Para ulama menyebut masa setelah puncak haji sebagai waktu barokah — ketika dosa-dosa telah diampuni dan jamaah kembali suci seperti bayi yang baru lahir. Inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah dan ziarah, sebelum kembali ke kehidupan duniawi. Rasulullah ï·º bersabda, "Barangsiapa menunaikan haji, maka ia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, niscaya ia kembali (suci dari dosa) seperti hari ketika ibunya melahirkannya."
Menyusuri Jejak Sejarah: Jabal Tsur, Jabal Rahmah, dan Museum Wahyu
Tanggal 14 Juni 2025 menjadi hari pertama kami berziarah. Pembimbing kloter mengatur perjalanan ziarah menggunakan bus yang mengangkut seluruh jamaah Kloter 28 UPG. Destinasi pertama adalah Jabal Tsur, gunung bersejarah di selatan Mekkah yang menyimpan kenangan heroik Rasulullah ï·º dan sahabatnya Abu Bakar ash-Shiddiq.
Jabal Tsur adalah tempat bersejarah yang diabadikan dalam Al-Qur'an, tepatnya Surah At-Taubah ayat 40. Di gua di puncak gunung inilah Rasulullah ï·º dan Abu Bakar ash-Shiddiq bersembunyi selama tiga hari tiga malam dari kejaran kafir Quraisy ketika hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Ketika pasukan Quraisy sudah sangat dekat dengan mulut gua, Abu Bakar khawatir dan berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya dia akan melihat kita." Rasulullah ï·º menjawab dengan tenang, "Wahai Abu Bakar, apa sangkaanmu tentang dua orang yang Allah adalah yang ketiganya?"
Saat itulah Allah menurunkan keajaiban: seekor laba-laba merajut sarangnya di mulut gua, dan sepasang burung merpati bersarang di sana — sehingga pasukan Quraisy mengira gua tersebut sudah lama tidak ada yang masuk dan akhirnya berlalu begitu saja.
Kami tidak mendaki ke puncak — mengingat medan yang cukup terjal dan kondisi fisik sebagian jamaah yang sudah lelah pasca puncak haji. Kami hanya berdiri di kaki bukit, memandang ke atas, membayangkan betapa berat perjuangan mereka — dan betapa agung perlindungan Allah yang selalu menyertai. Beberapa jamaah menangis terharu, merenungkan pengorbanan Rasulullah ï·º demi tegaknya Islam yang kini kita rasakan berkahnya.
Perjalanan dilanjutkan ke Jabal Rahmah di Arafah. Seminggu sebelumnya, saat wuquf, kami hanya fokus beribadah di dalam tenda dan belum sempat menjelajahi sudut lain Arafah, termasuk bukit legendaris ini. Kali ini, kami puas mengelilinginya, merasakan kehangatan spiritual di tempat yang konon menjadi lokasi pertemuan kembali Nabi Adam dan Hawa setelah keduanya diturunkan ke bumi dari surga dan terpisah selama ratusan tahun.
Menurut riwayat, setelah diturunkan dari surga akibat memakan buah terlarang, Nabi Adam dan Hawa terpisah. Nabi Adam diturunkan di India atau Sri Lanka, sementara Hawa di Jeddah. Keduanya mencari satu sama lain selama berabad-abad hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka kembali di Arafah — di bukit yang kini dikenal sebagai Jabal Rahmah (Bukit Kasih Sayang). Di sinilah mereka saling memaafkan dan memohon ampun kepada Allah. Inilah mengapa Arafah bukan hanya tempat wuquf bagi jamaah haji, tetapi juga simbol pengampunan, perjumpaan kembali, dan rahmat Allah yang tiada batas.
Destinasi terakhir hari itu adalah Museum Wahyu di kaki Jabal Nur, bagian utara Kota Mekkah. Museum wisata religi modern ini menampilkan rekonstruksi turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah ï·º melalui diorama, artefak, animasi 3D, dan pameran interaktif.
Pada malam 17 Ramadan tahun 610 M — ketika Rasulullah ï·º berusia 40 tahun — beliau sedang bertahannuts (beribadah dan merenung) di Gua Hira di puncak Jabal Nur, sebagaimana kebiasaan beliau selama bulan Ramadan. Tiba-tiba datang Malaikat Jibril dan berkata, "Iqra'!" (Bacalah!). Rasulullah menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluknya dengan erat hingga terasa sesak, lalu melepaskannya dan kembali berkata, "Iqra'!" Hal ini terulang tiga kali, hingga akhirnya turunlah lima ayat pertama Surah Al-'Alaq:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 1-5)
Yang paling berkesan di museum ini adalah replika Gua Hira dengan dimensi dan bentuk persis seperti aslinya di puncak Jabal Nur — sempit, rendah, hanya cukup untuk satu atau dua orang duduk bersimpuh. Berdiri di depan replika tersebut, saya terbayang betapa sederhana tempat di mana peradaban Islam dimulai. Museum ini berada di kompleks Hira Cultural District yang juga dilengkapi pusat perbelanjaan dan kafe — perpaduan sempurna antara ziarah spiritual dan kenyamanan modern.
Berburu Oleh-Oleh di "Tanah Abang"-nya Mekkah
Tanggal 17 Juni 2025, kami turun ke Pasar Ka'kiyah (Sûq al-Ka'kiyah), pusat grosir terbesar di Mekkah yang terletak sekitar 8 km di sebelah selatan Masjidil Haram. Pasar tiga lantai di Jalan Ibrahim Alkalil ini memang pantas dijuluki "Tanah Abang"-nya Mekkah—tempatnya ramai, produknya lengkap, dan harganya jauh lebih murah dibandingkan toko-toko di sekitar Haram. Abaya, kurma, sajadah, parfum, semua tersedia. Kuncinya hanya satu: jago menawar. Bagi jemaah Indonesia yang terbiasa berbelanja di pasar tradisional, tempat ini surga dunia.
Sunset di Jabal Khandamah: Pemandangan yang Tak Terlupakan
Sore tanggal 19 Juni, kami mendaki Jabal Khandamah, bukit ikonik yang menjadi spot foto favorit jemaah Indonesia. Hanya 10–15 menit berjalan kaki dari Masjidil Haram, bukit ini menawarkan panorama Masjidil Haram dan Zamzam Tower dari ketinggian—pemandangan yang benar-benar memukau.
Kami tiba sekitar pukul 17.30, masih sekitar satu setengah jam sebelum Maghrib. Bukit sudah mulai ramai dengan jamaah dari berbagai negara — Indonesia, Malaysia, Turki, Pakistan — semua datang dengan tujuan yang sama: menyaksikan matahari terbenam sambil memandang Baitullah dari ketinggian.
Kami mencari tempat duduk yang strategis di antara bebatuan. Istri saya menggelar tikar kecil yang kami bawa, sementara saya mempersiapkan kamera untuk mengabadikan momen ini. Meski cuaca masih sangat panas — suhu sekitar 42 derajat — angin yang berhembus di bukit ini sedikit lebih segar dibanding di jalanan kota.
Perlahan, matahari mulai bergerak ke ufuk barat. Langit yang tadinya biru cerah mulai berubah warna — menjadi jingga keemasan, lalu merah menyala seperti bara api. Cahaya matahari yang mulai redup menyinari kubah hijau dan emas Masjidil Haram, membuatnya berkilau seperti mahkota permata raksasa yang terhampar di tengah kota. Menara jam Abraj Al-Bait yang menjulang tinggi — tertinggi di dunia setelah Burj Khalifa — berdiri megah di sebelahnya, seolah menjadi penjaga setia Baitullah.
Saat matahari hampir tenggelam sempurna, langit berubah menjadi gradasi warna yang luar biasa: ungu kemerahan di bagian barat, biru gelap di bagian timur, dan garis tipis emas di cakrawala. Angin sore mulai bertiup lebih kencang, membawa aroma khas Mekkah — campuran antara wangi minyak misik dari jamaah, aroma kurma, dan debu gurun yang kering.
Lalu, tepat pukul 19.00, azan Maghrib berkumandang dari ribuan speaker yang tersebar di seluruh Masjidil Haram. Suara azan bergema di antara lembah dan bukit-bukit di sekeliling Mekkah, terdengar seperti panggilan dari langit. Semua orang di Jabal Khandamah terdiam — sebagian menutup mata sambil mengangkat tangan berdoa, sebagian menangis dalam diam, sebagian merekam momen ini dengan kamera sambil mata mereka berkaca-kaca.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Saya memegang tangan istri. Kami berdua tidak berbicara. Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan keindahan dan keagungan yang kami saksikan sore itu. Luar biasa indah. Pemandangan Masjidil Haram dari ketinggian bukit Khandamah saat matahari terbenam adalah salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan haji kami — momen yang akan terus tersimpan dalam ingatan hingga akhir hayat.
Hari Terakhir di Mekkah: Tawaf Wada' Penuh Haru
Tibalah tanggal 21 Juni 2025—hari terakhir kami di Kota Mekkah. Saya dan istri sepakat untuk menghabiskan seluruh hari di Masjidil Haram, melaksanakan shalat lima waktu dan menutupnya dengan Tawaf Wada', tawaf perpisahan sebagai penghormatan terakhir kepada Baitullah sebelum meninggalkan Mekkah.
Salah satu perubahan yang kami syukuri pasca puncak haji adalah kini jamaah sudah dibolehkan tawaf di pelataran Ka'bah dengan menggunakan pakaian biasa — tidak harus mengenakan kain ihram seperti sebelumnya. Sebelum puncak haji, hanya jamaah yang mengenakan ihram saja yang diizinkan tawaf di pelataran; jamaah dengan pakaian biasa harus tawaf di lantai atas. Kini, setelah menunaikan haji dan kembali dalam kondisi tahallul, kami bebas tawaf di mana saja — dan tentunya, tawaf di pelataran langsung memberikan pengalaman spiritual yang jauh lebih mendalam.
Di sela-sela waktu shalat, kami beristirahat dan mencari makan di pusat perbelanjaan sekitar Haram. Lalu, setelah shalat Isya, kami melangkah menuju Ka'bah untuk putaran terakhir.
Rasa sedih yang dalam meliputi hati kami saat melakukan tawaf wada' itu. Setiap langkah terasa berat. Berat rasanya berpisah dengan Baitullah setelah sebulan penuh tinggal di Kota Suci ini. Keesokan harinya, kami akan berangkat ke Madinah—dan entah kapan kami akan kembali lagi ke sini.
Tips Praktis untuk Calon Jemaah Haji 2026/1447 H
Sebelum menutup catatan ini, ada beberapa informasi dan tips yang ingin saya bagikan kepada saudara-saudaraku yang akan menunaikan ibadah haji tahun depan:
1. Jaga Kondisi Tubuh Menjelang Puncak Haji
Jangan terlalu memforsir diri dengan bolak-balik ke Masjidil Haram sebelum puncak haji. Simpan energi agar tetap fit saat wuquf di Arafah. Saya sendiri sempat mengalami nyeri hebat di kaki kiri sehari sebelum berangkat ke Arafah—sampai tidak bisa jalan. Alhamdulillah, setelah diberi obat oleh petugas kesehatan kloter, nyerinya hilang beberapa jam sebelum keberangkatan. Kata petugasnya, itu spasme otot karena terlalu banyak jalan.
Pasca puncak haji, saya juga batuk pilek parah sampai keluar dahak bercampur darah dan suara hilang. Hampir semua jamaah mengalami ini karena kelelahan ditambah cuaca panas yang sangat ekstrem. Untuk mengatasi batuk pilek, dokter kloter memberikan antibiotik dan obat batuk. Namun yang paling efektif menurut pengalaman saya adalah istirahat cukup dan minum air hangat dicampur madu. Banyak jamaah juga membawa minyak kayu putih dari Indonesia yang sangat membantu melegakan pernapasan.
2. Transportasi: Bus Shalawat, Uber, dan Careem
Bus Shalawat tersedia 24 jam untuk mengantarkan jamaah dari hotel ke Masjidil Haram—gratis dan nyaman. Namun, bus ini tidak beroperasi selama puncak haji, jadi siapkan alternatif seperti taksi umum atau taksi online via aplikasi Uber atau Careem.
Saya pribadi menggunakan Careem karena kesulitan menginstal Uber. Cara menggunakannya cukup mudah: download aplikasi Careem dari Play Store atau App Store, daftar menggunakan nomor telepon (bisa nomor Indonesia atau nomor lokal Arab Saudi), masukkan lokasi penjemputan dan tujuan, pilih jenis kendaraan, dan konfirmasi pesanan. Pembayaran bisa pilih cash atau kartu kredit. Sangat praktis. Tarif biasanya sekitar 15–25 Riyal untuk jarak hotel ke Masjidil Haram, tergantung waktu dan kepadatan lalu lintas.
3. Paket Telepon dan Internet
Saya membeli paket prabayar Telkomsel seharga 1 jutaan. Karena penggunaan data yang banyak, saya top-up lagi setelah puncak haji—dengan kuota sama tapi harga sudah turun setengahnya. Saya juga membeli nomor lokal di gerai STC yang banyak tersebar di Mekkah. Alternatif operator lain adalah Zain dan Mobily, harganya relatif sama.
4. Kamar Barokah dan Perayaan Pribadi
Selama di Mekkah, saya dan istri sempat dua kali "kabur" dari hotel dan menginap di tempat lain—alias mencari kamar barokah. Salah satunya pada 14 Juni 2025, kami merayakan ulang tahun pernikahan ke-18 dengan menginap di Novotel Thakher Makkah Hotel. Saya pesan via Agoda, karena sebelumnya coba pakai Traveloka tapi pesanan tidak masuk ke hotel meski pembayaran sudah berhasil.
5. Jangan Bawa Barang Terlalu Banyak
Tidak perlu bawa banyak baju dan barang dari Indonesia. Di hotel Mekkah sudah disediakan mesin cuci (kecuali di Madinah harus bayar laundry). Kalau ada yang kurang, bisa beli di Mekkah dengan harga terjangkau. Lebih baik kopernya dipakai untuk oleh-oleh keluarga di tanah air.
Karena kebanyakan bawa barang, saya terpaksa memesan kargo via Pos Indonesia untuk mengirim sebagian barang karena over bagasi. Prosesnya cukup mudah: di asrama haji Mekkah (sebelum berangkat ke Madinah) tersedia petugas Pos Indonesia yang siap membantu. Anda tinggal siapkan barang yang akan dikirim, petugas akan menimbang dan menyediakan box/kardus (bisa beli di tempat atau bawa sendiri), lalu mengisi formulir pengiriman. Tarifnya 22 Riyal per kg, belum termasuk ongkos box (15–22 Riyal tergantung ukuran). Pembayaran bisa cash, transfer atau QRIS. Barang akan tiba di Indonesia sekitar 2–3 minggu kemudian dan diantarkan langsung ke rumah sesuai alamat yang didaftarkan.
Pekan terakhir di Mekkah adalah pekan penuh kenangan. Setiap sudut kota ini menyimpan cerita, setiap batu di jalannya memiliki sejarah. Dari Jabal Tsur yang menyaksikan perjuangan hijrah Rasulullah ï·º, Jabal Rahmah yang menjadi saksi pertemuan kembali Adam dan Hawa, Museum Wahyu yang mengingatkan kita pada awal turunnya Islam, hingga Jabal Khandamah yang memberikan pemandangan terindah atas Baitullah — semua meninggalkan jejak mendalam di hati.
Dan kami tahu, begitu meninggalkan kota ini, yang tersisa hanyalah kenangan — dan doa agar suatu hari nanti, jika Allah masih memberikan umur dan kesempatan, kami bisa kembali lagi ke Tanah Suci ini. Aamiin ya Rabbal 'alamiin.
Bersambung ke bagian kelima...
0 Komentar