Melalui rangkaian tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman lengkap perjalanan kami — mulai dari awal pendaftaran, proses administrasi yang cukup panjang, hingga puncak pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. Semoga bisa menjadi referensi yang bermanfaat bagi siapapun yang sedang mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah yang sama.
Dua Belas Tahun Menunggu
Perjalanan ini dimulai jauh sebelum hari keberangkatan.
Kami membuka rekening haji dan mendapatkan nomor porsi pada Januari 2013 di Tangerang Selatan. Artinya, kami menunggu selama dua belas tahun untuk bisa berangkat. Mungkin masa tunggunya bisa lebih singkat seandainya pandemi Covid-19 tidak datang dan membekukan penyelenggaraan haji selama dua tahun berturut-turut (2020 dan 2021).
Masa tunggu dua belas tahun ini bukan tanpa hikmah. Selama periode itu, banyak hal berubah dalam hidup kami: saya menyelesaikan studi pascasarjana, kami dikaruniai anak ketiga, hijrah ke Makassar, hingga penugasan ke Gorontalo sebagai Kepala LLDIKTI Wilayah XVI pada tahun 2022. Semua fase kehidupan itu kami lalui sambil terus menyisihkan dana untuk melunasi BIPIH dan mempersiapkan diri secara mental dan spiritual.
Untuk memantau estimasi keberangkatan, saya menggunakan data SISKOHAT (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu) yang bisa diakses melalui beberapa aplikasi, salah satunya Aplikasi Satu Haji yang dirilis secara resmi oleh Kementerian Agama. Pada tanggal 20 September 2024, saya mendatangi langsung Kantor Kemenag Kota Tangerang Selatan untuk konfirmasi. Di sana, Ibu Mahfiyah dan Pak Irfansyah menyampaikan kabar yang saya tunggu-tunggu: nomor porsi saya dan istri sudah pasti berangkat pada tahun 2025. Kami diminta menunggu informasi lanjutan terkait pemeriksaan kesehatan dan pelunasan biaya yang akan diumumkan menjelang akhir tahun.
Pemeriksaan Kesehatan: Dari Gorontalo ke Serpong
Menjelang akhir tahun, petugas dari Puskesmas Setu Tangerang Selatan menghubungi kami perihal pemeriksaan kesehatan untuk mendapatkan status Istita'ah — kelayakan kesehatan sebagai syarat pemberangkatan haji.
Karena saat itu kami berdomisili di Gorontalo, pemeriksaan kesehatan lengkap kami lakukan di Prodia Gorontalo, yang menyediakan paket medical check-up khusus calon jamaah haji seharga sekitar Rp1,2 juta. Pemeriksaan ini mencakup cek darah lengkap, rontgen paru-paru, elektrokardiogram (EKG), fungsi ginjal dan hati, serta konsultasi dengan dokter. Hasil pemeriksaan kemudian dikirimkan ke Puskesmas Setu. Pada akhir Desember, kami terbang ke Serpong untuk menjalani pemeriksaan terakhir bersama dokter di Puskesmas Setu, yang hasilnya kemudian diinput ke SISKOHAT sebagai syarat pelunasan biaya haji.
Hasil pemeriksaan saya: Istitaah dengan pendampingan — karena kadar kolesterol saya di atas normal saat pemeriksaan. Sebuah pengingat untuk lebih menjaga pola makan, tentunya. Istri saya alhamdulillah mendapat status Istitaah tanpa catatan khusus.
Selain pemeriksaan kesehatan umum, ada beberapa prosedur tambahan yang harus dipenuhi. Kami menjalani vaksinasi wajib meningitis (Meningococcal ACYW135) dan polio. Vaksinasi meningitis sangat penting karena penyakit ini mudah menular di tengah kerumunan jutaan jemaah haji dari berbagai negara. Untuk jamaah perempuan, ada kewajiban dua kali pemeriksaan urin untuk memastikan tidak dalam kondisi hamil — pemeriksaan terakhir dilakukan saat masuk asrama haji.
Beberapa pekan sebelum keberangkatan, kami juga menjalani tes kebugaran menggunakan aplikasi SIPGAR (Sistem Pemeriksaan Kebugaran), yang mengukur waktu tempuh masing-masing jamaah untuk jarak 1,6 kilometer. Tes ini penting untuk mengetahui tingkat kebugaran jamaah, mengingat rangkaian ibadah haji — terutama saat puncak haji — menuntut stamina fisik yang prima. Saya menyelesaikan tes ini dalam waktu sekitar 18 menit, sedangkan istri saya 22 menit.
Mutasi Keberangkatan: Dari Pondok Gede ke Makassar
Karena kami mendaftar haji di Tangerang Selatan, secara default keberangkatan kami seharusnya melalui Embarkasi Pondok Gede (JKG). Namun, dengan berbagai pertimbangan — terutama karena kami sekarang bertugas dan tinggal di Gorontalo — kami memutuskan untuk mengajukan mutasi keberangkatan ke Kota Gorontalo, yang embarkasi haji-nya berangkat dari Bandara Makassar (UPG).
Kementerian Agama memang membuka peluang mutasi bagi jamaah yang telah pindah domisili. Karena KTP saya masih tercatat di Tangerang Selatan, saya melampirkan SK penugasan ke Gorontalo sebagai dasar pengajuan. Permohonan mutasi saya ajukan ke Kepala Kantor Kemenag Tangsel pada 19 Februari 2025, yang kemudian diteruskan ke Kanwil Kemenag Provinsi Banten untuk dikoordinasikan dengan Kanwil Kemenag Provinsi Gorontalo.
Saya juga membangun komunikasi secara paralel dengan Kepala Bidang Haji di Kanwil Kemenag Gorontalo, Pak Mansur, yang kemudian menugaskan Pak Arman untuk membantu memantau proses ini. Konsultasi tambahan saya lakukan di Kantor Kemenag Kota Gorontalo, yang dilayani oleh Pak Adam.
Alhamdulillah — pelayanan dari Kanwil Kemenag Gorontalo maupun Kantor Kemenag Kota Gorontalo sangat responsif dan cepat. Pak Irfan dari Kemenag Tangsel pun sangat membantu melancarkan prosesnya. Pengalaman ini menguatkan keyakinan saya bahwa birokrasi pemerintah, jika dijalankan dengan integritas dan semangat melayani, bisa sangat efisien dan membantu masyarakat.
Pada 18 Maret 2025, rekomendasi mutasi terbit dari Kanwil Kemenag Banten. Lalu pada 14 April 2025, rekomendasi dari Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri pun keluar. Mutasi ini ternyata membawa berkah tambahan yang tidak terduga: kami mendapat pengembalian selisih BIPIH sebesar Rp1.204.830 per orang. Rezeki yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Hehehe. Selisih ini terjadi karena BIPIH embarkasi Makassar lebih rendah dibandingkan embarkasi Jakarta — terutama dari komponen biaya transportasi.
Pelunasan Biaya Haji
Sambil menunggu proses mutasi selesai, kami melakukan pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BIPIH) sebesar Rp58.875.751 per orang. Karena di awal pembukaan rekening sudah ada setoran awal Rp25 juta, maka selisih yang harus kami lunasi adalah sebesar Rp31.581.998 per orang.
Pelunasan dilakukan di Bank Syariah Indonesia (BSI) — bank yang terbentuk dari merger Bank Syariah Mandiri (BSM), BNI Syariah, dan BRI Syariah, tempat kami dulu membuka rekening haji pertama kali. Setelah pelunasan, kami menerima paket perlengkapan: kain ihram untuk jamaah laki-laki dan mukena untuk jamaah perempuan, lengkap dengan tas kecil untuk membawa perlengkapan ibadah.
BIPIH ini mencakup seluruh komponen penyelenggaraan haji: tiket pesawat pulang-pergi, akomodasi hotel di Mekkah dan Madinah, konsumsi tiga kali sehari, transportasi lokal di Arab Saudi, pembimbing ibadah, petugas kesehatan, hingga perlengkapan seperti koper dan seragam haji. Pemerintah Indonesia memang mensubsidi sebagian biaya haji, sehingga BIPIH yang dibayarkan jamaah tidak mencerminkan biaya full cost penyelenggaraan.
Paspor dan Visa: Lebih Mudah dari yang Dibayangkan
Karena paspor saya sudah habis masa berlakunya, saya harus mengurus penerbitan paspor baru. Prosesnya ternyata cukup mudah — cukup mengajukan permohonan melalui aplikasi M-Paspor di Android, memilih jadwal kedatangan ke kantor imigrasi untuk wawancara dan foto.
Saya memilih jadwal tanggal 12 Desember 2024, dan paspor baru sudah bisa diambil pada 17 Desember 2024 — hanya lima hari. Saya memilih paspor elektronik dengan masa berlaku 10 tahun, dengan biaya Rp950.000 yang dibayarkan melalui virtual account. Proses ini jauh lebih cepat dan efisien dibandingkan pengalaman saya mengurus paspor pertama kali dua puluh tahun lalu, yang memakan waktu hampir dua minggu dan mengharuskan saya datang berkali-kali ke kantor imigrasi.
Untuk visa haji, prosesnya bahkan lebih sederhana — sepenuhnya dilakukan secara daring melalui aplikasi Saudi Visa Bio. Satu hal yang perlu disiapkan adalah kesabaran: proses pemindaian wajah dan sidik jari kadang gagal dan harus diulang beberapa kali. Status pengajuan visa dapat dipantau melalui situs www.mofa.gov.sa. Visa haji saya dan istri keluar dalam waktu kurang dari seminggu setelah pengajuan — sangat cepat dan efisien.
Manasik dan Persiapan Keberangkatan
Dengan seluruh urusan dokumen dan pembayaran tuntas, fokus beralih ke persiapan yang sesungguhnya: memahami manasik haji.
Berbeda dengan ibadah wajib lain dalam rukun Islam yang kita lakukan secara rutin, ibadah haji kemungkinan besar hanya akan kita tunaikan sekali seumur hidup. Maka memahami urutan, tata cara, dan seluk-beluknya bukan sekadar pilihan — ini adalah kewajiban. Kantor Kemenag Kota Gorontalo menyelenggarakan manasik haji selama kurang lebih sepuluh hari, mencakup aspek fikih, praktik ibadah, hingga pengenalan budaya dan kebiasaan di Arab Saudi.
Materi manasik sangat komprehensif: rukun dan wajib haji, perbedaan antara haji tamattu', ifrad, dan qiran, tata cara ihram, tawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, lontar jumrah, tahallul, hingga adab-adab di Tanah Suci. Kami juga dibekali pengetahuan praktis: cara menggunakan toilet Arab, cara berinteraksi dengan petugas lokal, cara menjaga kesehatan di tengah cuaca panas ekstrem, hingga tips mengelola keuangan selama di Arab Saudi.
Saya tergabung dalam Kloter 28 UPG bersama 393 jamaah yang seluruhnya berasal dari Kota Gorontalo. Jamaah dibagi ke dalam 10 rombongan, masing-masing terdiri dari 40 orang, dan setiap rombongan dibagi lagi menjadi 4 regu beranggotakan 10 orang.
Saya masuk Rombongan 7, Regu 25 — dan mendapat amanah sebagai ketua regu. Regu saya terdiri dari 3 jamaah laki-laki dan 7 jamaah perempuan, di mana 3 di antaranya adalah lansia berusia di atas 70 tahun. Bahkan jamaah perempuan tertua di seluruh Kloter 28 — berusia 78 tahun — ada di regu saya. Sebuah amanah yang saya emban dengan penuh rasa tanggung jawab.
Tugas ketua regu cukup berat: memastikan seluruh anggota regu hadir dalam setiap kegiatan, membantu jamaah lansia dalam mobilisasi, mengoordinasikan kebutuhan konsumsi dan obat-obatan, hingga menjadi penghubung antara anggota regu dengan ketua rombongan dan pembimbing. Tapi justru di sinilah saya belajar tentang makna ukhuwah (persaudaraan) dan ta'awun (tolong-menolong) dalam konteks yang paling nyata.
Koper, Asrama, dan Hari Keberangkatan
Pemerintah membagikan dua koper kepada setiap jamaah: satu koper besar untuk bagasi (maksimal 32 kg) dan satu koper kabin (maksimal 7 kg). Keduanya dibagikan pada 11 Mei 2025. Koper besar harus sudah masuk ke asrama haji pada Jumat, 16 Mei 2025, untuk menjalani penimbangan dan pemeriksaan X-Ray pada tanggal 17 Mei.
Proses packing koper adalah pengalaman tersendiri. Kami harus benar-benar selektif membawa barang: pakaian ihram (3 set), pakaian sehari-hari (secukupnya), obat-obatan pribadi, perlengkapan mandi, sandal, sepatu, sajadah, Al-Qur'an, buku doa, powerbank, dan beberapa kebutuhan esensial lainnya. Istri saya sempat bingung karena ingin membawa banyak mukena dan baju — tapi saya ingatkan bahwa di Mekkah dan Madinah nanti banyak toko yang menjual perlengkapan dengan harga terjangkau. Lebih baik ruang koper digunakan untuk oleh-oleh saat pulang. Hehehe.
Pada Senin, 19 Mei 2025, seluruh jamaah Kloter 28 UPG resmi masuk ke Embarkasi Haji Antara (EHA) Gorontalo. Di asrama, kami menjalani pemeriksaan kesehatan akhir, menerima obat-obatan, paspor, gelang haji, dan living cost — seluruhnya terintegrasi dalam satu layanan terpadu yang disebut One Stop Service.
Living cost yang diberikan adalah 525 riyal Saudi per jamaah, setara sekitar Rp2,3 juta. Uang ini bisa digunakan untuk keperluan pribadi selama di Arab Saudi: membeli oleh-oleh, makan di luar katering, transportasi tambahan, atau keperluan lainnya.
Malam berikutnya, setelah dilepas secara resmi oleh Gubernur Gorontalo, Bapak Gusnar Ismail, dalam suasana haru yang penuh doa, kami terbang ke Makassar menggunakan dua pesawat Lion Air. Di Bandara Makassar, kami transit sekitar lima jam sebelum akhirnya boarding ke pesawat Garuda Indonesia pada 21 Mei 2025 pukul 02.00 dini hari.
Penerbangan menuju Jeddah ditempuh selama sekitar 11 jam, dengan satu kali transit di Bandara Kualanamu, Medan, untuk pengisian bahan bakar. Seluruh jamaah sudah mengenakan pakaian ihram sejak dari asrama haji — karena niat umrah akan dilafalkan di atas pesawat saat melintasi miqat Yalamlam, tidak lama sebelum mendarat di Jeddah.
Saat pesawat mulai terbang meninggalkan Makassar, saya melihat ke jendela — lampu-lampu kota perlahan menghilang di kegelapan malam. Hati ini berdebar. Setelah dua belas tahun menunggu, perjalanan menuju Tanah Suci akhirnya benar-benar dimulai.
Bersambung ke Bagian Kedua...
Baca Seri Perjalanan Ibadah Haji 2025
- Dua Belas Tahun Menanti: Perjalanan Panjang Menuju Tanah Suci (Bagian Pertama)
- Tiba di Tanah Suci: Umrah Pertama dan Adaptasi dengan Panas Mekkah (Bagian Kedua)
- Puncak Haji: Enam Jam Terbaik di Arafah dan Ujian di Muzdalifah (Bagian Ketiga)
- Pekan Terakhir di Tanah Suci: Ziarah, Nostalgia, dan Perpisahan dengan Baitullah (Bagian Empat)
- Madinah: Kota Penuh Kedamaian dan Kerinduan Abadi (Bagian Kelima - Penutup)
0 Komentar