Pengalaman Menunaikan Ibadah Haji 2025 (Bagian Pertama)

Alhamdulillah. Tahun ini, saya dan istri akhirnya akan menunaikan salah satu rukun Islam yang telah lama kami nantikan: ibadah haji.

Melalui rangkaian tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman lengkap perjalanan kami — mulai dari awal pendaftaran, proses administrasi yang cukup panjang, hingga puncak pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. Semoga bisa menjadi referensi yang bermanfaat bagi siapapun yang sedang mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah yang sama.


Dua Belas Tahun Menunggu

Perjalanan ini dimulai jauh sebelum hari keberangkatan.

Kami membuka rekening haji dan mendapatkan nomor porsi pada Januari 2013 di Tangerang Selatan. Artinya, kami menunggu selama dua belas tahun untuk bisa berangkat. Mungkin masa tunggunya bisa lebih singkat seandainya pandemi Covid-19 tidak datang dan membekukan penyelenggaraan haji selama dua tahun berturut-turut.

Untuk memantau estimasi keberangkatan, saya menggunakan data SISKOHAT yang bisa diakses melalui beberapa aplikasi, salah satunya Aplikasi Satu Haji yang dirilis resmi oleh Kementerian Agama. Pada tanggal 20 September 2024, saya mendatangi langsung Kantor Kemenag Kota Tangerang Selatan untuk konfirmasi. Di sana, Ibu Mahfiyah dan Pak Irfansyah menyampaikan kabar yang saya tunggu-tunggu: nomor porsi saya dan istri sudah dipastikan berangkat tahun 2025. Kami diminta menunggu informasi lanjutan terkait pemeriksaan kesehatan dan pelunasan biaya yang akan diumumkan menjelang akhir tahun.


Pemeriksaan Kesehatan: Dari Gorontalo ke Serpong

Menjelang akhir tahun, petugas dari Puskesmas Setu Tangerang Selatan menghubungi kami perihal pemeriksaan kesehatan untuk mendapatkan status Istitaah — kelayakan kesehatan sebagai syarat pemberangkatan haji.

Karena saat itu kami berdomisili di Gorontalo, pemeriksaan kesehatan lengkap kami lakukan di Prodia Gorontalo, yang menyediakan paket medical check-up khusus calon jamaah haji seharga sekitar Rp1,2 juta. Hasil pemeriksaan kemudian dikirimkan ke Puskesmas Setu. Pada akhir Desember, kami terbang ke Serpong untuk menjalani pemeriksaan terakhir bersama dokter di Puskesmas Setu, yang hasilnya kemudian diinput ke SISKOHAT sebagai syarat pelunasan biaya haji.

Hasil pemeriksaan saya: Istitaah dengan pendampingan — karena kadar kolesterol saya di atas normal saat pemeriksaan. Sebuah pengingat untuk lebih menjaga pola makan, tentunya.

Selain pemeriksaan kesehatan umum, ada beberapa prosedur tambahan yang harus dipenuhi. Kami menjalani vaksinasi wajib meningitis dan polio. Untuk jamaah perempuan, ada kewajiban dua kali pemeriksaan urin untuk memastikan tidak dalam kondisi hamil — pemeriksaan terakhir dilakukan saat masuk asrama haji. Beberapa pekan sebelum keberangkatan, kami juga menjalani tes kebugaran menggunakan aplikasi SIPGAR, yang mengukur waktu tempuh masing-masing jamaah untuk jarak 1,6 kilometer.


Mutasi Keberangkatan: Dari Pondok Gede ke Makassar

Karena kami mendaftar haji di Tangerang Selatan, secara default keberangkatan kami seharusnya melalui Embarkasi Pondok Gede (JKG). Namun dengan berbagai pertimbangan — terutama karena kami sekarang bertugas dan tinggal di Gorontalo — kami memutuskan untuk mengajukan mutasi keberangkatan ke Kota Gorontalo, yang embarkasi haji-nya berangkat dari Bandara Makassar (UPG).

Kementerian Agama memang membuka peluang mutasi bagi jamaah yang telah pindah domisili. Karena KTP saya masih tercatat di Tangerang Selatan, saya melampirkan SK penugasan ke Gorontalo sebagai dasar pengajuan. Permohonan mutasi saya ajukan ke Kepala Kantor Kemenag Tangsel pada 19 Februari 2025, yang kemudian diteruskan ke Kanwil Kemenag Provinsi Banten untuk dikoordinasikan dengan Kanwil Kemenag Provinsi Gorontalo.

Saya juga membangun komunikasi secara paralel dengan Kepala Bidang Haji di Kanwil Kemenag Gorontalo, Pak Mansur, yang kemudian menugaskan Pak Arman untuk membantu memantau proses ini. Konsultasi tambahan saya lakukan di Kantor Kemenag Kota Gorontalo, dilayani oleh Pak Adam.

Alhamdulillah — pelayanan dari Kanwil Kemenag Gorontalo maupun Kantor Kemenag Kota Gorontalo sangat responsif dan cepat. Pak Irfan dari Kemenag Tangsel pun sangat membantu melancarkan prosesnya.

Pada 18 Maret 2025, rekomendasi mutasi terbit dari Kanwil Kemenag Banten. Lalu pada 14 April 2025, rekomendasi dari Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri pun keluar. Mutasi ini ternyata membawa berkah tambahan yang tidak terduga: kami mendapat pengembalian selisih BIPIH sebesar Rp1.204.830 per orang. Rezeki yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Hehehe.


Pelunasan Biaya Haji

Sambil menunggu proses mutasi selesai, kami melakukan pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BIPIH) sebesar Rp58.875.751 per orang. Karena di awal pembukaan rekening sudah ada setoran awal Rp25 juta, maka selisih yang harus kami lunasi adalah sebesar Rp31.581.998 per orang.

Pelunasan dilakukan di Bank Syariah Indonesia (BSI) — bank yang terbentuk dari merger Bank Syariah Mandiri (BSM), BNI Syariah, dan BRI Syariah, tempat kami dulu membuka rekening haji pertama kali. Setelah pelunasan, kami menerima paket perlengkapan: kain ihram untuk jamaah laki-laki dan mukena untuk jamaah perempuan.


Paspor dan Visa: Lebih Mudah dari yang Dibayangkan

Karena paspor saya sudah habis masa berlakunya, saya harus mengurus penerbitan paspor baru. Prosesnya ternyata cukup mudah — cukup mengajukan permohonan melalui aplikasi M-Paspor di Android, memilih jadwal kedatangan ke kantor imigrasi untuk wawancara dan foto.

Saya memilih jadwal tanggal 12 Desember 2024, dan paspor baru sudah bisa diambil pada 17 Desember 2024 — hanya lima hari. Saya memilih paspor elektronik dengan masa berlaku 10 tahun, dengan biaya Rp950.000 yang dibayarkan melalui virtual account.

Untuk visa haji, prosesnya bahkan lebih sederhana — sepenuhnya dilakukan secara daring melalui aplikasi Saudi Visa Bio. Satu hal yang perlu disiapkan adalah kesabaran: proses pemindaian wajah dan sidik jari kadang gagal dan harus diulang beberapa kali. Status pengajuan visa bisa dipantau melalui situs www.mofa.gov.sa.


Manasik dan Persiapan Keberangkatan

Dengan seluruh urusan dokumen dan pembayaran tuntas, fokus beralih ke persiapan yang sesungguhnya: memahami manasik haji.

Berbeda dengan ibadah wajib lain dalam rukun Islam yang kita lakukan secara rutin, ibadah haji kemungkinan besar hanya akan kita tunaikan sekali dalam seumur hidup. Maka memahami urutan, tata cara, dan seluk-beluknya bukan sekadar pilihan — ini adalah kewajiban. Kantor Kemenag Kota Gorontalo menyelenggarakan manasik haji selama kurang lebih sepuluh hari, mencakup aspek fiqih, praktik ibadah, hingga pengenalan budaya dan kebiasaan di Arab Saudi.

Saya tergabung dalam Kloter 28 UPG bersama 393 jamaah yang seluruhnya berasal dari Kota Gorontalo. Jamaah dibagi ke dalam 10 rombongan, masing-masing terdiri dari 40 orang, dan setiap rombongan dibagi lagi menjadi 4 regu beranggotakan 10 orang.

Saya masuk Rombongan 7, Regu 25 — dan mendapat amanah sebagai ketua regu. Regu saya terdiri dari 3 jamaah laki-laki dan 7 jamaah perempuan, di mana 3 di antaranya adalah lansia berusia di atas 70 tahun. Bahkan jamaah perempuan tertua di seluruh Kloter 28 — berusia 78 tahun — ada di regu saya. Sebuah amanah yang saya emban dengan penuh rasa tanggung jawab.


Koper, Asrama, dan Hari Keberangkatan

Pemerintah membagikan dua koper kepada setiap jamaah: satu koper besar untuk bagasi (maksimal 32 kg) dan satu koper kabin (maksimal 7 kg). Keduanya dibagikan pada 11 Mei 2025. Koper besar harus sudah masuk ke asrama haji pada Jumat, 16 Mei 2025, untuk menjalani penimbangan dan pemeriksaan X-Ray pada tanggal 17 Mei.

Pada Senin, 19 Mei 2025, seluruh jamaah Kloter 28 UPG resmi masuk ke Embarkasi Haji Antara (EHA) Gorontalo. Di asrama, kami menjalani pemeriksaan kesehatan akhir, menerima obat-obatan, paspor, gelang haji, dan living cost — semua terintegrasi dalam satu layanan terpadu yang disebut One Stop Service.

Malam berikutnya, setelah dilepas secara resmi oleh Gubernur Gorontalo, Bapak Gusnar Ismail, kami terbang ke Makassar menggunakan dua pesawat Lion Air. Di Bandara Makassar, kami transit sekitar lima jam sebelum akhirnya boarding ke pesawat Garuda Indonesia pada 21 Mei 2025 pukul 02.00 dini hari.

Penerbangan menuju Jeddah ditempuh selama sekitar 11 jam, dengan satu kali transit di Bandara Kualanamu, Medan, untuk pengisian bahan bakar. Seluruh jamaah sudah mengenakan pakaian ihram sejak dari asrama haji — karena niat umrah akan dilafalkan di atas pesawat saat melintasi miqat Yalamlam, tidak lama sebelum mendarat di Jeddah.


Bersambung ke Bagian Kedua...


Posting Komentar

0 Komentar