Sempat beredar kabar bahwa haji tahun ini akan menjadi haji akbar, karena wuquf di Arafah diprediksi bertepatan dengan hari Jumat. Tapi pemerintah Kerajaan Arab Saudi menetapkan 1 Zulhijjah jatuh pada Rabu, 28 Mei 2025 — sehingga Hari Arafah jatuh pada Kamis, 5 Juni 2025. Meski bukan haji akbar, keutamaan wuquf pada 9 Zulhijjah tetaplah sangat besar dan tidak berkurang sedikit pun. Rasulullah ï·º bersabda, "Haji adalah Arafah" — artinya, inti dari seluruh rangkaian ibadah haji terletak pada wuquf di padang ini.
Persiapan Spiritual Menjelang Prime Time Kehidupan
Untuk mempersiapkan diri, saya mempelajari fadhilah wuquf dan rangkaian puncak haji dari berbagai video para asatidz — Khalid Basalamah, Syafiq Riza Basalamah, Ammi Nur Baits, Oemar Mita, Firanda Andirja, Subhan Bawazier, hingga Adi Hidayat. Dari sana saya semakin yakin bahwa wuquf di Arafah adalah prime time yang mungkin hanya bisa saya rasakan sekali seumur hidup — dan tidak boleh tersia-siakan satu detik pun.
Saya mencatat doa-doa yang ingin dipanjatkan, menyiapkan daftar nama keluarga dan kerabat yang menitipkan harapan, dan memantapkan niat bahwa enam jam di Arafah ini harus saya manfaatkan sepenuh hati. Tidak ada ruang untuk lengah.
8 Zulhijjah: Berangkat Menuju Arafah
Salah satu sunnah di puncak haji adalah Hari Tarwiyah pada 8 Zulhijjah — jamaah idealnya berangkat ke Mina untuk mabit semalam sebelum kemudian menuju Arafah. Namun Kementerian Agama tidak memfasilitasi tarwiyah tahun ini, dengan pertimbangan utama soal mobilisasi ratusan ribu jamaah dalam waktu bersamaan. Jamaah yang ingin melakukannya secara mandiri harus membuat pernyataan menanggung risiko sendiri.
Sekitar pukul 12.00 siang kami mendapat panggilan untuk bersiap, sudah dalam keadaan berihram. Pukul 14.30, sembilan bus mengangkut 393 jamaah Kloter 28 UPG menuju Arafah. Perjalanan yang seharusnya hanya 30 menit terasa lebih lama karena arus lalu lintas mulai padat. Pukul 16.00, kami tiba dan langsung diarahkan masuk ke tenda.
Di dalam tenda, kasur-kasur kecil sudah tertata rapat — lebih dari 300 orang berbagi satu ruangan, nyaris tanpa ruang kosong. Bahkan salat berjamaah pun harus dilakukan di atas kasur, karena tidak ada celah lantai yang tersisa. Suhu di dalam tenda sangat panas meski kipas angin terus berputar. Tapi semua itu tidak mengurangi semangat kami untuk menyambut Hari Arafah esok hari.
9 Zulhijjah: Enam Jam Terbaik dalam Hidup
Pagi hari tanggal 9 Zulhijjah, persiapan wuquf dimulai. Kasur-kasur kami tumpuk ke bagian tengah dan tepi tenda, membuka ruang untuk membuat saf salat dan doa. Jamaah mulai berwudu dan mempersiapkan diri secara fisik dan mental.
Khutbah wuquf dibawakan oleh Ustaz Abdurrahman Bahmid, seorang ulama dari Gorontalo yang turut menjadi jamaah Kloter 28. Beliau mengingatkan kami tentang makna agung hari ini — hari yang di dalamnya Allah menurunkan ayat "Al-yauma akmaltu lakum dinakum" (pada hari ini Aku sempurnakan agama kalian), hari yang di dalamnya Allah membebaskan paling banyak hamba-Nya dari api neraka.
Begitu waktu Zuhur tiba, azan dikumandangkan — dan salat Zuhur serta Asar dilaksanakan secara qasar dan jamak takdim dengan dua kali iqamah, mengikuti contoh Rasulullah ï·º saat beliau wuquf di Arafah.
Setelah salat, doa bersama dipimpin oleh Ustaz Muhammad Nawir Thamrin, sebelum kemudian dilanjutkan dengan doa mandiri oleh masing-masing jamaah.
Inilah momen yang selama ini kami bayangkan. Dalam keyakinan kami, tidak ada doa yang dipanjatkan di Hari Arafah yang tidak diijabah oleh Allah ï·». Hari ini adalah hari terbaik dalam setahun — hari di mana Allah mencatatkan paling banyak hamba-Nya yang dibebaskan dari api neraka. Bagi umat Islam yang tidak berhaji pun, puasa di Hari Arafah menghapus dosa setahun sebelum dan sesudahnya. Maka bisa dibayangkan betapa agungnya pahala bagi yang wuquf langsung di Padang Arafah.
Selama enam jam wuquf, saya fokus memanjatkan doa — untuk diri sendiri, orang tua, anak-anak, keluarga besar, serta rekan dan kerabat yang menitipkan harapan mereka. Saya berdoa untuk keselamatan dunia akhirat, kesehatan, rezeki, keberkahan ilmu, amanah jabatan, dan pengampunan dosa. Setiap nama yang saya sebutkan terasa begitu dekat — seolah mereka semua hadir bersama saya di padang suci ini.
Karena ada larangan keluar tenda antara pukul 10.00 hingga 16.00 WAS untuk menghindari heat stroke, saya baru bisa keluar sekitar pukul 16.30. Saya menggelar tikar di lorong depan tenda dan mengulang kembali doa-doa yang sebelumnya sudah saya panjatkan di dalam. Sekitar pukul 17.00, saya meminta istri untuk ikut keluar dan berdoa bersama.
Sensasinya tidak bisa saya ungkapkan sepenuhnya dengan kata-kata. Berdua bersama istri, berdoa di bawah langit terbuka Padang Arafah, di saat-saat terbaik yang Allah sediakan untuk hamba-Nya. Meski terik masih sangat menyengat — suhu mencapai 42 derajat Celsius — saya bertahan di luar tenda hingga azan Magrib berkumandang pukul 19.00. Tidak ingin menyia-nyiakan satu detik pun dari injury time Hari Arafah.
Di sekeliling kami, ribuan jamaah juga tenggelam dalam doa mereka masing-masing. Ada yang menangis tersedu-sedu, ada yang berdoa dengan suara lantang, ada yang diam khusyuk dengan air mata berlinang. Semua orang tahu: momen ini mungkin tidak akan terulang lagi.
Bagi saya, enam jam itu adalah enam jam terbaik dalam hidup saya. Dan kemungkinan besar, hanya akan terjadi sekali.
Muzdalifah: Malam yang Penuh Ujian
Setelah wuquf selesai, jamaah bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit — menginap semalaman sambil mengambil batu kerikil untuk melempar jumrah. Tahun ini kembali diterapkan skema murur bagi jamaah lansia dan yang berisiko tinggi — mereka hanya melintasi Muzdalifah di atas bus tanpa turun.
Rencananya, jamaah murur diberangkatkan pukul 19.00 dan non-murur pukul 22.00. Kenyataannya, seluruh jamaah baru bisa terangkut meninggalkan Arafah sekitar pukul 01.00 dini hari — sehingga tidak ada jamaah Kloter 28 UPG yang sempat mabit di Muzdalifah. Semua akhirnya hanya murur, melewati Muzdalifah di atas bus selama kurang lebih tiga jam di tengah kemacetan yang luar biasa parah.
Kami bahkan melaksanakan salat Subuh dengan cara duduk di kursi bus — sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tidak sedikit jamaah — termasuk yang lansia — harus berdiri sepanjang perjalanan karena tidak kebagian tempat duduk. Suasana di dalam bus pengap dan panas. Tapi semua itu kami terima dengan sabar, karena ini bagian dari ujian di perjalanan haji.
Keesokan harinya kami membaca berita: ada jamaah yang berdiri menunggu bus di Muzdalifah hingga tiga jam, pagar roboh karena jamaah berdesakan, bahkan beberapa orang pingsan. Banyak yang akhirnya memilih berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina — jarak sekitar 7 kilometer — demi tidak terjebak kemacetan. Alhamdulillah, kami masih bisa sampai Mina dengan selamat meski tanpa sempat merasakan kekhusyukan bermalam di Muzdalifah.
10 Zulhijjah: Lontar Jumrah dan Tahallul
Pukul 05.12, bus kami tiba di Sektor 604, Mina.
Ada kabar yang sebelumnya sempat memberi kami ketenangan: jamaah dari hotel di kawasan Raudhah dan Syisyah — termasuk Kloter 28 UPG — dijadwalkan mengikuti skema Tanazul, yaitu tetap menginap di hotel selama hari Tasyrik karena kapasitas tenda Mina yang sudah melebihi batas. Tapi pada 2 Juni 2025, Kemenag mengumumkan skema tersebut ditunda atas kebijakan Pemerintah Arab Saudi. Di lapangan, tenda Mina ternyata tetap tidak mampu menampung seluruh jamaah kloter kami — sehingga kami memutuskan untuk kembali ke hotel dengan tanazul mandiri, dengan konsekuensi menanggung konsumsi sendiri selama hari Tasyrik.
Pukul 06.00 pagi tanggal 10 Zulhijjah, kami berangkat dari tenda Mina menuju Jamarat untuk melontar jumrah Aqabah — tujuh butir batu, satu-satunya lontaran di hari ini. Jarak sekitar 4 kilometer kami tempuh dengan berjalan kaki melalui Terowongan King Fahd yang ber-AC dan dilengkapi jalur khusus pejalan kaki. Lelah nyaris tidak terasa — berjalan bersama ratusan ribu jamaah dari seluruh penjuru dunia dalam semangat yang sama membuat setiap langkah terasa ringan.
Pemandangan di sepanjang jalan sungguh luar biasa: jamaah dari berbagai negara dengan pakaian ihram yang seragam, namun membawa doa dan harapan yang beragam. Ada yang berjalan sambil berdzikir, ada yang saling berpegangan tangan agar tidak terpisah, ada yang mendorong kursi roda anggota keluarga mereka yang lanjut usia. Semua bersatu dalam satu tujuan: menunaikan rukun Islam yang kelima.
Setelah lontar jumrah, kami melanjutkan jalan kaki sekitar 2 kilometer kembali ke hotel. Setibanya, saya langsung menyeberang ke barbershop di depan hotel untuk tahallul awal — cukur gundul. Jika setelah umrah tarifnya 10 riyal untuk potong pendek, kali ini tarifnya sudah naik menjadi 25 riyal. Saya coba menawar — tapi sang tukang cukur dengan santai menjelaskan bahwa seluruh barbershop di kawasan itu sudah sepakat menetapkan harga yang sama. Percuma menawar. Hukum ekonomi supply and demand berlaku sempurna di sini. Hehehe.
Mabit di Sekitar Jamarat: Dari Kucing-kucingan hingga Masjid Al-Khayf
Karena tidak mabit di tenda Mina, kami harus melaksanakan mabit di sekitar area Jamarat sebelum lontar untuk hari Tasyrik (11–13 Zulhijjah). Kami mengambil pendapat bahwa mabit minimal adalah menghabiskan separuh malam — sekitar 4 jam 34 menit berdasarkan waktu antara Magrib (19.02 WAS) dan Subuh (04.10 WAS).
Malam pertama (11 Zulhijjah): Kami berjalan kaki dari hotel menuju Jamarat melalui Terowongan King Fahd — sekitar 1,2 kilometer. Tiba pukul 20.30, kami menggelar tikar di tepi jalan tidak jauh dari gedung eskalator, berniat mabit sambil menunggu waktu lontar. Belum genap satu jam, para askar (petugas keamanan) meminta kami pindah — kami dianggap menghalangi arus pergerakan jamaah. Kami berpindah ke titik lain, dan begitu seterusnya — kucing-kucingan dengan askar sepanjang malam. Setiap kali kami mulai nyaman di satu tempat, ada askar yang datang dan meminta kami pindah. Alhamdulillah setelah lebih dari empat jam berkeliling mencari tempat, lontaran jumrah untuk 11 Zulhijjah pun terlaksana.
Malam kedua dan ketiga (12–13 Zulhijjah): Belajar dari pengalaman malam pertama yang melelahkan — panas, outdoor, dan kucing-kucingan — saya memutuskan mencari tempat mabit yang lebih nyaman. Pilihan jatuh pada Masjid Al-Khayf, masjid bersejarah yang terletak sekitar 300 meter dari Jamarat.
Masjid Al-Khayf memiliki nilai historis yang sangat tinggi: di tempat inilah Rasulullah ï·º pernah salat ketika beliau berhaji, dan konon lebih dari 70 nabi pernah salat di lokasi yang sama. Tapi meski dekat di peta, untuk sampai ke sana saya harus berjalan memutar lebih dari 5 kilometer dari hotel karena tidak ada akses langsung.
Jauh — tapi terbayar lunas begitu masuk ke dalam masjid. Penuh sesak dengan ribuan jamaah dari berbagai negara, tapi suasananya sejuk luar biasa karena ber-AC penuh. Karpet tebal dan bersih, lampu kristal yang indah, dan mihrab yang megah menciptakan suasana khusyuk yang tidak bisa saya dapatkan di luar ruangan. Dari Masjid Al-Khayf ke Jamarat hanya butuh 10 menit berjalan kaki. Pilihan yang tepat.
Tawaf Ifadah dan Sa'i: Menutup Rangkaian Puncak Haji
Sebagai penutup rangkaian puncak haji, tawaf ifadah dan sa'i kami laksanakan pada Rabu dini hari, 11 Juni 2025 — menunggu hingga kepadatan di Masjidil Haram agak berkurang. Kami sengaja memilih waktu setelah tengah malam, karena pengalaman menunjukkan bahwa di jam-jam tersebut jamaah sudah mulai berkurang dan tawaf bisa dilakukan dengan lebih khusyuk.
Di Masjidil Haram, kami diarahkan untuk tawaf di lantai 2. Sebelum memulai, saya ragu apakah wudu saya masih sah setelah perjalanan panjang dari hotel. Saya memutuskan untuk turun ke WC No. 3 di depan Zamzam Tower untuk berwudu ulang. Dan dari sana — alhamdulillah — petugas justru mengarahkan saya untuk tawaf di pelataran Ka'bah langsung, bukan di lantai atas.
Ini adalah rezeki yang tidak terduga. Tawaf di pelataran — dengan Ka'bah begitu dekat — memberikan pengalaman spiritual yang jauh lebih dalam dibandingkan tawaf di lantai atas. Setiap putaran, saya bisa melihat dengan jelas Hajar Aswad, Rukun Yamani, dan dinding Ka'bah yang megah. Istri saya menangis sepanjang tawaf — begitu pula saya.
Setelah selesai tawaf, kami melanjutkan dengan sa'i antara Safa dan Marwah. Tujuh kali bolak-balik menempuh jarak sekitar 450 meter per putaran — total hampir 3,2 kilometer. Kaki sudah lelah, tapi hati dipenuhi rasa syukur yang luar biasa.
Tawaf dan sa'i pun terlaksana. Tidak lama setelah selesai, azan Subuh berkumandang. Kami melaksanakan salat Subuh berjamaah di Masjidil Haram — menutup rangkaian ibadah puncak haji dengan sempurna.
Rangkaian puncak haji yang dimulai dari Arafah, Muzdalifah, Mina, dan Jamarat, hingga ditutup dengan tawaf ifadah di pelataran Ka'bah — semuanya telah dilalui. Dengan segala kelelahan, ujian, dan keindahan yang datang bersama-sama.
Alhamdulillah 'ala kulli hal.
Bersambung ke Bagian Keempat...
0 Komentar