Proses di bandara cukup panjang, namun terorganisir dengan baik. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi — di mana paspor dan visa kami diperiksa satu per satu — kami berkumpul di area tunggu untuk menunggu bus yang akan membawa kami ke Mekkah. Meski lelah setelah perjalanan udara yang panjang, semangat kami tetap menggebu. Ini adalah langkah pertama kami di Tanah Suci.
Perjalanan Jeddah–Mekkah: Talbiyah Tanpa Henti
Perjalanan dilanjutkan menuju Kota Mekkah menggunakan bus. Sepanjang rute Jeddah–Mekkah yang berjarak sekitar 80 kilometer, karena kami sudah dalam keadaan berihram dengan niat umrah sejak di pesawat, lantunan talbiyah tidak pernah berhenti dari bibir kami:
"Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syarika lak."
(Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.)
Di dalam bus, suasana sangat khusyuk. Beberapa jamaah menangis terharu — setelah bertahun-tahun menanti, akhirnya mereka benar-benar melangkah di Tanah Suci. Bus beberapa kali harus berhenti di pos pemeriksaan untuk verifikasi visa dan kartu Nusuk oleh aparat Kerajaan Arab Saudi. Petugas sangat ketat memastikan bahwa setiap jamaah memiliki izin resmi untuk memasuki wilayah suci Mekkah.
Sepanjang perjalanan, pemandangan gurun pasir terbentang luas di kiri-kanan jalan. Sesekali terlihat bukit-bukit berbatu yang tandus. Namun begitu mendekati Mekkah, pemandangan mulai berubah — gedung-gedung pencakar langit mulai terlihat, terutama Abraj Al-Bait Clock Tower yang menjulang tinggi di samping Masjidil Haram, menara jam terbesar di dunia yang tingginya mencapai 601 meter.
Hotel dan Umrah Pertama
Setelah sekitar dua jam perjalanan, kami tiba di Hotel Durrat Al Mashair di Sektor 2, Syisyah — tempat kami akan menetap selama sebulan ke depan sebelum bergeser ke Madinah. Hotel ini tergolong hotel kelas menengah, berlantai 10, dengan fasilitas yang cukup memadai: AC di setiap kamar, lift, rooftop untuk menjemur pakaian, dan mesin cuci gratis di setiap lantai.
Begitu tiba, seluruh paspor dikumpulkan dan diganti dengan kartu Nusuk, identitas seragam jamaah haji dari seluruh penjuru dunia. Kartu ini wajib dibawa ke mana-mana, karena menjadi syarat untuk masuk ke area-area tertentu di Masjidil Haram dan selama rangkaian puncak haji nanti. Satu kamar kami tempati bersama lima orang jamaah lain — total enam orang dalam satu kamar berukuran sekitar 4x5 meter. Ruang gerak terbatas, tapi semua kami terima dengan lapang dada. Ini bagian dari ujian kesabaran dan kebersamaan.
Setelah beristirahat sejenak — dan mandi untuk menyegarkan badan setelah perjalanan panjang — kami berkumpul di halaman hotel untuk berangkat ke Masjidil Haram menunaikan umrah pertama. Jarak hotel ke Masjidil Haram sekitar 3,5 kilometer — cukup jauh untuk ditempuh jalan kaki, terutama di tengah cuaca panas yang menyengat. Namun, di depan hotel tersedia Bus Shalawat, shuttle bus yang beroperasi 24 jam non-stop mengantar jamaah pulang-pergi ke Masjidil Haram secara gratis. Bus ini menurunkan jamaah di Terminal Syib Amir, yang terletak di sisi timur Masjidil Haram.
Begitu turun dari bus dan melangkah memasuki area Masjidil Haram, hati ini berdebar sangat kencang. Saya tidak bisa menahan air mata. Ini adalah momen yang saya tunggu sejak dua belas tahun lalu. Ka'bah kini berada tepat di depan mata. Megah, khidmat, dan penuh keagungan.
Kami melaksanakan tawaf tujuh putaran mengelilingi Ka'bah, dilanjutkan dengan sa'i tujuh kali antara Safa dan Marwah, dan ditutup dengan tahallul (memotong atau mencukur rambut). Umrah pertama selesai. Alhamdulillah.
Tersasar di Terminal yang Salah
Setelah menunaikan umrah dan salat Subuh, saya dan istri memutuskan untuk kembali ke hotel. Di sinilah petualangan tak terduga pertama kami dimulai.
Karena kelelahan dan kurang konsentrasi, kami keliru memasuki terminal bus di sisi tenggara Masjidil Haram — terminal yang diperuntukkan bagi jamaah dari Tiongkok, Rusia, Afghanistan, Uzbekistan, dan negara-negara sekitarnya. Begitu masuk, kami tidak bisa mundur. Ribuan jamaah sudah mengantri rapat di belakang kami, tidak mungkin ditembus.
Tidak ada pilihan selain pasrah mengikuti alur antrean selama kurang lebih 30 menit. Jamaah dari berbagai negara bercampur baur — bahasa yang terdengar pun beragam, mulai dari Mandarin, Rusia, hingga Turki. Akhirnya kami sampai di halte bus, tapi tentu saja bus yang datang bukan Bus Shalawat yang menuju ke sektor kami. Dengan sedikit berbahasa Arab seadanya, kami bertanya kepada petugas dan akhirnya diarahkan untuk berjalan kembali ke Terminal Syib Amir yang seharusnya.
Pelajaran berharga di hari pertama: jangan terlalu percaya diri soal arah ketika sedang kelelahan. Sejak saat itu, saya selalu memastikan bertanya kepada petugas atau jamaah lain sebelum memasuki terminal mana pun.
Musim Panas yang Tidak Main-main
Ibadah haji tahun ini berlangsung di puncak musim panas. Azan Subuh berkumandang pukul 04.10, sementara Maghrib baru masuk pukul 19.00 — artinya siang yang panjang dengan terik yang luar biasa. Di siang hari, suhu udara mencapai 47 derajat Celsius. Yang lebih mengejutkan, malam hari pun tidak terasa sejuk — angin yang berhembus justru terasa panas, seperti berdiri di depan mulut oven.
Saya sempat berpikir: bagaimana mungkin udara malam bisa sepanas ini? Ternyata kombinasi antara radiasi panas dari gedung-gedung beton yang menyerap panas sepanjang hari, ditambah angin kering dari gurun, membuat suhu malam tetap tinggi — sekitar 35–38 derajat Celsius. AC di kamar hotel nyaris tidak pernah mati.
Dokter Kloter terus mengingatkan agar jamaah memperbanyak minum untuk menghindari dehidrasi. Oralit menjadi minuman wajib untuk menjaga keseimbangan elektrolit. Setiap hari, saya memastikan minum setidaknya 3–4 liter air. Kami juga dianjurkan untuk lebih banyak beristirahat dan menyimpan stamina untuk puncak haji yang dijadwalkan mulai 6 Zulhijjah atau 4 Juni. Salat berjamaah dianjurkan cukup di masjid hotel saja, hanya sesekali ke Masjidil Haram — semua demi menjaga kondisi tubuh.
Beberapa jamaah — terutama yang lansia — sempat mengalami gejala heat exhaustion seperti pusing, mual, dan lemas. Alhamdulillah, tim kesehatan kloter sangat responsif dalam memberikan pertolongan pertama dan obat-obatan yang dibutuhkan.
Di balik terik yang menyengat itu, ada satu keuntungan kecil yang kami syukuri: cucian cepat sekali kering. Kurang dari satu jam, pakaian yang dijemur di rooftop hotel sudah kering sempurna. Bahkan ada jamaah yang bercanda, "Di sini tidak perlu mesin pengering, cukup jemur 30 menit sudah kering seperti kerupuk."
Urusan Cuci-Mencuci
Di rooftop hotel tersedia belasan mesin cuci yang bisa digunakan jamaah secara gratis. Pagi hari biasanya sudah ramai — antrean mesin cuci pun tidak terhindari. Beruntung, di setiap lantai juga tersedia mesin cuci, sehingga saya lebih sering mencuci di lantai kamar sendiri daripada naik ke rooftop.
Penggunaan mesin cuci sangat sederhana: masukkan pakaian, tuang deterjen (disediakan gratis di setiap lantai), pilih mode pencucian, dan tekan tombol start. Satu siklus pencucian memakan waktu sekitar 30–40 menit. Setelah selesai, pakaian tinggal dijemur di jemuran yang sudah tersedia.
Satu penyesalan kecil: saya membawa terlalu banyak pakaian. Karena pakaian kering begitu cepat, saya lebih sering langsung memakai baju dan sirwal yang baru selesai dicuci — sehingga beberapa pakaian tidak sempat tersentuh sama sekali. Kalau bisa diulang, saya cukup bawa 3–4 pasang pakaian saja, sisanya untuk ruang koper oleh-oleh.
Perlu dicatat: mesin cuci hanya tersedia di hotel-hotel di Mekkah. Di Madinah, mayoritas hotel tidak menyediakan fasilitas ini, sehingga jamaah harus menggunakan jasa laundry dengan tarif sekitar 5–10 riyal per kilogram.
Sistem Piket Makan: Solusi Sederhana yang Efektif
Sebagai ketua regu, salah satu tanggung jawab saya adalah memastikan seluruh anggota regu makan tepat waktu. Awalnya, setiap ketua regu harus mengambil jatah makan di dapur untuk kemudian dibagikan kepada anggotanya masing-masing — setiap hari, tanpa kecuali. Ini cukup melelahkan, terutama jika harus bolak-balik naik-turun tangga atau lift yang sering penuh sesak.
Saya kemudian berinisiatif mengusulkan sistem piket kepada para ketua regu lain di Rombongan 7. Dengan sistem ini, setiap ketua regu hanya bertugas satu hari — tapi di hari tersebut ia bertanggung jawab mendistribusikan makanan untuk seluruh 40 anggota rombongan. Di tiga hari berikutnya, giliran ketua regu lain yang bertugas, dan ia bisa beristirahat.
Alhamdulillah, seluruh anggota Rombongan 7 sangat kompak. Makanan selalu terdistribusi tepat waktu. Menu pun cukup bervariasi — bergantian antara ayam, ikan, dan daging, disertai sayuran yang beragam. Porsinya cukup mengenyangkan.
Belanja di Mekkah: Dari Pasar Kaget hingga Supermarket
Di sekitar hotel, banyak toko yang menjual berbagai kebutuhan — dari makanan dan minuman, pakaian, hingga oleh-oleh. Untuk kebutuhan camilan sehari-hari, saya biasa mampir ke toko kecil yang terletak persis di samping hotel. Di sana tersedia berbagai makanan ringan, minuman dingin, buah-buahan segar, dan kebutuhan harian lainnya. Harga relatif wajar, meski sedikit lebih mahal dibanding supermarket.
Kalau ingin belanja dalam jumlah lebih banyak, ada dua pilihan yang sering saya kunjungi: Supermarket Bin Dawood sekitar 500 meter dari hotel, dan Abraj Supermarket di lantai 4 Zamzam Tower. Kedua supermarket ini menjual hampir semua kebutuhan: dari air mineral, susu, yogurt, kurma berbagai jenis, hingga produk-produk halal dari berbagai negara. Harganya kompetitif dan kualitasnya terjamin.
Untuk pakaian dan oleh-oleh, Pasar Ka'kiyah adalah surga — pilihan melimpah dengan harga yang bisa sangat murah, asalkan tidak malu untuk menawar. Saya membeli abaya untuk istri seharga 50 riyal yang awalnya ditawarkan seharga 120 riyal. Kuncinya: sabar dan jangan terburu-buru menunjukkan minat yang terlalu besar.
Yang paling menghibur adalah pasar kaget yang sering muncul di sekitar hotel, biasanya ramai di pagi hari. Para pedagang menggelar dagangannya di atas kain di trotoar atau badan jalan. Begitu ada polisi yang berpatroli, mereka dengan sigap membungkus seluruh dagangan dan berlarian menghindar — mirip pedagang kaki lima di Indonesia. Menyaksikannya, perasaan saya selalu campur aduk — antara geli dan iba. Ternyata di mana pun, perjuangan pedagang kecil selalu sama.
Soal Pembayaran dan Kurs
Soal pembayaran, sebagian besar pedagang menerima rupiah dengan kurs rata-rata Rp5.000 per riyal. Saya pribadi lebih memilih membayar dengan kartu debit atau kartu kredit saat berbelanja di toko atau supermarket, karena kurs yang didapat bisa lebih menguntungkan — sekitar Rp4.400 per riyal. Selisih Rp600 per riyal ini cukup signifikan jika belanja dalam jumlah besar.
Namun, tidak semua toko menerima pembayaran non-tunai, sehingga beberapa kali saya tetap harus tarik tunai di ATM ANB atau Al Rajhi. Kartu ATM BSI bisa digunakan di kedua mesin ATM tersebut tanpa biaya admin. Sangat membantu.
Satu tips: jangan menukar uang terlalu banyak di money changer. Lebih baik gunakan kartu debit/kredit sebanyak mungkin, lalu tarik tunai secukupnya saja untuk keperluan yang benar-benar membutuhkan uang cash.
Hari-hari pertama di Mekkah adalah masa penyesuaian — dengan cuaca, dengan rutinitas baru, dengan lingkungan yang asing namun penuh berkah. Setiap langkah terasa berat di tengah panas yang menyengat, tapi setiap kali melihat Ka'bah, semua lelah sirna.
Bersambung ke Bagian Ketiga...
Baca Seri Perjalanan Ibadah Haji 2025
- Dua Belas Tahun Menanti: Perjalanan Panjang Menuju Tanah Suci (Bagian Pertama)
- Tiba di Tanah Suci: Umrah Pertama dan Adaptasi dengan Panas Mekkah (Bagian Kedua)
- Puncak Haji: Enam Jam Terbaik di Arafah dan Ujian di Muzdalifah (Bagian Ketiga)
- Pekan Terakhir di Tanah Suci: Ziarah, Nostalgia, dan Perpisahan dengan Baitullah (Bagian Empat)
- Madinah: Kota Penuh Kedamaian dan Kerinduan Abadi (Bagian Kelima - Penutup)
0 Komentar