita juga punya amal saleh yang tidak diketahui orang lain. Jangan diceritakan, dibagikan, atau dipublikasikan. Cukup Allah yang tahu.

Kiat Kelima: Berdoa

Ada banyak doa yang bisa kita panjatkan agar diberi husnul khatimah. Di antaranya doa Nabi Yusuf 'alaihissalam yang telah disebut di atas.

Doa sebelum tidur. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar ucapan terakhir sebelum tidur adalah, "Ya Allah, aku serahkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus." Beliau bersabda bahwa jika seseorang membacanya lalu wafat pada malam itu, ia wafat di atas fitrah (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu). Jika setelah itu kita masih berbicara, ulangi lagi doa tersebut agar menjadi ucapan terakhir.

Doa agar tidak terkena fitnah. Salah satu doa Nabi ﷺ mengandung permohonan, "Jika Engkau menghendaki fitnah bagi suatu kaum, maka wafatkanlah aku tanpa terkena fitnah" (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad). Kita hidup di zaman penuh fitnah: fitnah berita, wanita, harta, syubhat, ghibah, dan namimah. Dalam doa yang sama juga terdapat permohonan agar dikaruniai kecintaan kepada Allah, kepada orang yang mencintai-Nya, dan kepada amalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Banyak orang tampak rajin ke masjid, tetapi hobinya menonton aurat yang terbuka di film atau drama. Semoga Allah terus memberi hidayah menuju yang lebih baik.

Doa agar hati teguh. "Ya muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu) (HR. At-Tirmidzi). Hendaknya doa ini dipanjatkan dengan penghayatan, bukan sekadar dilafalkan, karena hati manusia lemah dan mudah terserang riya, ujub, sombong, dan hasad, sementara jiwa cenderung menyuruh kepada keburukan.

Doa perlindungan dari godaan setan saat ajal. Rasulullah ﷺ berdoa, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan ketika hendak meninggal" (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i). Saat sakaratul maut adalah kondisi paling rawan, ketika setan datang menggoda dengan syubhat dan keraguan tentang Allah dan hari akhir, atau membuat orang berputus asa dari rahmat-Nya. Dikisahkan bahwa Imam Ahmad, ketika menjelang wafat, sempat berkata "belum, belum". Anaknya bertanya maksudnya. Beliau menjawab bahwa setan datang dan berkata, "Engkau telah lolos dari godaanku, wahai Ahmad," lalu beliau menjawab, "Belum, selama nyawaku masih di kerongkongan." Perhatikan, setan berusaha menjerumuskan Imam Ahmad ke dalam ujub di saat-saat terakhir.

Dzikir pagi dan petang juga menjadi penjaga kita di siang dan malam hari. Sederhana, tetapi hendaknya dirutinkan, dihafal, dan dipahami maknanya.

Kiat Keenam: Berbaik Sangka kepada Allah

Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah salah seorang dari kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah" (HR. Muslim, dari Jabir radhiyallahu 'anhu). Saat paling tepat untuk berbaik sangka adalah ketika ajal mendekat.

Kiat Ketujuh: Jangan Menzalimi Siapa pun

Berusahalah semaksimal mungkin agar tidak menzalimi orang lain. Doa orang yang terzalimi tidak memiliki penghalang menuju Allah (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma). Bisa jadi orang yang kita zalimi berdoa agar agama kita dirusak, dan doa itu terkabul sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, sehingga ia wafat dalam keadaan agama hancur.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat masyhur, seseorang menulis surat kepada Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma meminta diajarkan seluruh ilmu. Beliau membalas bahwa ilmu itu banyak, tetapi jika engkau mampu bertemu Allah dalam keadaan ringan dari menumpahkan darah, perut bersih dari harta haram, lisan terjaga dari menjatuhkan kehormatan orang lain, dan tetap bersama jamaah kaum muslimin, maka lakukanlah.

Hati-hati pula, kezaliman sering justru terjadi pada orang terdekat. Seorang suami yang memaki istrinya, merendahkannya, tidak menafkahi, dan tidak membimbingnya. Seorang istri yang hanya menuntut dan tak pernah menghargai jerih payah suaminya. Anak yang mengabaikan orang tua. Orang tua yang tak membina anaknya. Jika kita pernah menzalimi seseorang, segeralah minta dihalalkan.

Kiat Kedelapan: Banyak Berbuat Baik kepada Sesama

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa amal-amal kebaikan menjaga seseorang dari kematian yang buruk (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Siapa yang sering berbuat baik insya Allah mendapat kesudahan yang baik. Bentuknya sederhana: membantu orang asing, membagi sembako, tersenyum kepada orang lain, memberi kue kepada tetangga, memberi makan orang miskin. Jika tak mampu dengan harta, bantulah dengan tenaga, pikiran, atau syafaat berupa rekomendasi yang bermanfaat bagi orang yang membutuhkan.

Tanda-Tanda Husnul Khatimah

Ustadz Firanda menyebutkan sejumlah tanda yang disebutkan dalam dalil.

Mengucapkan kalimat tauhid. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang akhir ucapannya laa ilaha illallah, ia masuk surga (HR. Abu Dawud). Karena itu orang yang hendak wafat ditalqin dengan kalimat tersebut. Nabi ﷺ sendiri di akhir hayatnya mengucapkan permohonan untuk bersama Ar-Rafiqul A'la, setelah beliau diberi pilihan (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha). Ada pula yang wafat sambil membaca Al-Qur'an atau bertakbir. Pepatah Arab mengatakan, setiap bejana mengeluarkan isinya. Jika hati kita dipenuhi Al-Qur'an, itulah yang keluar. Jika dipenuhi nyanyian, itu pula yang keluar.

Dahi berkeringat. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seorang mukmin wafat dengan dahi berkeringat (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah).

Wafat pada malam atau hari Jumat. Orang yang wafat pada saat itu dijauhkan dari fitnah kubur (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).

Wafat sebagai syahid. Bukan hanya yang gugur di medan perang. Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat siapa yang mereka anggap syahid. Mereka menjawab bahwa yang syahid adalah yang gugur di jalan Allah. Beliau bersabda bahwa kalau demikian, syuhada umatku sedikit. Lalu beliau menyebutkan: yang gugur di jalan Allah, yang wafat karena wabah, yang wafat karena sakit perut, dan yang wafat karena tenggelam (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Dalam riwayat lain disebutkan pula yang wafat tertimpa reruntuhan.

Dipuji oleh orang-orang beriman. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa para sahabat melewati dua jenazah. Jenazah pertama mereka puji dengan kebaikan, dan Nabi ﷺ bersabda, "Wajib baginya (surga)." Jenazah kedua mereka sebut dengan keburukan, dan beliau bersabda, "Wajib baginya (neraka)." Beliau menjelaskan, "Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maka jika seorang yang saleh wafat dan orang-orang beriman memujinya, itu pertanda baik.

Kesimpulan

Tak ada yang bisa menjamin akhir hidup kita, dan karena itulah orang-orang terbaik seperti Umar dan Sufyan Ats-Tsauri pun gentar. Ketakutan ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan agar kita bergerak: bertakwa dan menjauhi maksiat, kecil maupun besar; sering mengingat kematian; segera bertobat; memperbanyak amal tersembunyi; berdoa; berbaik sangka kepada Allah; tidak menzalimi siapa pun; dan memperbanyak kebaikan kepada sesama.

Karena manusia wafat di atas kebiasaannya, yang kita bangun hari ini sesungguhnya adalah penutup hidup kita kelak. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diuji, dan segera bertobat ketika berbuat dosa, serta mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah. Amin ya Rabbal 'alamin.


Artikel ini disusun dari kajian "Meraih Husnul Khotimah" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.



Posting Komentar

0 Komentar