Pengalaman Menunaikan Ibadah Haji 2025 (Bagian Kedua)

Setelah penerbangan panjang dari Makassar, pesawat kami akhirnya mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah.

Selesai melewati pemeriksaan imigrasi, perjalanan dilanjutkan menuju Kota Mekkah menggunakan bus. Sepanjang rute Jeddah–Mekkah, karena kami sudah dalam keadaan berihram dengan niat umrah, lantunan talbiyah tidak pernah berhenti dari bibir kami. Bus beberapa kali harus berhenti di pos pemeriksaan untuk verifikasi visa dan kartu Nusuk oleh aparat Kerajaan Arab Saudi.


Hotel dan Umrah Pertama

Setelah sekitar dua jam perjalanan, kami tiba di Hotel Durrat Al Mashair di Sektor 2, Syisyah — tempat kami akan menetap selama sebulan ke depan sebelum bergeser ke Madinah. Begitu tiba, seluruh paspor dikumpulkan dan diganti dengan kartu Nusuk, identitas seragam jamaah haji dari seluruh penjuru dunia. Satu kamar kami tempati bersama lima orang jamaah lain.

Setelah beristirahat sejenak, kami berkumpul di halaman hotel untuk berangkat ke Masjidil Haram menunaikan umrah. Jarak hotel ke Masjidil Haram sekitar 3,5 kilometer — cukup jauh untuk ditempuh jalan kaki. Namun dari depan hotel tersedia Bus Shalawat, shuttle bus yang beroperasi 24 jam non-stop mengantar jamaah pulang-pergi ke Masjidil Haram. Bus ini menurunkan jamaah di Terminal Syib Amir, yang terletak di sisi timur Masjidil Haram.


Tersasar di Terminal yang Salah

Setelah menunaikan umrah dan salat Subuh, saya dan istri memutuskan untuk kembali ke hotel. Di sinilah petualangan tak terduga pertama kami dimulai.

Karena kelelahan dan kurang konsentrasi, kami keliru memasuki terminal bus di sisi tenggara Masjidil Haram — terminal yang diperuntukkan bagi jamaah dari Tiongkok, Rusia, Afghanistan, Uzbekistan, dan negara-negara sekitarnya. Begitu masuk, kami tidak bisa mundur. Ribuan jamaah sudah mengantri rapat di belakang kami, tidak mungkin ditembus.

Tidak ada pilihan selain pasrah mengikuti alur antrean selama kurang lebih 30 menit, baru kemudian kami bisa berjalan kembali ke Terminal Syib Amir yang seharusnya. Pelajaran berharga di hari pertama: jangan terlalu percaya diri soal arah ketika sedang kelelahan.


Musim Panas yang Tidak Main-main

Ibadah haji tahun ini berlangsung di puncak musim panas. Azan Subuh berkumandang pukul 04.10, sementara Maghrib baru masuk pukul 19.00 — artinya siang yang panjang dengan terik yang luar biasa. Di siang hari, suhu udara mencapai 47 derajat Celsius. Yang lebih mengejutkan, malam hari pun tidak terasa sejuk — angin yang berhembus justru terasa panas, seperti berdiri di depan mulut oven.

Dokter kloter terus mengingatkan agar jamaah memperbanyak minum untuk menghindari dehidrasi. Oralit menjadi minuman wajib untuk menjaga keseimbangan elektrolit. Kami juga dianjurkan untuk lebih banyak beristirahat dan menyimpan stamina untuk puncak haji yang dijadwalkan mulai 6 Zulhijjah atau 4 Juni. Salat berjamaah dianjurkan cukup di masjid hotel saja, hanya sesekali ke Masjidil Haram — semua demi menjaga kondisi tubuh.

Di balik terik yang menyengat itu, ada satu keuntungan kecil yang kami syukuri: cucian cepat sekali kering. Kurang dari satu jam, pakaian yang dijemur di rooftop hotel sudah kering sempurna.


Urusan Cuci-Mencuci

Di rooftop hotel tersedia belasan mesin cuci yang bisa digunakan jamaah secara gratis. Pagi hari biasanya sudah ramai — antrean mesin cuci pun tidak terhindarkan. Beruntung, di setiap lantai juga tersedia mesin cuci, sehingga saya lebih sering mencuci di lantai kamar sendiri daripada naik ke rooftop.

Satu penyesalan kecil: saya membawa terlalu banyak pakaian. Karena pakaian kering begitu cepat, saya lebih sering langsung memakai baju dan sirwal yang baru selesai dicuci — sehingga banyak pakaian yang tidak sempat tersentuh sama sekali.

Perlu dicatat: mesin cuci hanya tersedia di hotel-hotel di Mekkah. Di Madinah, mayoritas hotel tidak menyediakan fasilitas ini, sehingga jamaah harus menggunakan jasa laundry.


Sistem Piket Makan: Solusi Sederhana yang Efektif

Sebagai ketua regu, salah satu tanggung jawab saya adalah memastikan seluruh anggota regu makan tepat waktu. Awalnya, setiap ketua regu harus mengambil jatah makan di dapur untuk kemudian dibagikan kepada anggotanya masing-masing — setiap hari, tanpa kecuali.

Saya kemudian berinisiatif mengusulkan sistem piket kepada para ketua regu lain di Rombongan 7. Dengan sistem ini, setiap ketua regu hanya bertugas satu hari — tapi di hari tersebut ia bertanggung jawab mendistribusikan makanan untuk seluruh 40 anggota rombongan. Di tiga hari berikutnya, giliran ketua regu lain yang bertugas, dan ia bisa beristirahat.

Alhamdulillah, seluruh anggota Rombongan 7 sangat kompak. Makanan selalu terdistribusi tepat waktu. Menu pun cukup bervariasi — bergantian antara ayam, ikan, dan daging, disertai sayuran yang beragam.


Belanja di Mekkah: Dari Pasar Kaget hingga Supermarket

Di sekitar hotel, banyak toko yang menjual berbagai kebutuhan — dari makanan dan minuman, pakaian, hingga oleh-oleh. Untuk kebutuhan camilan sehari-hari, saya biasa mampir ke toko kecil yang terletak persis di samping hotel.

Kalau ingin belanja dalam jumlah lebih banyak, ada dua pilihan yang sering saya kunjungi: Supermarket Bin Dawood sekitar 500 meter dari hotel, dan Abrar Supermarket di lantai 4 Zamzam Tower. Untuk pakaian dan oleh-oleh, Pasar Ka'kiyah adalah surga — pilihan melimpah dengan harga yang bisa sangat murah, asalkan tidak malu untuk menawar.

Yang paling menghibur adalah pasar kaget yang sering muncul di sekitar hotel, biasanya ramai di pagi hari. Para pedagang menggelar dagangannya di atas kain di trotoar atau badan jalan. Begitu ada polisi yang berpatroli, mereka dengan sigap membungkus seluruh dagangan dan berlarian menghindar. Menyaksikannya, perasaan saya selalu campur aduk — antara geli dan iba.

Soal pembayaran, sebagian besar pedagang menerima rupiah dengan kurs rata-rata Rp5.000 per riyal. Saya pribadi lebih memilih membayar dengan kartu debit atau kartu kredit saat berbelanja di toko atau supermarket, karena kurs yang didapat bisa lebih menguntungkan — sekitar Rp4.400 per riyal. Namun tidak semua toko menerima pembayaran non-tunai, sehingga beberapa kali saya tetap harus tarik tunai di ATM ANB atau Al Rajhi.


Bersambung ke Bagian Ketiga...


Posting Komentar

0 Komentar