Madinah: Kota Penuh Kedamaian dan Kerinduan Abadi (Bagian Kelima - Penutup)

Karena saya masuk jamaah haji gelombang kedua, ziarah ke Kota Madinah dilaksanakan setelah puncak haji. Setelah kurang lebih 30 hari berada di Kota Mekkah, tibalah saatnya kami berpindah ke Kota Madinah. Sedih sekali rasanya harus meninggalkan Mekkah — kota di mana Ka'bah berdiri megah, tempat kami menunaikan rukun haji yang telah lama dinanti. Tapi di sisi lain, hati sudah tidak sabar ingin tiba di Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah ï·º.

Kedua kota suci ini punya karakternya masing-masing. Jika Mekkah terasa menggetarkan — penuh khauf dan keagungan yang membuat jiwa berguncang setiap kali memandang Ka'bah — maka Madinah jauh lebih menenangkan, penuh mahabbah dan kedamaian yang memeluk hati seperti pelukan seorang ibu. Mekkah adalah kota wahyu, tempat Islam lahir. Madinah adalah kota hijrah, tempat Islam tumbuh dan bersemi.

Perjalanan Panjang Mekkah–Madinah: Menelusuri Jejak Hijrah

Kami berangkat menuju Madinah pada hari Ahad, 22 Juni 2025, dengan menggunakan bus. Perjalanan dari Kota Mekkah ke Madinah memakan waktu kurang lebih 7 jam — kami berangkat sekitar pukul 08.00 pagi dan tiba di Madinah tepat waktu salat Asar.

Sebenarnya, perjalanan Mekkah ke Madinah juga dapat ditempuh dengan kereta cepat Haramain selama kurang lebih dua jam saja. Tapi untuk jemaah haji reguler, transportasi yang disediakan adalah bus ber-AC yang cukup nyaman.

Sepanjang perjalanan, tidak ada pemandangan yang terlalu menarik — di kanan-kiri hanya pegunungan gersang yang tandus, gurun pasir yang membentang luas, dan sesekali terlihat beberapa pom bensin serta rest area. Tapi justru di tengah keheningan perjalanan itu, saya terbayang: bagaimana dulu Rasulullah ï·º ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah hanya dengan mengendarai unta?

Jarak 450 kilometer yang kami tempuh dengan bus ber-AC selama 7 jam, dulu ditempuh Rasulullah ï·º dan para sahabat dengan berjalan kaki dan naik unta selama 8–12 hari, melewati jalanan berbatu, terik gurun yang menyengat, risiko serangan dari musuh, dan tanpa kepastian tentang keselamatan. Mereka meninggalkan tanah kelahiran, harta benda, bahkan keluarga — demi tegaknya Islam. Dan kini, kami yang duduk nyaman di bus ber-AC ini adalah buah dari pengorbanan mereka.

Hati ini tercekat. Rasa syukur yang luar biasa memenuhi dada.

Hotel Safwat Al Madinah: Dekat Masjid, Dekat dengan Ketenangan

Selama di Madinah, kami menetap di Hotel Safwat Al Madinah, yang letaknya di sebelah utara Masjid Nabawi. Berbeda dengan di Mekkah — di mana hotel kami berjarak 3,5 kilometer dari Masjidil Haram — hotel di Madinah ini sangat dekat dengan Masjid Nabawi. Hanya 3 menit berjalan kaki dari hotel, kami sudah tiba di Gerbang Nomor 338, yang posisinya selurus dengan pintu masjid khusus jamaah perempuan.

Pintu 388 ini cukup ikonik di mata jamaah Indonesia, diberi julukan Pintu Romantis karena biasa menjadi meeting point suami dan istri yang baru selesai melaksanakan shalat. Maklum, jamaah laki-laki dan perempuan masuk dari pintu yang berbeda, sehingga setelah salat selesai, mereka harus bertemu di luar masjid. Pintu 388 ini menjadi tempat favorit untuk berkumpul kembali.

Karena lokasinya sangat dekat dengan hotel, salat lima waktu kami laksanakan di Masjid Nabawi. Ini berbeda dengan ketika di Mekkah, di mana kami lebih banyak salat di musala hotel karena jarak ke Masjidil Haram yang jauh dan butuh effort lebih besar untuk bisa tiba ke sana — belum lagi harus naik Bus Shalawat yang kadang penuh sesak.

Rasulullah ï·º bersabda, "Salat di masjidku ini lebih utama daripada seribu kali salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram." (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, satu kali salat di Masjid Nabawi setara dengan 1.000 kali salat di masjid lain. Kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.

Masjid Nabawi: Suasana yang Adem dan Penuh Kedamaian

Bahagia sekali rasanya bisa kembali merasakan salat di Masjid Nabawi. Terakhir salat di masjid ini ketika saya menunaikan ibadah umrah di tahun 2012 — 13 tahun yang lalu. Suasananya yang adem membuat kami betah berlama-lama di dalam masjid. Berbeda dengan Masjidil Haram yang terasa panas meski sudah ber-AC penuh, Masjid Nabawi terasa sejuk dan nyaman — baik di dalam maupun di pelataran luar.

Arsitektur Masjid Nabawi sangat megah dan indah. Kubah hijaunya yang ikonik (Qubah Khadra) berdiri tepat di atas lokasi makam Rasulullah ï·º, menjadi penanda yang terlihat dari mana pun di kota Madinah. Karpet hijau yang tebal dan lembut, lampu kristal besar yang berkilau, kaligrafi Arab yang indah di dinding, serta tiang-tiang marmer dengan ukiran yang detail — semuanya menciptakan atmosfer spiritual yang luar biasa.

Sebelum waktu salat, banyak majelis-majelis taklim di dalam masjid yang dibina oleh para syaikh yang mengajarkan tentang Al-Qur'an dan hadis. Setiap ada jamaah yang lewat, syaikh tersebut melambaikan tangan — isyarat ajakan untuk duduk di majelis Qur'an tersebut. Luar biasa sensasi belajar Al-Qur'an langsung di Masjid Nabi, di tempat yang sama di mana para sahabat dulu menimba ilmu dari Rasulullah ï·º.

Di antara waktu salat Maghrib dan Isya, ada banyak kajian yang diselenggarakan di Masjid Nabawi dalam berbagai bahasa — Arab, Inggris, Urdu, Turki, dan Indonesia. Kajian yang paling ramai ada di Pintu 19, dalam bahasa Indonesia, yang dibawakan oleh Ustaz Ariful Bahri. Ternyata yang menyimak kajian bukan hanya jamaah dari Indonesia, tapi jamaah dari Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan yang bisa berbahasa Melayu juga ikut meramaikan kajian ini. Majelis ilmu yang penuh berkah, di tempat yang juga penuh berkah.

Raudhah: Taman Surga di Dunia

Salah satu agenda wajib di Masjid Nabawi adalah ziarah ke Raudhah — taman kecil yang terletak di antara mimbar dan makam Rasulullah ï·º. Rasulullah ï·º bersabda, "Antara rumahku dan mimbarku ada salah satu taman dari taman-taman surga." (HR. Bukhari dan Muslim).

Raudhah adalah area seluas sekitar 22 x 15 meter yang dibedakan dengan karpet hijau yang lebih terang dibandingkan dengan karpet hijau di area masjid lainnya. Di sinilah para jamaah berlomba-lomba untuk salat sunnah dan berdoa, karena doa yang dipanjatkan di tempat ini dijamin mustajab — dikabulkan oleh Allah ï·».

Ketika umrah dulu (tahun 2012), setiap saat kami bisa berkunjung ke Raudhah, bahkan saya pernah berhasil stay di Raudhah dari Maghrib sampai Isya. Namun sekarang sudah tidak memungkinkan lagi karena jumlah jamaah yang kian padat. Jamaah haji yang ingin ziarah ke Raudhah diatur jadwalnya per kloter — itupun kami tidak bisa terlalu lama di dalam Raudhah. Waktu yang diberikan hanya cukup untuk salat sunnah dua rakaat dan berdoa sebentar — sekitar 10–15 menit saja.

Namun di luar jadwal yang ditentukan per kloter, kami masih bisa berkunjung ke Raudhah dengan melakukan reservasi jadwal di aplikasi Nusuk. Alhamdulillah, saya sempat beberapa kali ke Raudhah melalui aplikasi Nusuk.

Caranya cukup mudah: buka aplikasi Nusuk, pilih menu Request to visit Rawdah, pilih tanggal dan waktu yang tersedia, lalu klik submit. Begitu reservasi terkonfirmasi, kami tinggal menunjukkan barcode ke petugas untuk antre masuk ke Raudhah sesuai jadwal yang kami pesan. Apabila ingin melakukan reschedule juga dimungkinkan melalui aplikasi yang sama.

Momen untuk masuk ke Raudhah saya manfaatkan untuk berdoa sebanyak-banyaknya. Saya berdoa untuk diri sendiri, istri, anak-anak, orang tua, keluarga besar, rekan kerja, sahabat, dan semua orang yang pernah berbuat baik kepada saya. Saya berdoa untuk kesehatan, rezeki, keberkahan ilmu, amanah jabatan, keselamatan dunia akhirat, dan pengampunan dosa. Air mata mengalir tanpa bisa saya tahan. Hati terasa begitu dekat dengan Allah, seolah doa-doa yang dipanjatkan langsung didengar dan dijawab.

Ziarah ke Makam Rasulullah ï·º: Momen Paling Haru

Walaupun akses ke Raudhah terbatas, untuk sekadar melintas dan ziarah ke makam Rasulullah ï·º yang terletak di samping Raudhah dapat kami lakukan kapan saja. Di bagian depan masjid (bagian selatan), terdapat banyak penanda arah yang menunjukkan rute antrean untuk melintas di depan makam Nabi.

Makam Rasulullah ï·º berada di dalam sebuah ruangan tertutup dengan dinding besi berlapis emas yang sangat megah. Di ruangan yang sama juga terdapat makam Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khattab — dua sahabat terbaik Rasulullah ï·º yang mendampingi beliau di dunia, dan kini mendampingi beliau di alam kubur.

Saat melintas di depan makam Rasulullah ï·º, jamaah memberi salam: "Assalamu'alaika ya Rasulullah, assalamu'alaika ya Nabiyallah, assalamu'alaika ya Habibullah." (Semoga kesejahteraan tercurah atasmu wahai Rasulullah, wahai Nabi Allah, wahai Kekasih Allah.)

Hati ini tercekat setiap kali melintas di depan makam beliau. Tidak bisa menahan air mata. Inilah makam orang yang paling mulia di muka bumi. Orang yang telah berjuang keras menyampaikan risalah Islam kepada kita. Orang yang akan memberi syafaat pada hari kiamat nanti. Dan kini, kami berdiri hanya beberapa meter dari makam beliau.

Ya Allah, betapa beruntungnya kami.

Payung Raksasa Masjid Nabawi: Keajaiban Teknologi di Tanah Suci

Salah satu yang ikonik dari Masjid Nabawi adalah ratusan payung raksasa yang mengelilingi masjid ini. Payung-payung otomatis ini mengembang setelah salat Subuh sekitar pukul 05.30 dan menutup kembali secara otomatis setiap menjelang salat Maghrib.

Setiap payung berdiameter sekitar 15 meter dan tingginya mencapai 14 meter ketika terbuka — mampu menaungi sekitar 800 jamaah. Total ada 250 payung yang tersebar di pelataran masjid, mampu menaungi lebih dari 200.000 jamaah sekaligus. Payung-payung ini sangat bermanfaat, khususnya di musim panas seperti saat ini — mengurangi suhu hingga 8 derajat Celsius di area yang dinaunginya.

Melihat momen payung ini mengembang adalah salah satu pengalaman yang cukup seru. Setiap pagi setelah salat Subuh, ratusan payung mulai terbuka secara bersamaan — seperti bunga-bunga raksasa yang mekar di bawah langit Madinah. Prosesnya memakan waktu sekitar 3 menit, dan terdengar suara mekanis yang harmonis dari ratusan motor penggerak yang bekerja serempak.

Selain itu, momen nongkrong sambil minum kopi Barn's di pelataran Masjid Nabawi adalah salah satu hal yang ngangenin dari Kota Madinah. Duduk di bawah naungan payung raksasa, menyeruput kopi hangat sambil memandang kubah hijau Masjid Nabawi, dan merasakan angin sore yang sejuk — momen sederhana yang penuh berkah.

Belanja di Madinah: Godaan yang Tak Terhindarkan

Untuk urusan belanja di Madinah juga banyak pilihan. Di sepanjang jalan dari hotel menuju masjid, berjejer puluhan toko yang menjual segala macam oleh-oleh — kurma Ajwa (kurma khas Madinah yang konon menjadi favorit Rasulullah ï·º), madu hutan, minyak zaitun, parfum oud, tasbih, sajadah, baju gamis, abaya, hingga perhiasan emas dan perak.

Walau di Mekkah sudah puas belanja di Pasar Ka'kiyah, namun di Madinah godaan untuk belanja tidak dapat dihindari. Di Madinah ini saya banyak belanja di Grand Plaza — pusat perbelanjaan 4 lantai yang cukup lengkap dan posisinya tepat di seberang hotel. Perfect! Tidak perlu jauh-jauh, tinggal menyeberang jalan sudah bisa membeli berbagai kebutuhan.

Di lantai dasar Al Noor Plaza terdapat supermarket besar yang menjual berbagai makanan dan minuman. Di lantai 2 dan 3 ada toko pakaian, aksesori, dan oleh-oleh. Di lantai 4 ada food court dengan berbagai pilihan kuliner — mulai dari makanan Arab, India, Turki, hingga makanan cepat saji internasional.

Ziarah Kota Madinah: Menyusuri Jejak Sejarah Islam

Seperti di Mekah, jemaah haji juga mendapatkan fasilitas ziarah Kota Madinah pada tanggal 24 Juni 2025. Ziarah dimulai dengan kunjungan ke Kebun Kurma, di mana kami bisa melihat langsung kebun kurma yang luas dan didampingi penjelasan tentang jenis-jenis kurma serta cara perawatannya.

Setelah itu kami berkunjung ke Jabal Uhud — gunung yang disebut Rasulullah ï·º sebagai gunung yang "mencintai kita dan kita mencintainya". Rasulullah ï·º bersabda, "Ini adalah Gunung Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya." (HR. Bukhari dan Muslim). Di kaki Gunung Uhud inilah terjadi Perang Uhud pada tahun 3 Hijriah (625 M), pertempuran yang menjadi ujian berat bagi kaum Muslimin setelah kemenangan gemilang di Perang Badr.

Kami juga mengunjungi Kompleks Syuhada Uhud, tempat dimakamkannya para syuhada yang gugur dalam Perang Uhud — termasuk Hamzah bin Abdul Muttalib, paman Rasulullah ï·º yang dijuluki sebagai "Singa Allah" karena keberaniannya di medan perang. Total ada 70 syuhada yang dimakamkan di kompleks ini. Kawasan ini menjadi saksi sejarah pertempuran paling heroik 14 abad silam.

Berdiri di kompleks syuhada ini, hati terasa berat. Mereka rela mengorbankan nyawa demi Islam. Dan kini, Islam yang kita nikmati adalah buah dari darah yang mereka tumpahkan.

Ziarah ditutup dengan kunjungan ke Masjid Quba — masjid pertama yang dibangun Rasulullah ï·º setelah tiba di Madinah saat hijrah. Rasulullah ï·º bersabda, "Barangsiapa yang bersuci (berwudu) di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba dan salat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah." (HR. Ahmad, Nasa'i, dan Ibnu Majah).

Alhamdulillah, kami melaksanakan salat sunnah dua rakaat di Masjid Quba — mendapatkan pahala setara umrah. Subhanallah, betapa murahnya Allah memberikan pahala kepada hamba-Nya.

Eksplorasi Mandiri: Masjid Al-Ghamama dan Museum Asshafiyyah

Selain mengikuti ziarah yang disediakan oleh kloter, saya dan istri juga melakukan kunjungan ke beberapa titik lain di Kota Madinah. Pada tanggal 26 Juni 2025, dengan berjalan kaki kami berkunjung ke Masjid Al-Ghamama (Masjid Awan), yang letaknya persis di bagian barat daya Masjid Nabawi — hanya sekitar 500 meter.

Masjid ini berdiri di lokasi yang dulunya merupakan tanah lapang tempat Rasulullah ï·º memimpin salat Idul Fitri, Idul Adha, dan salat Istisqa (salat meminta hujan). Dinamakan Al-Ghamama (awan) karena konon pada suatu hari ketika Rasulullah ï·º salat Istisqa di tempat ini, tiba-tiba datang awan mendung dan turunlah hujan lebat — meski sebelumnya langit sangat cerah dan kemarau panjang melanda Madinah.

Dari Masjid Al-Ghamama, kami berjalan ke Museum Asshafiyyah yang terletak di bagian selatan Masjid Nabawi. Museum ini memiliki banyak fasilitas yang dapat menambah pengetahuan para pengunjung. Terdapat fasilitas yang menyuguhkan gambaran proses penciptaan alam semesta dengan konsep futuristik dan audio visual yang modern.

Kurang lebih selama 35 menit di dalam museum, kami diajak berkeliling menyaksikan hal-hal yang sangat luar biasa: tentang penciptaan alam semesta (dari Big Bang hingga terbentuknya Bumi), tentang fase-fase kehidupan manusia (dari nuthfah hingga kematian), tentang kisah para nabi (dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ï·º), serta gambaran kehidupan di akhir zaman termasuk tanda-tanda kiamat, hari kebangkitan, dan kehidupan di surga dan neraka.

Bertemu Sahabat Lama di Kantor Daker Madinah

Keesokan harinya (27 Juni 2025), saya menerima kunjungan sahabat saya sejak 30 tahun lalu, Kamal Laera, yang bekerja dan berdomisili di Jeddah. Kami berteman sejak SMP, dan terakhir bertemu 12 tahun lalu saat umrah. Pertemuan kembali di Tanah Suci ini terasa sangat istimewa.

Setelah salat Asar, Kamal mengajak saya berkunjung ke Kantor Urusan Haji Indonesia atau yang biasa disebut Kantor Daker Madinah. Jarak kantor Daker dari Masjid Nabawi kurang lebih 2,5 kilometer yang kami tempuh selama 30 menit dengan berjalan kaki.

Kunjungan ke kantor Daker ini menjadi pengalaman seru tersendiri karena saya bisa melihat langsung sudut lain kehidupan di Kota Madinah yang saya lewati selama menuju kantor Daker. Kami melewati perumahan penduduk lokal, pasar tradisional, toko-toko kecil, hingga area perkantoran. Berbeda dengan area sekitar Masjid Nabawi yang ramai jamaah, area ini lebih sepi dan terasa seperti kota pada umumnya.

Petualangan Hop On Hop Off: Keliling Madinah dengan Bus Wisata

Petualangan lebih seru di Kota Madinah berlanjut pada 28 Juni 2025. Karena ingin melihat lebih banyak tentang Kota Madinah, kami membeli tiket bus Hop On Hop Off yang dapat digunakan seharian dengan tarif 80 riyal per orang.

Bus ini memiliki rute keliling dengan 12 titik pemberhentian: Masjid Nabawi, Makam Baqi, Al Manakhah Square, Assalam Gate, Bukit Uhud, Al Noor Mall, Sultanah Road, Masjid Qiblatain, Masjid Quba, Al Khandaq, Al Hijaz Railway Station, Quba Square, dan kembali ke Masjid Nabawi. Satu putaran penuh memakan waktu sekitar 2 jam.

Sekira jam 09.00 pagi, kami menuju ke halte yang letaknya persis di seberang hotel kami. Di pagi itu kami hanya menghabiskan waktu di dalam bus untuk menikmati pemandangan dan tidak turun di setiap titik pemberhentian. Bus tingkat ini memiliki dek terbuka di lantai atas — sehingga kami bisa menikmati pemandangan Kota Madinah dengan lebih leluasa. Angin pagi yang sejuk, pemandangan gedung-gedung modern bercampur dengan bangunan kuno, serta narasi audio guide yang tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia yang menjelaskan setiap lokasi yang dilewati — semuanya membuat perjalanan ini sangat menyenangkan.

Pada siang hari kami kembali naik bus tersebut dan turun di beberapa titik pemberhentian: Al Noor Mall (untuk makan siang dan belanja), Sultanah Road (jalan ikonik dengan deretan toko mewah), dan Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat).

Masjid Qiblatain adalah masjid bersejarah tempat turunnya perintah Allah untuk mengubah arah kiblat dari Baitul Maqdis (Yerusalem) ke Ka'bah (Mekkah). Pada tahun 2 Hijriah, saat Rasulullah ï·º sedang memimpin salat Zuhur di masjid ini, turunlah ayat Al-Qur'an yang memerintahkan perubahan kiblat:

"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram..." (QS. Al-Baqarah: 144)

Rasulullah ï·º yang saat itu sedang berada di rakaat kedua, langsung berbalik arah — dari menghadap utara (Baitul Maqdis) menjadi menghadap selatan (Ka'bah). Para jamaah di belakang beliau juga ikut berbalik. Inilah sebabnya masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain — masjid dengan dua kiblat.

Setelah puas berpetualang di Madinah, kami pun kembali naik bus tersebut ke halte Masjid Nabawi dan tiba sekitar pukul 22.00 — lelah tapi puas. Pengalaman berkeliling kota dengan bus wisata ini memberikan perspektif baru tentang Madinah — bukan hanya sebagai kota suci tempat ziarah, tetapi juga sebagai kota modern yang terus berkembang.

Bersepeda ke Masjid Quba: Pahala Umrah dengan Cara yang Seru

Pada tanggal 29 Juni 2025, saya ingin mendapatkan pahala umrah dengan menunaikan salat sunnah di Masjid Quba. Kali ini saya ke Masjid Quba dengan sepeda listrik yang dapat disewa dengan aplikasi Careem Bike.

Sepeda berwarna hijau ini banyak tersedia di halte khusus sepeda Careem yang tersebar di 165 titik di Kota Madinah. Caranya cukup mudah: buka aplikasi Careem, pilih menu Bike, scan QR code di sepeda, lalu sepeda akan terbuka otomatis dan siap digunakan.

Seru juga rasanya naik sepeda dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba yang jaraknya kurang lebih 4,5 kilometer. Untuk memfasilitasi jamaah yang ingin berkunjung dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba, tersedia jalur khusus yang dapat digunakan oleh pejalan kaki, sepeda, dan golf car. Jalurnya sangat lebar dan aman — terpisah dari jalan raya, dipasangi peneduh di beberapa bagian, dan dilengkapi rambu-rambu yang jelas.

Tarif sewa sepeda bervariasi: paket harian seharga 20 riyal atau paket mingguan seharga 55 riyal. Setelah selesai digunakan, sepeda wajib dikembalikan ke halte khusus sepeda Careem — tidak bisa diparkir sembarangan.

Karena halte sepeda Careem di Masjid Nabawi penuh ketika saya selesai salat di Masjid Quba, saya terpaksa harus mencari halte lain yang masih ada slot kosong untuk parkir sepedanya — sekitar 500 meter dari Masjid Nabawi. Walaupun sedikit lelah bersepeda di hari itu, rasanya puas karena sudah merasakan pengalaman baru di Kota Madinah — dan yang terpenting, mendapatkan pahala umrah dari salat di Masjid Quba.

Perpisahan dengan Madinah: Berat Meninggalkan Kota Tercinta

Dan akhirnya, pada 30 Juni 2025, kami harus meninggalkan Madinah untuk kembali ke tanah air. Sedih rasanya meninggalkan kota ini — kota yang penuh kedamaian, kota yang begitu dekat di hati, kota tempat Rasulullah ï·º diistirahatkan. Namun, di sisi lain, sudah rindu rasanya dengan anak-anak di rumah. Sudah lebih dari sebulan kami berpisah dari mereka.

Pagi-pagi sekali, sebelum bus penjemputan tiba, saya dan istri berjalan ke Masjid Nabawi untuk salat Subuh terakhir. Setelah salat selesai, kami duduk di pelataran masjid — memandang kubah hijau yang megah, mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari para jamaah di sekitar kami, merasakan angin pagi yang sejuk.

Hati ini berat. Kapan lagi bisa kembali ke sini?

Kami berdoa: "Ya Allah, jika Engkau masih memberikan kami umur panjang, rezeki yang cukup, dan kesehatan yang baik, pertemukanlah kami lagi dengan Masjid Nabawi ini. Dan jika tidak, maka pertemukanlah kami dengan Rasulullah ï·º di surga-Mu kelak. Aamiin ya Rabbal 'alamiin."


Refleksi: Pengalaman Spiritual yang Mengubah Hidup

Tidak terasa 40 hari lebih kami berada di Tanah Suci untuk menjalankan kewajiban ibadah haji. Dari Mekkah yang menggetarkan, hingga Madinah yang menenangkan. Dari puncak haji di Arafah yang melelahkan fisik namun menyegarkan jiwa, hingga ziarah ke berbagai tempat bersejarah yang mengingatkan kami pada perjuangan para pendahulu.

Pengalaman spiritual luar biasa yang mungkin hanya bisa kami rasakan sekali seumur hidup. Tapi justru karena itulah pengalaman ini begitu berharga — tidak bisa diulang, tidak bisa digantikan, dan akan terus tersimpan dalam memori hingga akhir hayat.

Kami kembali ke Indonesia bukan lagi sebagai orang yang sama. Haji mengubah perspektif kami tentang kehidupan, tentang prioritas, dan tentang apa yang benar-benar penting. Haji mengajarkan kami tentang kesederhanaan — semua orang, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata, berpakaian sama saat ihram. Haji mengajarkan kami tentang kesabaran — antrean panjang, cuaca panas, kelelahan fisik, semua harus dihadapi dengan sabar. Haji mengajarkan kami tentang syukur — betapa beruntungnya kami bisa menunaikan rukun Islam kelima ini, sementara jutaan Muslim lain masih menunggu giliran atau bahkan tidak mampu sama sekali.

Yang terpenting, haji mengingatkan kami bahwa hidup ini singkat, dan kematian pasti datang. Suatu hari nanti, kami akan meninggalkan dunia ini — seperti Rasulullah ï·º meninggalkan dunia 14 abad lalu. Yang tersisa dari kita adalah amal saleh yang kita lakukan selama hidup.

Maka, bagaimana kita akan mengisi sisa hidup kita?


Doa dan Harapan

Kami berharap bisa membayar kerinduan terhadap Kota Mekkah dan Madinah dengan melaksanakan ibadah umrah setelah ini. Mudah-mudahan bisa dirutinkan setiap tahun — atau setidaknya sesering yang Allah izinkan. Aamiin ya Rabbal 'alamiin.

Bagi saudara-saudaraku yang sedang menunggu giliran berangkat haji, bersabarlah. Waktu tunggu yang panjang adalah ujian kesabaran sekaligus waktu untuk mempersiapkan diri — baik fisik, mental, maupun spiritual. Perbanyak ibadah, perbanyak sedekah, perbanyak istighfar. Jaga kesehatan agar ketika tiba giliran berangkat, tubuh masih kuat untuk menunaikan rangkaian ibadah yang berat.

Bagi yang belum mampu atau belum berkesempatan, jangan berkecil hati. Allah Maha Adil. Bisa jadi ada hikmah kenapa Allah belum mengizinkan kita berangkat. Teruslah berusaha, berdoa, dan bertawakal. Yakinlah bahwa rezeki dan jodoh seseorang dengan Baitullah sudah diatur oleh Allah.

Dan bagi yang sudah menunaikan haji, jaga haji mabrur kalian. Rasulullah ï·º bersabda, "Tanda haji mabrur adalah kembali menjadi orang yang lebih baik daripada sebelumnya." Jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Jadikan haji sebagai turning point untuk memperbaiki diri, meninggalkan dosa-dosa lama, dan memulai lembaran baru yang lebih baik.


Tamat.

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmus shalihat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya, segala kebaikan menjadi sempurna.


Catatan:

Tulisan ini saya persembahkan untuk anak-anak saya — Syauqi, Lana, dan Athirah — agar suatu hari ketika mereka membaca ini, mereka tahu bahwa Abi dan Ummi pernah berjuang ke Tanah Suci untuk berdoa bagi mereka. Semoga kalian tumbuh menjadi anak-anak yang saleh dan salehah, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi sesama, dan kelak mendapatkan kesempatan untuk menunaikan haji dengan kondisi yang lebih baik dari Abi dan Ummi. Aamiin.

Posting Komentar

0 Komentar